Pasangan H. Lalu Muhamad Iqbal dan Hj. Indah Dhamayanti Putri (Iqbal-Dinda) memiliki 10 program strategis yang ingin dicapai dalam lima tahun menjabat. Di antaranya Desa Berdaya, NTB Sehat dan Cerdas, NTB Inklusif, NTB Agro Maritim, NTB Connected, NTB Terampil dan Tangkas, NTB Pariwisata Berkualitas, Ekraf Mania, NTB Good Governance, dan NTB Lestari Berkelanjutan.
Dari 10 program strategis tersebut, hanya Desa Berdaya yang mendapatkan alokasi anggaran tertinggi. Sisanya stagnan, bahkan mengalami penurunan jika dibandingkan dengan APBD Perubahan tahun anggaran 2025.
Direktur Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) NTB, Ramli Ernanda mengungkapkan Desa Berdaya mendapat tambahan anggaran hingga 2000 persen lebih. Dari yang semula 0,11 persen dari APBD P, menjadi 2,41 persen dari total APBD Murni 2026. NTB Pariwisata mendapat tambahan anggaran sekitar 44 persen, dari 0,09 persen dari APBD P, menjadi 0,13 persen di APBD Murni 2026.
NTB Sehat dan Cerdas mengalami penurunan drastis, semula 12,38 persen di APBD Perubahan, menjadi 8,95 persen dari total APBD 2026. NTB Connected juga mengalami penurunan signifikan, awalnya 9,02 persen dari total APBD Perubahan, kini hanya 4,19 persen di APBD murni. Begitupun dengan program-program strategis lain seperti NTB Inklusif, Agro Maritim, E-mania, dan Lestari Berkelanjutan yang mengalami kondisi serupa.
Menanggapi adanya perbedaan alokasi anggaran program strategis tersebut, Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal mengaku tidak semua program strategis membutuhkan anggaran dari APBD. Ia mengaku, pendekatan yang digunakan lebih kepada menekankan pada pencapaian hasil program dibandingkan besaran anggaran yang dikeluarkan.
Dalam beberapa program strategis, Pemprov justru memaksimalkan dukungan dari pemerintah pusat dan sumber daya lain di luar APBD. Salah satu contohnya adalah program peningkatan produktivitas pangan melalui optimalisasi lahan.
“Untuk meningkatkan produktivitas pangan, kita memperjuangkan ke Menteri Pertanian. Dan anggarannya sebagian terbesar proporsinya adalah dari Menteri Pertanian. Yang tadinya dialokasikan buat kita untuk membangun irigasi baru. Kita arahkan untuk revitalisasi yang lama,” jelasnya.
“Dan itu berjalan. 10.400 hektare optimalasi lahan itu selesai dalam 2025. Yang penting itu selesai programnya itu,” sambungnya.
Menurutnya, keberhasilan program tidak semata-mata diukur dari jumlah anggaran yang digunakan, melainkan dari tercapainya target program. Pendekatan serupa juga diterapkan pada program NTB Connected yang bertujuan memperluas konektivitas penerbangan.
Hingga saat ini, NTB telah berhasil membuka tujuh destinasi penerbangan nasional baru tanpa menggunakan dana APBD. Dalam waktu dekat, pihaknya juga berencana menambah dua destinasi penerbangan internasional baru, salah satunya menuju Darwin, Australia. Pembukaan rute tersebut juga dilaksanakan tanpa menggunakan anggaran daerah.
Mantan Dubes RI untuk Turki itu mengaku, kondisi keuangan daerah yang terbatas justru mendorong pemanfaatan berbagai sumber daya alternatif. Strategi ini dinilai efektif selama target program tetap tercapai. Bahkan, target NTB Connected yang awalnya direncanakan selesai dalam tiga tahun berhasil dituntaskan hanya dalam satu tahun.
Pada tahun kedua dan ketiga, pemerintah daerah dapat menambah beberapa destinasi baru sebagai pengembangan lanjutan. Meski demikian, pemerintah daerah mengakui bahwa beberapa program tetap memerlukan dukungan langsung dari APBD, terutama program yang berkaitan dengan pengentasan kemiskinan seperti program Desa Berdaya.
“Memang untuk desa berdaya itu karena ini terkait dengan pengentasan kemiskinan. Karena tidak mungkin kita tidak mengalokasikan dana dari APBD. Itulah yang paling fundamental masalah kemiskinan,” pungkasnya. (era)

