Mataram (suarantb.com) – Realisasi investasi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada tahun 2025 melampaui target yang diberikan oleh pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Investasi. Sepanjang tahun 2025, NTB berhasil melampaui target nasional sekitar 0,2 persen dari target Rp61,09 triliun.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) NTB, H. Irnadi Kusuma menyampaikan realisasi investasi NTB sepanjang Januari-Desember 2025 mencapai Rp61,10 triliun atau 100,02 persen dari target nasional sebesar Rp61,09 triliun yang ditetapkan Pemerintah Pusat melalui Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) RI.
Realisasi investasi tertinggi berdasarkan lokasi berasal dari Kabupaten Sumbawa Barat, Kabupaten Lombok Tengah, dan Kota Mataram, dengan sektor dominan meliputi ESDM, pariwisata dan ekonomi kreatif, serta perindustrian.
“Kita juga mencatat sekitar 4.000 realisasi perizinan, yang masih didominasi sektor peternakan,” ujarnya.
Irnadi mengakui, masih terdapat sejumlah tantangan dalam iklim investasi NTB, antara lain daerah dengan investasi rendah, kendala teknis sistem OSS berbasis risiko, serta perlunya pemutakhiran peta potensi investasi daerah.
“Ke depan, DPMPTSP NTB akan memperkuat digitalisasi layanan, optimalisasi konsultasi investasi, pengawasan perizinan berbasis risiko, serta mendorong investasi hijau yang berkelanjutan,” katanya.
Adanya kenaikan ini, target Investasi NTB tahun 2026 naik menjadi Rp68 triliun. Meningkat sekitar Rp6,1 triliun dari target tahun 2025. Irnadi membeberkan target investasi Rp68 triliun sudah tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) NTB.
“Naik lagi targetnya di tahun 2026 jadi Rp68 triliun. Yaa mudah-mudahan kita optimis di tahun 2026 ada investor secara riil,” harapnya.
Saat ini, Irnadi mengaku Pemprov NTB akan menggenjot sektor-sektor strategis sesuai dengan triple agenda Gubernur, Lalu Muhamad Iqbal. Di antaranya yaitu sektor pariwisata, pertanian, dan energi terbarukan. Dorongan ini bukan hanya karena pariwisata mendunia menjadi salah satu program unggulan gubernur, tetapi juga untuk memastikan keamanan lingkungan di NTB.
“Sesuai dengan yang dicanangkan gubernur, maka kita mainnya di pariwisata, pertanian, dan juga energi terbarukan,” terangnya.
Di tengah tingginya target investasi, Pemprov NTB menghadapi tantangan terkait rencana detail tata ruang (RDTR) di masing-masing kabupaten/kota yang belum rampung. RDTR ini sebagai dasar dalam menyusun acuan izin pemanfaatan ruang, pedoman pembangunan, pengendali pemanfaatan ruang, penentu intensitas ruang dan dasar penyusunan rencana tata bangunan dan lingkungan.
Irnadi mengatakan, secara umum hampir semua wilayah di NTB belum merampungkan RDTR ini, padahal ini menjadi salah satu syarat dalam input perizinan di dalam Online Single Submission (OSS).
Jika RDTR ini belum rampung, sementara di wilayah tersebut menjadi target investasi maka izinnya tidak bisa dikeluarkan karena belum terdata dalam sistem.
“Ini kita dorong agar kabupaten/kota bisa menyelesaikan, kami terus berkoordinasi juga lewat teman-teman PUPR,” katanya.
Adapun untuk mencapai target Rp68 triliun, mantan Kepala Biro Humas dan Protokol Setda NTB ini mengakui mulai membidik beberapa jenis investasi, salah satunya terkait dengan rencana pembangunan seaplane di Bendungan Batujai, Kabupaten Lombok Tengah.
Menurutnya, Gubernur NTB H. Lalu Muhamad Iqbal memberikan tugas khusus kepada pihaknya dalam mengawal investasi di daerah. Gubernur, sambungnya bersama calon investor sudah bertemu dan akan dilakukan tahapan selanjutnya dari investasi tersebut.
Pembangunan seaplane atau pesawat air ini bertujuan untuk meningkatkan konektivitas menuju Lombok, sehingga wisatawan yang dari Bali maupun dari NTT atau daerah lainnya bisa langsung menuju Lombok dengan menggunakan pesawat air itu.
“Ini untuk konektivitas, memperkuat arus pariwisata supaya angka kunjungan meningkat karena yang kita kejar sekarang wisatawan yang menengah ke atas atau high tourism,” lanjutnya.
Selain seaplane, ada beberapa investasi yang dibidik termasuk pembangkit listrik, kemudian dari Berkah Energi Lombok yang nilai investasinya mencapai Rp3,1 triliun. “Secara umum nilai investasinya ini besar-besar, kalau untuk seaplane belum bisa saya sebutkan, nanti di April mulai akan dilakukan perizinan,” pungkasnya. (era)


