spot_img
Sabtu, Februari 28, 2026
spot_img
BerandaNTBKOTA MATARAMKurangi Volume Sampah, DLH Mataram Pantau Implementasi “Tempah Dedoro Organik”

Kurangi Volume Sampah, DLH Mataram Pantau Implementasi “Tempah Dedoro Organik”

Mataram (suarantb.com) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram melakukan pemantauan implementasi program “Tempah Dedoro Organik” di Lingkungan Marong Karang Tatah, Kelurahan Karang Baru, Kecamatan Selaparang, Kamis (8/1/2026).

Kepala DLH Kota Mataram, H. Nizar Denny Cahyadi, mengatakan program pengelolaan sampah berbasis lingkungan ini diharapkan menjadi solusi di tengah krisis sampah yang tengah dihadapi Kota Mataram. Pasalnya, Tempat Penampungan Sementara (TPS) Sandubaya saat ini telah mengalami kelebihan kapasitas akibat pembatasan jatah pembuangan sampah Kota Mataram ke TPA Regional yang hanya diperbolehkan satu ritase per hari.

“Insyaallah, tahun ini Pak Wali juga mencanangkan agar di setiap kelurahan terdapat satu lingkungan percontohan seperti ini,” ujarnya, Kamis, 8 Januari 2026.

Nizar menargetkan setiap kelurahan di Kota Mataram memiliki setidaknya satu lingkungan percontohan, sebagaimana yang telah diterapkan di Lingkungan Marong Karang Tatah sejak tahun 2025.

Berdasarkan data yang diterima DLH, saat ini telah terdapat 25 titik percontohan program Tempah Dedoro yang tersebar di pekarangan rumah warga.

Ia menjelaskan, salah satu keunggulan Tempah Dedoro adalah desainnya yang adaptif untuk lahan sempit serta multifungsi. Selain sebagai tempat pengolahan sampah organik, unit ini juga dapat dimanfaatkan sebagai fasilitas duduk atau tempat berkumpul warga.

“Intinya ramah lingkungan dan fungsinya banyak,” terangnya.

Selain tidak menimbulkan bau, Tempah Dedoro juga berfungsi sebagai lubang biopori yang membantu penyerapan air ke dalam tanah. Untuk satu unit Tempah Dedoro, anggaran yang dibutuhkan mencapai Rp1 juta per rumah, termasuk pajak dan fasilitas pendukung seperti kursi.

Hasil pemantauan di Lingkungan Marong Karang Tatah menunjukkan program ini memberikan dampak nyata terhadap pengurangan volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir.

Kepala Lingkungan Marong Karang Tatah, Lalu. Muhammad Ya’qub, mengatakan bahwa setelah program Tempah Dedoro berjalan selama tiga bulan, volume sampah yang sebelumnya mencapai 180 kilogram kini berkurang drastis menjadi sekitar 80 kilogram.

“Sisa sampah yang dibuang sekarang hanya berupa sampah anorganik, sementara sampah organik sudah habis terkelola di Tempah Dedoro,” ujarnya.

Ia menambahkan, dampak program ini sangat signifikan. Dari sebelumnya 180 kilogram sampah, kini hanya sekitar 80 kilogram yang dibuang, itupun sampah anorganik.

Selain mengurangi beban sampah kota, Tempah Dedoro juga mampu menghasilkan pupuk kompos. Dengan kedalaman sekitar 2,5 meter, alat ini dapat menampung sampah organik hingga satu tahun sebelum terurai menjadi pupuk.

“Dari satu ton sampah organik yang diolah, dapat dihasilkan sekitar 150 kilogram pupuk kompos atau rendemen sekitar 15 persen, setara dengan tiga hingga empat karung ukuran 50 kilogram,” jelasnya.

Sebelumnya, Wali Kota Mataram, Dr. H. Mohan Roliskana, telah menerbitkan Surat Edaran (SE) yang menginstruksikan agar program Tempah Dedoro Organik diduplikasi secara mandiri di seluruh instansi pemerintah di bawah naungan Pemerintah Kota Mataram, serta di lingkungan sekolah tingkat SD dan SMP.

Selain itu, sektor hotel, restoran, dan kafe juga diimbau untuk menerapkan pengelolaan sampah organik secara mandiri.

Langkah tersebut diambil mengingat sekitar 60 persen volume sampah di Kota Mataram merupakan sampah organik. Jika pengelolaan mandiri berjalan optimal, maka hanya 40 persen sampah anorganik yang perlu dikelola lebih lanjut melalui bank sampah maupun pemulung. (pan)

IKLAN
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO