Giri Menang (suarantb.com) – Perjuangan Guru SMPN 2 Gerung atau SMPN Terbuka Gerung 2 cukup berat dalam memberikan pelayanan pendidikan bagi siswanya. Mereka harus menempuh perjalanan jauh untuk mengajar, demi anak-anak bisa mengenyam pendidikan dan tidak putus sekolah. Pasalnya di sekolah ini, selain melayani pendidikan peserta didik reguler, juga mengajar anak-anak SMP terbuka.
Kepala SMPN 2 Gerung Hj. Rohanah, S.Pd., menuturkan, SMPN 2 Gerung melaksanakan pelayanan SMP reguler dan terbuka dengan jumlah 270 siswa dengan sembilan Rombel. Di mana dari 270 siswa ini, 190 siswa menempuh pendidikan reguler, sedangkan 80 orang sekolah SMP terbuka. Jumlah kelas tersedia pun lebih dua kelas, karena siswanya yang kurang. Sedangkan jumlah guru di sekolah itu 31 orang ditambah kepala sekolah.
Dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar, siswa yang sekolah secara reguler sampai pukul 14.00 siang. Barulah dilanjutkan mengajar ke anak-anak yang belajar SMP terbuka.
Mereka memiliki Tempat Belajar Mengajar (TBM) tersebar di dua lokasi yang jauh dari sekolah. TBM ini berada di Endok, Taman Ayu Kecamatan Gerung dan Lemer Sekotong. “Jaraknya (TBM) jauh, para guru jadwalnya siang jam mengajarnya,” ujarnya, Selasa (6/1/2026).
Belum lagi jika ke TBM di Lemer Sekotong. Ketika hujan atau panas, para guru tetap datang mengajar. Sebab anak-anak di wilayah ini banyak yang butuh SMP terbuka. Bahkan mereka yang minta agar masuk ke SMP Terbuka 2 Gerung. Diakuinya, jarak dari sekolah ke TBM mencapai puluhan kilometer.
Namun jarak yang jauh tak menyurutkan semangat para guru mengajari anak-anak. Sebab bagi para guru, mereka semakin bersemangat sebab ketika tiba di TBM anak-anak telah menunggu untuk belajar. “Itu yang membuat kami semangat,” imbuhnya.
Di masing-masing TBM, lanjut dia, ada guru pamongnya yang mengumpulkan anak-anak belajar. KBM dilakukan tiga kali dalam seminggu ke TBM. Bagi siswa SMP terbuka yang tidak mau belajar di TKB, Mereka bisa belajar di SMP. Keuntungan dari SMP terbuka ini, ketika ada siswa bermasalah dari sisi kehadiran atau malas, tidak dikeluarkan dari sekolah. Mereka dipindahkan ke SMP terbuka, asalkan tidak putus sekolah. “Karena kesempatannya, bisa statusnya menjadi SMP terbuka tapi belajar tidak setiap hari,” ujarnya.
Selain SMP terbuka, ada juga anak-anak yang belajar mandiri. Mereka ini rawan putus sekolah sehingga terus diperhatikan pihaknya. Mereka diajar oleh guru pamong yang datang membawakan buku untuk belajar. “Pokoknya anak jangan putus sekolah,” imbuhnya. Terlebih kata dia, rata-rata lama sekolah menjadi salah satu pendukung dalam indikator komposit IPM Lobar. (her)


