BerandaHEADLINEHujan Es Guyur Jereweh

Hujan Es Guyur Jereweh


Taliwang (Suara NTB) – Fenomena hujan es mengguyur wilayah Desa Dasan Anyar, Kecamatan Jereweh, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) Kamis, (5/11). Peristiwa ini terjadi pada siang hari dan sempat menarik perhatian warga setempat, karena dianggap sebagai kejadian yang tidak lazim.


Berdasarkan informasi yang dihimpun Suara NTB, butiran es yang jatuh bersama air hujan memiliki ukuran rata-rata sebesar bulir beras. Intensitas hujan yang menyertai fenomena tersebut tidak terlalu deras dan volume butiran es yang menerpa wilayah desa juga tergolong sedikit.


Beruntung, peristiwa ini tidak menimbulkan dampak negatif maupun kerusakan pada infrastruktur dan rumah warga. Kendati demikian, fenomena hujan es yang baru pertama kali terjadi di desa tersebut, memicu rasa penasaran warga. Banyak masyarakat yang antusias dan mengabadikan momen tersebut melalui rekaman video maupun foto.


Menanggapi kejadian ini, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) KSB, Abdullah memastikan,hujan es tersebut tidak menyebabkan kerugian materiil. Ia menyatakan bahwa hingga saat ini tidak ada laporan masuk mengenai kerusakan rumah atau fasilitas umum warga akibat peristiwa tersebut.


“Hujan yang disertai es itu adalah fenomena biasa dari sisi cuaca. Hanya saja karena baru pertama kali terjadi di KSB,sehingga dianggap keanehan oleh warga,” ujar Abdullah saat dikonfirmasi, Jumat (6/11).


Abdullah menjelaskan, bahwa kemunculan fenomena ini sejalan dengan kondisi klimatologis yang sedang berlangsung di wilayah tersebut. Ia mengakui bahwa saat ini KSB sudah memasuki masa transisi perubahan iklim atau pancaroba dari musim kemarau ke musim penghujan.


“Kondisi pancaroba ini yang memicu terjadinya perubahan cuaca,termasuk fenomena hujan es yang terjadi pada siang hari kemarin,” tambahnya.
Pihaknya mengimbau masyarakat untuk tetap mengawasi lingkungan sekitarnya dan meningkatkan kewaspadaan selama masa transisi cuaca ini berlangsung.


Berdasarkan data, fenomena hujan es ini sangat wajar terjadi di Indonesia, terutama pada masa peralihan musim dari kemarau menuju musim hujan seperti saat ini. Kondisi atmosfer yang tidak stabil, dipadu dengan kelembapan udara yang tinggi dan pemanasan permukaan bumi yang ekstrem di siang hari menjadi bahan bakar utama terbentuknya awan Cumulonimbus.(bug)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN












VIDEO