Mataram (Suara NTB) – Menteri Perdagangan, Budi Santoso, mengatakan harga sejumlah bahan pokok (Bapok) di Provinsi Nusa Tenggara Barat masih normal bahkan cenderung di bawah acuan harga pemerintah. Hal ini disampaikan setelah melakukan inspeksi mendadak (Sidak) di Pasar Kebon Roek, Ampenan, Mataram.
Menurutnya, murahnya harga sejumlah komoditas itu karena ketersediaan pasokan yang melimpah atau surplus di NTB. Secara rinci, harga komoditas cabai terpantau stabil pada kisaran Rp35 ribu hingga Rp40 ribu per kilogram, jauh di bawah. Harga Acuan Pemerintah (HAP) yang mencapai Rp55 ribu.
Hal serupa juga terlihat pada harga telur ayam yang berada di bawah angka Rp25 ribu, daging ayam ras seharga Rp35 ribu dari acuan Rp40 ribu, bawang merah di kisaran Rp30 ribu dari acuan Rp41,5 ribu, serta bawang putih pada kisaran Rp28 ribu.
Sementara itu, komoditas beras premium dan SPHP terpantau aman terdistribusi sesuai ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET) yakni Rp14,9 ribu per kilogram.
“Jadi semua terkendali. Pasokannya juga cukup. Nah, kemarin kita mengirim cabai ya, cabai dari Jawa Timur ke Halmahera. Nanti kita upayakan karena di sini surplus cabai, kita juga kita bantu untuk kirim ke daerah lain dulu ya,” ujarnya di Pasar Kebon Roek, Kamis (5/11).
Karena NTB bisa mengendalikan ketahanan pangan khususnya pada komoditas hortikultura seperti cabai, pemerintah pusat merancang skema distribusi silang. Surplus pangan dari NTB direncanakan untuk menyuplai wilayah-wilayah lain di Indonesia yang mengalami defisit atau lonjakan harga.
Suplai ini akan dilakukan melalui kolaborasi lintas instansi bersama Bank Indonesia (BI), Badan Pangan Nasional (Bapanas), dan pemerintah daerah, didukung instrumen pemantauan harian melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP).
“Harga di Provinsi NTB, khususnya di Kota Mataram relatif stabil, pasokan terjamin, dan cenderung berada di bawah harga acuan. Saya berterima kasih kepada Ibu Wagub, Pak Wali Kota, BI, Bulog, serta para distributor yang terus bersama-sama memantau dan memastikan pasokan produk mendekati Natal dan Tahun Baru,” katanya.
Selain melakukan sidak, Mendag juga berkunjung ke salah satu UPTD NTB, Bale KITA. Di sana, Mendag meninjau Gerakan Pangan Murah (GPM) dan berdiskusi dengan puluhan UMKM. Pada diskusi itu, Mendag mendorong UMKM NTB bisa tembus pasar internasional. Dalam melakukan ekspor, NTB, katanya masih memiliki keterbatasan fasilitas pelabuhan. Karens itu, sejumlah komoditas asal NTB harus dikirim melalui daerah lain, termasuk Bali sebelum diekspor.
“Kami terus berkomunikasi dengan kementerian terkait. Kemarin juga sudah komunikasi dengan Pak Menteri Perhubungan. Namun, potensi yang ada sekarang kita kembangkan dulu. Yang bisa berjalan, kita jalankan sambil membenahi logistiknya,” terangnya.
Ia menilai, persoalan logistik menjadi salah satu tantangan besar dalam mendorong ekspor produk UMKM. Karena itu, penyelesaiannya membutuhkan kerja sama lintas kementerian dan pemerintah daerah.
Meski begitu, Budi mengaku potensi ekspor UMKM NTB sudah mulai berkembang. Sejumlah pelaku usaha bahkan telah berhasil menembus pasar luar negeri, baik secara mandiri maupun melalui eksportir lain. (era)



