Selong (Suara NTB) – Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Timur (Distan Lotim) memastikan produksi pangan di Lotim tetap berjalan meskipun menghadapi musim kemarau dan anomali iklim yang berlangsung cukup panjang. Kendati demikian, kondisi kekurangan air mulai berdampak terhadap luas lahan yang bisa ditanami dan berpotensi menurunkan produksi pertanian.
Kepala Distan Lotim, Lalu Fathul Kasturi, menjelaskan, karakter pertanian di Lotim memungkinkan petani tetap melakukan aktivitas produksi hingga dua sampai tiga kali musim tanam dalam setahun.
“Karakter daerah kita tetap produksi. Tidak sampai terjadi paceklik. Namun, suka tidak suka, memang ada penurunan produksi karena banyak lahan yang belum bisa ditanami akibat tidak tersedianya air,” jelasnya saat ditemui di Ekas, Kamis (5/11/2026).
Menurutnya, untuk menjaga keberlangsungan produksi pangan, Dinas Pertanian terus melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, terutama instansi yang memiliki kewenangan dalam pengelolaan sumber daya air.
Koordinasi tersebut dilakukan bersama Dinas PUPR melalui bidang pengairan, para pengamat pengairan, serta Balai Wilayah Sungai (BWS) yang memiliki kewenangan dalam pengelolaan sumber daya air.
Selain mengoptimalkan jaringan irigasi yang tersedia, pemerintah daerah juga mendorong pengembangan sumber-sumber air alternatif untuk mendukung pertanian, khususnya di wilayah yang mengalami keterbatasan air.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah pembangunan sumur bor. Pada tahun 2026, terdapat sekitar 350 unit sumur bor yang diprogramkan. Bahkan, jumlah titik sumur bor yang telah dibangun maupun sedang dalam proses pengerjaan mendekati 400 unit.
“Harapan kita, satu titik sumur bor bisa mendukung penanaman tanaman pangan pada lahan seluas 5 sampai 10 hektare. Jadi, keberadaan sumber air ini benar-benar memiliki daya ungkit terhadap produksi pertanian,” paparnya.
Di sisi lain, optimalisasi lahan kering juga terus didorong. Namun, menurut Fathul, optimalisasi lahan tidak akan memberikan hasil maksimal tanpa dukungan ketersediaan air.
Karena itu, sumber air yang tersedia, baik dari mata air maupun melalui koneksi jaringan perpipaan irigasi yang sudah ada, perlu dimanfaatkan untuk menjangkau lahan-lahan pertanian yang selama ini belum terlayani secara maksimal.
Dengan dukungan sumber air tersebut, lahan pertanian diharapkan minimal dapat ditanami dua kali dalam setahun.
Fathul menegaskan, meskipun menghadapi tantangan musim kemarau, potensi produksi pangan di Lotim masih cukup terjaga. Pemerintah daerah juga terus menjalankan berbagai program untuk mendongkrak produksi sekaligus mendukung target swasembada pangan.
Untuk tahun 2026, target luas tanam di Lotim mencapai 65 ribu hektare. Hingga saat ini, realisasinya telah mencapai sekitar 59 ribu hektare atau tinggal sedikit lagi untuk memenuhi target tahunan tersebut.
Ia berharap berbagai program penguatan sektor pertanian, terutama penyediaan sumber air dan optimalisasi lahan, dapat menjaga produktivitas pertanian di tengah ketidakpastian iklim. (rus)



