Taliwang (Suara NTB) – Sebuah perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) diduga tengah melakukan praktik ilegal. Perusahaan yang mendapat izin berusaha di bidang properti tersebut, alih-alih menjalankan investasinya, justru ditengarai melakukan penjualan tanah.
Dugaan praktik culas perusahaan PMA itu, telah diendus oleh Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Sumbawa Barat. “Baru-baru ini ada laporan masyarakat ke kami bahwa ada perusahaan yang katanya dapat izin di Jelenga, justru mereka diduga melakukan penjualan tanah,” ungkap Kepala DPMPTSP KSB, H. Kamaluddin, Rabu (4/3).
Berdasarkan laporan itu, pihaknya tengah menelusuri keberadaan perusahaan tersebut. Menurut Kamaluddin, tim telah turun lapangan dan mendapatkan lokasi tanah yang akan dijual. Namun demikian, pemilik perusahaan yang dilaporkan melakukan aktivitas ilegal itu belum berhasil ditemui, guna meminta klarifikasi termasuk apakah benar tempat berusahanya tersebut diperjual belikan.
Dari penelusuran DPMPTSP KSB melalui aplikasi perizinan Online Single Subbmission dikatakan Kamaluddin, pihaknya sempat mendeteksi salah satu personel yang namanya tercatat pada data perusahaan. Namun demikian, klarifikasi pun tak membuahkan hasil, karena yang bersangkutan mengaku tidak lagi bekerja pada perusahaan itu.
“Kami hubungi orangnya, dia bilang sudah tidak lagi bekerja di perusahaan tersebut. Jadi kami belum dapat melakukan klarifikasi langsung,” papar Kamaluddin.
Upaya mendeteksi keberadaan pengurus perusahaan asing itu, masih terus diupayakan. Kamaluddin menyebut selain beralamat di Jelenga, kantor perusahaan itu juga tercatat pada beberapa wilayah di luar daerah. “Ada di Surabaya dan Jakarta. Dan untuk menelusurinya, tentu kami butuh waktu,” tukas mantan Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) KSB ini.
Pada bagian lain, Kamaluddin mengatakan, pihaknya ada mendeteksi perusahaan yang tidak beraktivitas. Meski telah mengantongi izin, di lokasi, perusahaan tersebut tidak terlihat berkegiatan sama sekali. “Perusahaan-perusahaan seperti ini tentu juga berpotensi bermasalah. Maka dari itu, kami terus melakukan pendekatan bahkan secara persuasif,” imbuhnya.(bug)


