Mataram (Suara NTB) – Memiliki tempat istimewa dalam Sejarah perjalanan mata uang rupiah. Kekayaan alam dan fauna khas daerah ini pernah diabadikan dalam desain uang rupiah, mulai dari ayam hutan hijau dan rusa timur hingga keindahan Danau Segara Anak di Gunung Rinjani.
Semua itu, dipaparkan oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Ricky P. Gozali, saat membuka kegiatan Rupiah dan Pahlawan (Rupawan) tahun 2026 yang digelar di Universitas Mataram, Jumat, 6 November 2026.
Hadir dalam kegiatan ini, Kepala Kantor Perwakilan BI NTB, Hario K. Pamungkas. Sekda NTB, Abul Chaer. Dan stakeholders lainnya.
Jejak NTB itu adalah bukti, bahwa rupiah bukan sekadar alat pembayaran, melainkan juga cerminan sejarah, kekayaan budaya, alam, dan identitas bangsa Indonesia.
Ricky menyebutkan, pada uang pecahan Rp500 tahun 1959 terdapat gambar ayam hutan hijau yang juga hidup di Pulau Lombok. Kemudian, uang pecahan Rp500 tahun 1988 menampilkan rusa timur yang merupakan salah satu fauna identitas NTB.
Sementara itu, jejak NTB paling menarik terlihat pada uang pecahan Rp10.000 emisi 1998. Pada bagian depan uang tersebut terpampang pahlawan nasional Cut Nyak Dien dari Aceh, sedangkan bagian belakangnya menampilkan keindahan Danau Segara Anak di kawasan Gunung Rinjani, Lombok.
“Bayangkan, NTB begitu dekat dengan rupiah. Dalam satu lembar uang, Aceh dan Lombok bisa kita pertemukan. Berbeda pulau dan budaya, tetapi menjadi satu cerita, yaitu Indonesia dalam Rupiah,” ujarnya.
Menurut Ricky, kehadiran simbol NTB dalam desain rupiah memiliki makna lebih dari sekadar gambar. Rupiah menjadi jendela untuk mengenalkan kekayaan dan identitas Indonesia sekaligus merepresentasikan persatuan dan kedaulatan negara.
Karena itu, menjaga rupiah berarti turut menghargai sejarah perjuangan bangsa, menjaga persatuan, serta mempertahankan martabat dan kedaulatan Indonesia.
Ia menegaskan, tugas menjaga rupiah tidak hanya menjadi tanggung jawab Bank Indonesia. BI membutuhkan dukungan pemerintah daerah, perbankan, dunia pendidikan, dunia usaha, dan masyarakat, terutama generasi muda.
BI sendiri terus memastikan ketersediaan uang rupiah dalam jumlah cukup, pecahan sesuai kebutuhan, serta kondisi layak edar hingga wilayah terdepan, terluar, dan terpencil melalui program kas keliling.
Ricky juga mengingatkan bahwa rupiah memiliki dimensi kedaulatan yang sangat penting. Kehadiran mata uang nasional hingga ke seluruh wilayah Indonesia merupakan bagian dari upaya menjaga keutuhan negara.
Dalam kesempatan itu, ia mengajak generasi muda menjadi agen Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah. Caranya dengan mengenali keaslian uang, merawat rupiah, menggunakan rupiah dalam setiap transaksi di Indonesia, baik tunai maupun digital, serta memahami dan menggunakan uang secara bijak.
Rupawan 2026 sendiri merupakan bagian dari rangkaian kegiatan tahunan BI dalam mengevaluasi dan memberikan apresiasi terhadap pengelolaan uang rupiah secara nasional, sekaligus memperluas edukasi CBP Rupiah kepada masyarakat.
“Jangan hanya bermimpi tentang Indonesia yang lebih hebat. Jadilah bagian dari alasan mengapa Indonesia menjadi lebih hebat. Mari kita jaga rupiah, jaga kedaulatan, dan jaga Indonesia,” tandasnya.(bul)



