PEMERINTAH pusat melalui Badan Pengelola Investasi, Danantara menganggarkan sekitar Rp1,7 triliun bangun hilirisasi ayam di NTB. Program ini dirancang dari hulu hingga hilir, mulai dari penyediaan bibit ayam atau day old chick (DOC), pakan ternak, hingga pengembangan industri olahan.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) NTB, Muhamad Riadi mengatakan, PT Berdikari yang merupakan salah satu BUMN menjadi perusahaan yang akan membangun hilirisasi ayam di NTB. PT tersebut kini tengah tahap Feasibility Study (FS) untuk membangun pabrik, menyiapkan stok, DOC, hingga industri olahan.
“Hilirisasi terintegrasi itu, jadi BUMN lewat PT Berdikari nanti mencari mitra untuk membangun pabrik pakan, membangun stok, yang di petani itu tetap peternak untuk PAM. Jadi dia nggak masuk ke PAM, dia hanya menyiapkan DOC pakan sama industri olahannya,” ujarnya, Rabu (11/2/2026).
Rencananya, industri ayam dilakukan di kawasan Serading, Sumbawa. Lokasi tersebut telah melalui proses groundbreaking dan disiapkan di atas lahan Pemerintah Daerah (Pemda) seluas sekitar 10 hektare. Dari fasilitas ini nantinya akan dihasilkan DOC yang kemudian dipelihara oleh peternak lokal di NTB.
“Itu dipakai sekitar 10 hektare tempat pembangunan para stok. Nanti dari produk para stok ini kan menghasilkan DOC. DOC ini yang dipelihara sama peternak-peternak kita,” lanjutnya.
Sementara, pengembangan juga pembangunan pabrik pakan akan dilakukan di Dompu, dan industri olahan akan berlokasi di Lombok Tengah. Namun demikian, realisasi pembangunan industri tersebut akan sangat bergantung pada kesiapan dan minat investor, mengingat skema yang digunakan merupakan investasi swasta murni.
“Pabrik pakannya kita usulkan di Dompu. Kemudian yang untuk industri olahraganya kita rencanakan di Lombok Tengah. Tapi itu kembali karena ini investasi swasta murni, tergantung FS-nya,” katanya.
Tim dari PT Berdikari juga telah turun langsung ke lapangan untuk melakukan penilaian kelayakan proyek. “Kemarin juga sudah turun tim dari Berdikari untuk melakukan PS, menjaga survei-survei. Mudah-mudahan besok sudah layak semua untuk bisnisnya, sehingga investasi itu masuk,” tambahnya.
Mantan Kepala Biro Umum Setda NTB itu menegaskan, berdirinya industri ayam di NTB memberikan manfaat langsung bagi daerah. Di antaranya yaitu harga DOC yang lebih kompetitif dan pakan ternak yang lebih murah bagi peternak lokal karena diproduksi langsung di NTB. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan peternak sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.
Dari sisi ketersediaan pangan, NTB dinilai tidak mengalami kekurangan, khususnya telur dan ayam. Bahkan, pada 2025 NTB diproyeksikan mengalami surplus produksi telur sebesar 10.198 ton, dengan populasi ayam mencapai lebih dari 3 juta ekor. Ia menekankan, masuknya investasi Rp1,7 triliun akan menjadi penggerak utama perekonomian NTB.
“Manfaatnya sangat-sangat besar. Begitu uang masuk Rp1,7 triliun di NTB, itulah engine untuk menggerakkan ekonomi NTB. Kan uang beredar makin banyak, pertumbuhan ekonomi pasti naik,” pungkasnya.
Di lain sisi, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menegaskan bahwa persoalan utama sektor peternakan di NTB bukan terletak pada kemampuan masyarakat, melainkan pada penguasaan sektor hulu dan hilir yang selama ini masih didominasi industri besar dari luar daerah.
“Beternak adalah budaya orang NTB. Yang belum kita kuasai selama ini adalah hulu dan hilir, terutama DOC dan pakan. Dengan hadirnya industri ayam terintegrasi ini, kita ingin mengakhiri ketergantungan dari luar daerah sekaligus memperkuat ekonomi NTB,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa program ini menjadi jawaban strategis atas meningkatnya kebutuhan pangan, seiring keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di NTB yang telah melampaui target nasional dengan lebih dari 600 dapur MBG aktif.
“Demand sudah ada dan sangat besar. Sekarang tugas kita memastikan supply-nya cukup agar tidak terjadi inflasi. Karena itu, fokus pemerintah saat ini adalah memperkuat produksi,” tegasnya.
Untuk mendukung percepatan program, Pemprov NTB telah menyiapkan skema pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) berbunga 3 persen yang disubsidi, khususnya bagi sektor peternakan pendukung MBG.
Sebagai produsen jagung terbesar ketiga nasional, NTB memiliki keunggulan bahan baku pakan, di mana jagung menyumbang sekitar 50 persen komposisi pakan unggas. Pemerintah daerah juga mendorong riset formulasi pakan berbasis sumber protein lokal seperti kelor dan maggot guna mengurangi ketergantungan impor bungkil kedelai.
“Kita ingin pakan 100 persen berbasis bahan baku NTB. Tidak ada lagi jagung kita kirim keluar, lalu kembali ke NTB dalam bentuk pakan dengan harga berlipat,” pungkasnya. (era)



