Bima (Suara NTB) – Pemerintah Kabupaten Bima menyiapkan langkah optimalisasi distribusi jagung dan ternak menjelang puncak panen raya jagung dan meningkatnya kebutuhan hewan kurban pada Idul Adha 2026. Langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas harga sekaligus memastikan hasil produksi petani dan peternak terserap pasar secara maksimal.
Sekretaris Daerah Kabupaten Bima, Adel Linggi Ardi menjelaskan, Kabupaten Bima merupakan salah satu sentra produksi jagung dan ternak sapi di Nusa Tenggara Barat, sehingga pengelolaan distribusi harus dilakukan secara terintegrasi. Produksi jagung daerah pada 2026, diproyeksikan melampaui setengah juta ton dengan realisasi hingga Juli mencapai sekitar 489.227 ton.
Menurut dia, tingginya produksi berpotensi menekan harga di tingkat petani apabila tidak diimbangi dengan sistem penyerapan dan distribusi yang baik. Karena itu, pemerintah daerah mendorong sinergi lintas sektor, agar hasil panen tetap memiliki kepastian pasar. “Kita ingin memastikan distribusi berjalan lancar, harga tetap stabil dan kesejahteraan petani serta peternak tetap terjaga. Momentum panen raya dan Idul Adha harus menjadi peluang peningkatan ekonomi masyarakat,” ujarnya, Sabtu, 28 Februari 2026.
Sebagai acuan stabilisasi harga, pemerintah menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) jagung melalui Perbadan Nomor 381 Tahun 2025 sebesar Rp5.500 per kilogram pada kadar air 18–20 persen. “Sementara harga penyerapan di gudang Perum Bulog ditetapkan Rp6.400 per kilogram, untuk jagung kemasan dan Rp6.250 per kilogram untuk jagung curah,” sebutnya.
Selain komoditas jagung, sektor peternakan juga menjadi perhatian utama menjelang Idul Adha. Data Pemkab Bima menunjukkan distribusi ternak pada 2025 mencapai 16.337 ekor sapi dan kerbau. “Sebanyak 9.099 ekor diantaranya dikirim melalui Pelabuhan Bima. Sedangkan, sisanya melalui jalur darat dan Pelabuhan Sape,” katanya.
Adel menjelaskan, meningkatnya permintaan ternak bersamaan dengan panen raya jagung menjadi periode krusial bagi stabilitas distribusi komoditas daerah. “Momentum panen raya jagung yang bertepatan dengan meningkatnya permintaan ternak menjelang Idul Adha menjadi periode krusial,” pungkasnya.
Pihaknya menilai pengaturan distribusi yang terkoordinasi diperlukan untuk mengantisipasi keterbatasan armada pengangkutan, kepadatan jadwal pengiriman, serta potensi ketidakseimbangan harga di pasar. Optimalisasi distribusi diharapkan mampu menjaga stabilitas ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani dan peternak di Kabupaten Bima. (hir)


