Mataram (suarantb.com) – Universitas Terbuka (UT) Mataram baru saja telah melaksanakan kegiatan Serah Terima Jabatan (Sertijab) dari direktur lama ke direktur terbaru, di Aula UT Mataram, Senin (9/3/2026). Kegiatan peralihan estafet kepemimpinan salah satu kampus ternama di Indonesia ini dihadiri oleh sejumlah pejabat pemerintahan hingga mitra kerja sama.
Acara berlangsung kondusif sekaligus khidmat. Direktur periode 2023/2026, Heriyanto menyerahkan tugas dan tanggungjawab kepada Direktur Baru periode 2026/2031, Ronny Basista dan disaksikan oleh Warek Bidang Sistem Informasi dan Kemahasiswaan, Paken Pandiangan.
Dalam sambutannya, Direktur sebelumnya Heriyanto mengatakan, selama masa jabatannya, ia telah melakukan sejumlah tindakan dalam rangka mempromosikan UT Mataram kepada masyarakat di NTB.
Dari pengalaman tersebut, Heriyanto melihat animo masyarakat NTB dalam menyekolahkan anak-anaknya cukup tinggi. Sehingga, ia berharap, upaya tersebut dapat dilanjutkan oleh direktur baru UT Mataram.
“Kita berusaha mengenalkan kepada masyarakat karena visi misi UT ini sendiri memberikan kesempatan kepada masyarakat khususnya di NTB, semua masyarakat itu berhak mengenyam pendidikan tinggi,” ujarnya.
Heriyanto menegaskan, upaya mempromosikan UT Mataram sebagai kampus pilihan masyarakat secara konsisten merupakan ikhtiar untuk memutus rantai putus sekolah, terutama di NTB. Dengan demikian, UT Mataram tidak saja berkontribusi dalam memberikan layanan pendidikan, tapi juga memastikan anak bangsa mendapatkan hak dasar mereka.
“Jadi memang tidak bisa menghindari dari sisi tantangan global, kemajuan ekonomi, jadi pendidikan itu sangat dibutuhkan karena merupakan kebutuhan zaman,” tuturnya.
Sementara itu, Wakil Rektor UT Mataram, Bidang Sistem Informasi dan Kemahasiswaan, Paken Pandiangan, mengingatkan kepada Direktur Baru akan mandat yang diemban. Sebagai Direktur, ada tiga mandat yang mesti diprioritaskan di antaranya;
1. UT Mataram Harus Mampu Menerima Lulusan SLTA
Paken mengatakan, UT harus mampu menerima lulusan SLTA yang tidak tertampung pada Perguruan Tinggi Negeri (PTN) konvensional. Ia menyebut, setiap tahun, lulusan SLTA di seluruh Indonesia berjumlah ratusan ribu dan tidak semuanya terserap oleh PTN konvensional yang menerapkan sistem kuota.
“Oleh karena itu, pemerintah hadir melalui UT untuk memberikan kesempatan bagi mereka yang bercita-cita masuk PTN,” jelasnya.
2. Fleksibilitas bagi Pekerja
Selain menampung masyarakat yang hanya tamatan SLTA, UT dituntut mampu menjadi tempat bagi warga negara untuk menempuh pendidikan tinggi tanpa harus meninggalkan pekerjaan mereka, baik di instansi pemerintah maupun swasta.
“UT telah berhasil meningkatkan kualitas SDM di berbagai lapisan dengan menyediakan jenjang pendidikan mulai dari S1, S2, hingga S3 yang fleksibel,” sebutnya.
3. Jangkauan Wilayah
Paken menerangkan, mengingat Indonesia adalah negara kepulauan, banyak penduduk yang tinggal di daerah terpencil seperti di pegunungan, pesisir, dan daerah 3T. Dengan kenyataan itu, sangat sulit bagi PTN atau PTS lain untuk hadir secara fisik. “UT diberi mandat untuk memberikan layanan pendidikan di mana pun warga negara berada, mulai dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten, kecamatan, hingga desa-desa,” tandasnya.
Menanggapi tugas dan tanggungjawab itu, Direktur UT Mataram baru, Ronny Basista, berkomitmen untuk mengimplementasikannya.
Ia menjelaskan, memperluas daya jangkau UT Mataram untuk masyarakat di berbagai lapisan menjadi prioritas utama dirinya.
“Jadi, tidak ada alasan masyarakat itu tidak bisa mengenyam pendidikan tinggi karena UT bisa menjangkau itu dengan fleksibel dengan biaya yang tidak memberatkan,” tegasnya.
Di samping itu, program internal kampus juga tetap mendapat perhatian. Program internal yang dimaksud mencakup Tri Dharma Perguruan Tinggi; Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian.
Kemudian, peningkatan angka partisipasi kasar masyarakat dalam pendidikan tinggi juga menjadi fokus utamanya. Ia menuturkan, dengan semakin bertambahnya persentase tingkat masyarakat yang mengenyam pendidikan tinggi semakin besar pula harapan mencapai Generasi Emas 2045 Indonesia.
“Bukan hanya sekedar angka saja, tetapi juga hendaknya dengan semakin bertambahnya masyarakat yang mengenyam pendidikan tinggi, kan berarti itu membantu kualitas sumber daya manusia di NTB,” tandasnya. (sib)

