Mataram (Suara NTB) – Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) NTB mendorong kebangkitan industri kerajinan lokal melalui pola pembinaan baru yang lebih terarah, kolaboratif, dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan pengrajin. Salah satu yang menjadi sorotan, tidak hanya oleh Dekranasda NTB, tetapi juga Dekranas pusat adalah pengrajin Cukli yang kian sedikit. Lama-kelamaan, industri kerajinan khas NTB ini dikhawatirkan akan punah.
Ketua Dekranasda NTB, Sinta Agathia M.Iqbal membenarkan adanya keluhan dari pusat yang menilai produk Cukli makin langka di pasar. Selain karena bahan baku yang sulit didapatkan, perubahan selera generasi muda membuat minat terhadap furniture Cukli menurun.
“Anak-anak gen sekarang ini kan sudah tidak mau lagi pakai kursi yang gede-gede. Kita dorong perajin membuat furniture ini yang minimalis, yang kecil. Supaya generasi muda kita ini mau pakai Cukli,” ujarnya, Jumat, 12 Desember 2025.
Dalam upaya mengembangkan kembali industri Cukli, pihaknya mendorong inovasi desain agar Cukli tetap relevan dan diminati pasar masa kini. Tidak hanya itu, Dekranasda juga membuka ruang kolaborasi dengan perbankan, perhotelan, hingga perusahaan tambang untuk memperluas akses pasar.
Selama ini, katanya beberapa perajin memilih mengekspor hasil produksi mereka ke daerah lain. Akibatnya, Cukli khas NTB kehilangan identitasnya, sebab daerah lain yang melakukan ekspor. Atas kondisi ini, Sinta mengaku akan membuka ruang terhadap para pengrajin agar bisa mengekspor sendiri.
“Menurut saya disitulah fungsinya saya di pemerintahan. Untuk bisa masuk mengajarkan teman-teman ayo mau ekspor sendiri. Karena pada saat ini sudah masuk ke provinsi lain, maka itu menjadi barangnya provinsi lain,” ujarnya.
Selain Cukli, beberapa kerajinan di NTB juga tidak mengalami perkembangan. Melihat fenomena ini, Dekranasda NTB akan melakukan berbagai upaya seperti pelatihan dan pembukaan akses pasar agar semakin banyak pengrajin yang tertarik untuk melanjutkan kreativitas mereka.
“Intinya kita ingin kerajinan kita ini semakin terangkat. Kita harus akui bahwa saat ini kerajinan NTB ini belum cukup terangkat seperti jika dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain. Jadi kita harapnya kita akan berkolaborasi bersama,” katanya.
Menurutnya, penguatan kualitas menjadi fondasi utama agar produk kerajinan NTB mampu menembus pasar nasional bahkan internasional. Namun peningkatan kualitas itu tidak bisa dilakukan sendirian. Perlu adanya kolaborasi lintas sektor, mulai dari pengrajin, pemerintah, hingga sektor perbankan.
“Perajin itu membutuhkan banyak bantuan, banyak dukungan dari semua. Kualitas ini bisa berjalan dengan baik, perajin bisa bekerja dengan baik jika mereka merasa apa yang mereka dapatkan itu mencukupi makmur,” tegasnya.
Perajin Belum Makmur Industri Kerajinan Sering Terbengkalai
Salah satu persoalan yang dihadapi saat ini adalah banyak perajin yang tidak bisa fokus menenun atau berkarya karena harus mencari penghasilan tambahan di luar kerajinan.
Fenomena itu menunjukkan kerajinan belum dianggap sebagai sumber nafkah yang menjanjikan. Di sinilah Dekranasda melihat peran penting untuk menghadirkan ekosistem yang lebih mendukung, termasuk akses pembiayaan yang tidak memberatkan.
Sinta mengaku, di 2026 nanti Dekranasda menargetkan pembinaan yang lebih terarah sesuai kebutuhan wilayah dan karakter pengrajin. Salah satu langkah yang sudah mulai dilakukan adalah pembentukan koperasi hingga pelatihan kurasi pengurus. Karena itu, Dekranasda NTB akan menjadi pusat penyortiran agar pembinaan lebih merata dan tepat sasaran.
“Kadang-kadang kemarin itu yang saya dengar tumpang tindih. Jadi ada perajin yang sama dapat tiga pembinaan. Tapi ada pengrajin yang satu yang tidak dapat pembinaan sama sekali. Jadi itulah yang kita harapkan,” ungkapnya. (era)


