Mataram (suarantb.com) – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Prof. Stella Christie menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan masyarakat dalam mendorong riset yang berdampak langsung pada kesejahteraan publik. Hal tersebut disampaikan dalam sambutannya pada acara peletakan batu pertama pembangunan International Tropical Seaweed Research Center (ITSRC) dan Klinik Spesialis Kedokteran Kelautan Universitas Mataram (Unram) di Lombok Timur, Kamis (12/2/2026).
Ia mengapresiasi langkah cepat jajaran pimpinan daerah dan perguruan tinggi sejak kunjungan awalnya pada 18 Mei 2025 hingga dimulainya pembangunan fasilitas riset tersebut. “Mohon dilanjutkan kerja sama antara Kemendikti Saintek, pemerintah daerah, dan universitas-universitas di Lombok Timur untuk kebaikan masyarakat,” ujarnya di hadapan para pimpinan kampus, pejabat daerah, tokoh masyarakat, dan pembudidaya rumput laut.
Menurutnya, kementerian mengusung mantra “Diktisaintek Berdampak,” yakni memastikan seluruh program pendidikan tinggi dan riset menghasilkan manfaat nyata. Ia menilai pembangunan klinik spesialis serta pusat riset rumput laut internasional akan memberi dampak ekonomi signifikan bagi masyarakat pesisir.
Ia menegaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto menaruh perhatian besar pada kemajuan sains dan teknologi sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi nasional. Struktur kementerian yang kini memisahkan pendidikan tinggi dari pendidikan dasar dinilai sebagai langkah strategis untuk memperkuat inovasi berbasis riset.
Dalam paparannya, ia menyebut Indonesia saat ini merupakan produsen rumput laut tropis terbesar di dunia dengan pangsa sekitar 75 persen pasar global. Nilai ekonomi komoditas tersebut mencapai 12 miliar dolar AS per tahun dan diproyeksikan terus meningkat seiring berkembangnya teknologi hilirisasi menjadi produk bernilai tinggi seperti pupuk hayati, bioplastik, dan bahan bakar ramah lingkungan untuk penerbangan.
“Jika Indonesia tidak melakukan riset dan hilirisasi, kita tidak akan mendapat bagian dari potensi ekonomi global yang nilainya mencapai ribuan triliun rupiah. Karena itu pusat riset ini penting agar kita bisa memproduksi rumput laut secara konsisten dan berskala besar untuk pasar dunia,” ujarnya.
Untuk memperkuat ekosistem riset, pemerintah menggandeng sektor industri melalui APINDO serta menjalin kemitraan internasional dengan berbagai lembaga sains. Di antaranya kerja sama dengan University of California, Berkeley dan Beijing Genomics Institute (BGI) dalam pengembangan riset bioteknologi rumput laut. BGI bahkan berkomitmen memberikan pendanaan riset serta dukungan peralatan genomik untuk tahap awal penelitian.
Ia juga menyebut bahwa laporan dari Harvard University menempatkan bioteknologi sebagai salah satu bidang paling menentukan kekuatan teknologi suatu negara, sehingga kolaborasi internasional dinilai penting agar Indonesia tidak tertinggal dalam persaingan global.
Prof. Stella menegaskan bahwa pusat riset ini bukan sekadar proyek seremonial, melainkan langkah strategis menjadikan Indonesia sebagai pemain utama industri rumput laut global. “Tujuan riset hanya satu, meningkatkan pengetahuan agar bisa meningkatkan perekonomian dan pendapatan masyarakat,” katanya.
Wamen juga mengapresiasi kontribusi peneliti lokal yang telah dikenal di jaringan akademik global, yaitu Eka Sunarwidhi Prasedya, S.Si., M.Sc., Ph.D., seorang peneliti rumput laut dan dosen Unram. “Putra daerah bisa menjadi peneliti kelas dunia. Kita harus bangga,” katanya.
Ia berharap masyarakat ikut berpartisipasi dan menjaga keberlanjutan program karena keberhasilan riset sangat bergantung pada dukungan komunitas pembudidaya.
Acara peletakan batu pertama yang berlangsung malam hari itu disebutnya sebagai bukti antusiasme masyarakat. Ia optimistis kolaborasi lintas sektor akan melahirkan industri baru berbasis rumput laut sekaligus meningkatkan layanan kesehatan melalui pembangunan klinik spesialis di wilayah tersebut. (ron/*)



