DINAS Pendidikan (Disdik) Kota Mataram mengungkapkan hasil rapor pendidikan pada Asesmen Nasional (AN) 2024. Berdasarkan hasil pemeriksaan, proses pembelajaran masih berada pada kategori kuning atau sedang.
Kenyataan ini menjadi alarm serius bagi dunia pendidikan ibukota NTB itu. Perlu perhatian lebih untuk meningkatkan kualitas pendidikan, utamanya dalam proses pembelajaran.
Kabid Pendidikan Dasar (Dikdas), Disdik Kota Mataram, Syarafudin, pada Kamis, 18 Desember 2025 mengatakan, dari keseluruhan aspek penilaian pada AN, seluruh SD-SMP masih dalam kategori hijau.
Hanya saja, pihaknya masih menemukan kategori sedang atau kuning, seperti di aspek proses pembelajaran.
“Semua (aspek) kan kondisinya kita masih hijau ya, cuma ada yang di proses pembelajaran yang sedang,” ujarnya.
Dengan kondisi itu, dinas meminta seluruh satuan pendidikan untuk memperbaiki proses pembelajaran di sekolah masing-masing.
“Kita minta sekolah bagaimana melakukan perbaikan ke depannya. Diprogramkan oleh sekolah seperti apa perbaikannya ketika proses pembelajarannya statusnya sedang, berarti ada sesuatu yang kurang,” jelas Syarafudin.
Menurutnya, dalam proses pembelajaran ada dua pihak yang terlibat, yakni guru dan siswa. Dengan demikian, sekolah diharapkan dapat memantau kedua pihak ini selama proses pembelajaran untuk memastikan di mana letak persoalannya.
Jika, persoalannya terletak pada metode pembelajaran yang diterapkan guru tidak efektif, maka guru perlu memperkaya metode pembelajarannya.
“Sekarang ada pendekatan pembelajaran yang merupakan program prioritas pemerintah dan Kementerian yaitu deep learning, sekarang diprogramkan harus menggunakan mendalam (deep learning),” tegasnya.
Sementara jika persoalannya ada pada kurangnya antusias dan minimnya referensi yang digunakan siswa untuk belajar, maka sekolah dan guru mesti memetakan solusinya.
“Misalnya kurang sarana pendukung atau buku sumber, sekolah melalui RKAS-nya (Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah) dianggarkan di dalam dana BOS untuk pemenuhannya,” terang Syarafudin.
Selain aspek pembelajaran, Disdik juga tetap memberi atensi pada aspek lain seperti literasi dan numerasi. Kendati kedua aspek tersebut sudah hijau, menurut Syarafudin masih terdapat beberapa sub-aspek yang kuning.
Saat ini, lanjut Syarafudin, pemerintah juga mempunyai program strategis dalam upaya meningkatkan literasi dan numerasi siswa.
Misalnya dalam literasi, ada beberapa jenis lain yang perlu dieksplorasi lebih jauh seperti literasi finansial, kesehatan, lingkungan, dan digital. Begitu juga dengan numerasi, menurutnya perlu ada upaya pengembangan. “Sehingga literasi dan numerasi harus menjadi bahan yang harus ditingkatkan,” tuturnya.
Pasalnya, skor yang sekolah dapatkan dari hasil rapor AN adalah sebatas persentase. “Tapi dari yang hijau itu kita masih ada yang kuning, ada yang merah, tetap perlu kita tingkatkan,” tandasnya. (sib)

