Selong (Suara NTB) – Pemerintah Kabupaten Lombok Timur (Lotim) menunggu izin prinsip dari Kementerian Kehutanan (Kemenhut) terkait rencana sewa lahan seluas 25 hektare (ha) di atas kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Pemkab Lotim sudah alokasikan Rp 800 juta untuk menyewa lahan tersebut.
Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Lotim, Widayat menjawab Suara NTB, Kamis (26/3/2026) menjelaskan rencana sewa lahan selama 35 tahun. Dalam waktu delapan tahun setelah dapat izin pengelolaan, Pemkab Lotim katanya bisa balik modal.
Sesuai instruksi Bupati Lotim, pengelolaan lahan TNGR yang disewa ini akan diserahkan ke PT Selaparang Energi. Saat ini masih dalam proses pengusulan dan kelengkapan izin sebagain landasan hukum pengelolaan kawasan hutan. Adapun lokasi yang disewakan tersebut termasuk objek wisata Otak Kokoq Joben.
Menurut Widayat, agar bisa cepat balik modal pendapatan yang diperoleh dari hasil pengelolaan kawasan wisata Joben yang kini masih dikelola bersama antara Pemkab Lotim dengan TNGR ini bisa lebih besar. Sebelumnya hanya diperoleh Rp 150-200 juta pertahun. “Agar bisa cepat balik modal harus dapat Rp 1 miliar pertahun,” ucapnya.
Lotim sebenarnya hanya memiliki aset tempat parkir. Sementara untuk kolam renang dan air terjun Otak Kokok Joben ini merupakan kawasan TNGR. Karenanya pengelolaannya saat ini masih bekerjasama dengan TNGR. Pendapatan dari hasil pengelolaan ini diakui masih sangat minim. Salah satu penyebabnya karena semakin banyak tempat wisata lain yang serupa sehingga kunjungan ke Joben menurun.
Pelaksana Tugas Direktur PT Selaparang Energi, Joyo Supeno yang dikonfirmasi terpisah mengatakan dalam waktu dekat ini akan berangkat ke Kemenhut untuk mengurus izin prinsip kawasan TNGR tersebut. Semua persyaratan administratif sudah dilengkapi.
Disampaikan, proses perizinan lewat Online Single Submission (OSS) sebelumnya pernah terkendala karena gangguan sistem. Namun sekarang sudah dilewati dan tinggal menanti persetujuan resmi Kemenhut.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni diketahui beberapa kali dagang ke Lotim. Hasil komunikasi dengan Menhut katanya sudah meminta pejabat terkait Kemenhut untuk mempercepat proses perizinan yang diminta Pemkab Lotim.
Sesuai arahan Bupati Lotim, H. Haerul Warisin, luas kawasan 25 ha lahan hutan konservasi. TNGR tetap dilihatkan sebagai kepanjangan tangan pemerintah dalam mengurus semua dokumen prinsip.
Sebagai pengelola yang ditunjuk Bupati, PT Sekarang Energi sudah siapkan konsep pengembangan kawasan bersama dengan Dinas Pariwisata. Diantaranya tempat wisata berbasis eco tourism akan menyediakan fasilitas wisata menarik. Diantaranya camping ground, tempat outbound, homestay dan fasilitas penunjang wisata alam lainnya.
Pilihan wisata ke depan tidak saja Sembalun, tapi ada Joben yang bisa lebih dekat dan mudah dijangkau masyakarat di sekitar perkotaan. (rus)

