Giri Menang (Suara NTB) –
SMPN 1 Narmada, Kabupaten Lombok Barat (Lobar) menerima penghargaan dari Balai Mutu Penjaminan Pendidikan (BPMP) Provinsi NTB sebagai sekolah Berkinerja Terbaik Implementasi Digitalisasi Pembelajaran Jenjang SMP di NTB. Penghargaan ini merupakan sebuah kebanggaan bagi sekolah dan siswa, karena mampu menunjukkan prestasi membanggakan bagi jenjang SMP di NTB.
Kepala SMPN 1 Narmada Aendi, SPd., menjelaskan, kunci utama keberhasilan sekolah dalam meraih predikat terbaik implementasi digitalisasi pembelajaran terletak pada komitmen pimpinan sekolah dan konsistensi implementasi.
Menuirutnya, sekolah menetapkan digitalisasi sebagai bagian dari strategi pembelajaran, bukan sekadar pelengkap. Dalam hal ini, kebijakan sekolah mendukung penggunaan teknologi di setiap mata pelajaran. ‘’Guru didorong untuk mengintegrasikan platform digital dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi,’’ ujarnya, Kamis, 30 April 2026.
Untuk itu, ujarnya, guru harus memiliki literasi digital yang baik agar mampu mengoperasikan aplikasi dan menyajikan materi secara interaktif. Sekolah juga menyediakan infrastruktur yang memadai serta pendampingan berkelanjutan. Ketersediaan papan digital di sekolah, menjadi salah satu media utama digitalisasi pembelajaran.
Dalam mendukung digitalisasi pembelajaran, jaringan internet harus stabil serta ketersediaan perangkat seperti laptop atau tablet harus memadai. Tidak hanya itu, monitoring dan evaluasi pun dilakukan secara rutin untuk memastikan program berjalan efektif. Kolaborasi antar-guru mempercepat adaptasi dan inovasi. Dengan sistem tutor sebaya, guru-guru juga belajar untuk menggunakan beberapa platform digital untuk pembelajaran.
‘’Fokus tetap pada peningkatan kualitas pembelajaran, bukan hanya penggunaan teknologi,’’ terangnya.
Mengenai program digital yang sudah diterapkan di sekolah, Aendy menjelaskan, sekolah menerapkan beberapa program utama. Pertama penggunaan media pembelajaran interaktif seperti video, kuis digital, dan simulasi dengan bantuan Papan Digital Interaktif.
Kedua, penggunaan LMS digital seperti google classroom, google form, google docs untuk pembelajaran dengan mode daring / belajar dari rumah. Ketiga, pelaksanaan asesmen berbasis digital menggunakan aplikasi evaluasi. Keempat sekolah juga memanfaatkan situs –situs AI (Artificial Intelligence) untuk menunjang dan membantu dalam proses pembelajaran.
Tidak hanya itu, sekolah juga melibatkan guru dengan siswa dalam program ekstrakurikuler di bidang multimedia, sehingga semua informasi –informasi yang berkaitan dengan aktivitas- aktivitas sekolah bisa dipublikasikan di laman website sekolah maupun media sosial sekolah. ‘’Selain itu, sekolah juga mengembangkan bank soal digital dan perpustakaan digital sebagai sumber belajar,’’ tambahnya.
Terkait strategi peningkatan kompetensi guru dalam penggunaan teknologi, lanjutnya, sekolah menerapkan pelatihan berkelanjutan yang terstruktur. Dalam hal ini, workshop dilakukan secara rutin dengan fokus pada praktik langsung. Guru diberikan pendampingan melalui sistem mentor atau tutor sebaya.
Sekolah juga, ujarnya, juga membentuk komunitas belajar untuk berbagi pengalaman dan solusi. Termasuk, sekolah mendorong guru mengikuti pelatihan eksternal dan sertifikasi digital.
Pihaknya juga melakukan evaluasi kompetensi secara berkala untuk mengukur perkembangan dengan melakukan pendekatan yang digunakan bersifat aplikatif agar langsung bisa diterapkan di kelas.
Aendy mengakui, dalam pembelajaran berbasis digital, siswa terlibat secara aktif. Siswa mengakses materi, mengerjakan tugas, dan mengikuti diskusi secara online. Pembelajaran dirancang interaktif melalui kuis, proyek digital, dan presentasi berbasis teknologi dengan menggunakan beberapa platform seperti Canva.
‘’Siswa juga dilibatkan dalam pembuatan konten sederhana seperti video atau infografis yang selanjutnya akan diupload melalui media sosial sekolah. Pemanfaatan media sosial juga mempercepat digitalisasi pembelajaran di sekolah. Sekolah memiliki Website resmi, YouTube, akun sosial media Instagram, TikTok, dan Facebook, yang aktif digunakan,’’ terangnya, seraya menambahkan, model pembelajaran kolaboratif membuat siswa lebih aktif berpartisipasi dan akses fleksibel memungkinkan siswa belajar kapan saja sesuai kebutuhan.
Mengenai dampak nyata digitalisasi terhadap hasil belajar siswa, lanjutnya, digitalisasi mampu meningkatkan keterlibatan dan motivasi belajar siswa. Siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran. Pemahaman materi meningkat karena penggunaan media yang variatif. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan capaian belajar pada beberapa mata pelajaran. ‘’Siswa juga memiliki kemampuan literasi digital yang lebih baik. Selain itu, keterampilan berpikir kritis dan kolaborasi ikut berkembang. Proses belajar menjadi lebih efisien, terukur, dan pastinya menyenangkan,’’ ujarnya.
Meski demikian, diakuinya, hambatan yang dihadapi berupa keterbatasan perangkat dan variasi kemampuan guru untuk beradaptasi dengan teknologi. Selain itu, koneksi internet yang tidak stabil juga menjadi kendala. Sekolah mengatasi hal ini dengan pengadaan perangkat secara bertahap. Pelatihan intensif diberikan untuk meningkatkan kompetensi guru. Sekolah juga menyediakan alternatif pembelajaran offline jika diperlukan. Dukungan teknis disiapkan untuk membantu guru dan siswa. Pendekatan bertahap digunakan agar semua pihak dapat beradaptasi.
Untuk itu, sekolah menetapkan digitalisasi sebagai program jangka panjang dalam rencana strategis. Anggaran dialokasikan secara khusus untuk pengembangan teknologi. Evaluasi program dilakukan secara berkala untuk perbaikan berkelanjutan. Sekolah terus memperbarui platform dan metode pembelajaran. Penguatan kapasitas guru tetap menjadi prioritas. ‘’Kolaborasi dengan pihak luar juga dibangun untuk mendukung inovasi. Budaya digital ditanamkan agar menjadi bagian dari sistem pembelajaran,’’ tambahnya. (r)

