Selong (suarantb.com) – Tradisi Tiyu atau Festival Pawai Kuda menjadi agenda tahunan yang selalu dinantikan masyarakat Desa Jantuk, Kecamatan Sukamulia, Kabupaten Lombok Timur. Kegiatan ini digelar selama dua hari pada momen Lebaran Idulfitri, yakni pada 1 dan 2 Syawal.
Istilah “Tiyu” berasal dari bahasa setempat yang berarti pawai menggunakan kuda. Tradisi ini bertujuan untuk memeriahkan datangnya bulan Syawal sekaligus menyambut hari kemenangan setelah menjalankan ibadah puasa Ramadan.
Asal-usul tradisi Tiyu memiliki beragam versi. Pasalnya, tidak terdapat catatan sejarah resmi yang menjelaskan awal mula tradisi tersebut. Namun, berdasarkan penuturan para tokoh setempat, Tiyu diyakini berawal dari peristiwa perang antara Kerajaan Selaparang di Lombok Timur dan Kerajaan Karangasem dari Bali.
Pada masa itu, Kerajaan Karangasem menginvasi wilayah Lombok Timur. Untuk mempertahankan wilayahnya, Kerajaan Selaparang meminta bantuan pasukan dari Kerajaan Gowa, Sumbawa. Pasukan tersebut datang ke Lombok dengan menunggangi kuda sebagai alat transportasi.
Setelah berhasil memukul mundur pasukan Kerajaan Karangasem, sebagian prajurit Kerajaan Gowa tidak kembali ke daerah asalnya. Mereka justru menetap di wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Jantuk.
Seiring berakhirnya konflik, kuda-kuda yang sebelumnya digunakan dalam peperangan kemudian dimanfaatkan untuk merayakan kemenangan. Dari sinilah tradisi Tiyu diyakini bermula dan terus dilestarikan hingga kini, terutama pada momen Idulfitri.
Tradisi Tiyu Diwariskan Turun-temurun
Kepala Desa Jantuk, Yudi Hermawan, mengatakan bahwa sejarah pasti tradisi Tiyu memang belum memiliki catatan resmi dan hanya diwariskan secara turun-temurun.
“Cerita yang kami terima dari orang tua terdahulu menyebutkan bahwa tradisi ini berkaitan dengan prajurit Kerajaan Gowa yang datang membantu peperangan di Lombok Timur dengan menunggangi kuda,” ujarnya.
Ia menambahkan, pelaksanaan Tiyu pada Idulfitri juga memiliki makna simbolis sebagai bentuk perayaan kemenangan setelah sebulan penuh menahan hawa nafsu selama Ramadan.
Berdasarkan pantauan Suara NTB pada Sabtu (21/3/2026) sekitar pukul 16.00 Wita, ribuan warga memadati rute pawai usai melaksanakan salat Asar. Lintasan pawai kuda memiliki panjang sekitar 500 meter. Ratusan kuda berbaris lengkap dengan penunggangnya, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, baik laki-laki maupun perempuan.
Puncak pawai dijadwalkan berlangsung pada pukul 03.00 Wita dini hari. Waktu tersebut dipilih karena telah menjadi ketentuan turun-temurun dalam pelaksanaan tradisi Tiyu di Desa Jantuk.
Pada Lebaran Idulfitri 1447 Hijriah/2026, tercatat sebanyak 189 ekor kuda mengikuti pawai. Kuda-kuda tersebut didatangkan dari berbagai wilayah di Pulau Lombok, seperti Lombok Barat, Lombok Utara, Lombok Tengah, dan Lombok Timur.
Minimnya jumlah kuda di Desa Jantuk membuat para peserta harus menyewa dari daerah lain. Harga sewa kuda bervariasi, tergantung ukuran dan kelincahannya, berkisar antara Rp3 juta hingga Rp5 juta.
Adu Gengsi antar-Peserta
Salah seorang peserta, Andi, mengaku telah mempersiapkan diri sejak jauh hari dengan mencari kuda hingga ke luar desa, bahkan ke Kabupaten Lombok Barat, sekitar dua pekan sebelum Idulfitri.
“Mau tidak mau harus keluar mencari, karena di sini tidak ada kuda dan kami ingin mendapatkan yang bagus,” katanya.
Menurut Andi, tradisi Tiyu juga menjadi ajang gengsi antar peserta. Semakin besar dan gagah postur kuda, semakin tinggi pula rasa percaya diri saat tampil.
Karena itu, para peserta rela berkeliling Pulau Lombok demi mendapatkan kuda yang sesuai dengan kriteria mereka. Bahkan, masyarakat Desa Jantuk lebih mengutamakan biaya untuk menyewa kuda dibandingkan membeli pakaian Lebaran.
Tingginya antusiasme terhadap tradisi ini juga terlihat dari warga perantauan yang memilih pulang kampung demi ikut serta dalam pawai Tiyu.
“Selama mereka memiliki darah Jantuk, pasti pulang,” pungkas Andi. (pan)

