PEMERINTAH Kelurahan Bintaro, Kecamatan Ampenan, memastikan kesiapan pelaksanaan perayaan Lebaran Ketupat 1447 Hijriah yang akan digelar pada Sabtu, 28 Maret 2026 di kawasan Makam Bintaro. Berbagai persiapan, mulai dari aspek teknis hingga pengamanan, telah dimatangkan guna mendukung kelancaran kegiatan tahunan tersebut.
Perayaan Lebaran Ketupat yang jatuh pada bulan Syawal ini merupakan tradisi yang rutin dilaksanakan masyarakat. Tahun ini, Pemerintah Kota Mataram memusatkan kegiatan di dua lokasi utama, yakni Makam Bintaro di Kecamatan Ampenan dan Makam Loang Baloq di Kelurahan Tanjung Karang, Kecamatan Sekarbela.
Adapun tema yang diusung untuk perayaan di Ampenan adalah “Jadikan Mataram Religi Ketupat sebagai Momentum Mempererat Tali Silaturahmi Masyarakat Ampenan Satu Sampan Menuju Mataram Semakin Harum” atau disingkat Makrifat (Mataram Religi Ketupat Satu Sampan).
Lurah Bintaro, Rudy Herlambang, mengatakan jajaran pemerintah kecamatan bersama 10 kelurahan di wilayah Ampenan telah melakukan berbagai persiapan sejak Jumat 27 Maret, terutama terkait sarana dan prasarana kegiatan.
“Setelah salat Jumat, teman-teman langsung melakukan persiapan fasilitas acara seperti terop, umbul-umbul, dan sarana pendukung lainnya. Konsep kegiatan pada dasarnya tidak banyak berubah dari tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pelaksanaan kegiatan ini melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari Karang Taruna tingkat kecamatan dan kelurahan, kepala lingkungan, RT, kader Satlinmas, hingga tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda, dan warga setempat.
“Warga Bintaro sebagai tuan rumah sangat antusias dan turut aktif dalam menyukseskan kegiatan ini,” tambahnya.
Selain itu, aspek pengamanan juga menjadi perhatian utama. Pemerintah Kota Mataram bersama pihak kecamatan menyiapkan pengamanan terpadu yang melibatkan berbagai instansi, seperti TNI, Polri, Dinas Perhubungan, Satpol PP, BPBD, serta dukungan linmas dari seluruh kelurahan di Kecamatan Ampenan.
“Pengamanan dilakukan secara kolaboratif agar kegiatan berjalan tertib dan lancar,” jelas Rudy.
Dalam perayaan tersebut, tradisi “Topat Agung” kembali dihadirkan sebagai simbol utama Lebaran Ketupat. Namun, tahun ini ukuran Topat Agung dibuat lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya, yakni sekitar 40×50 sentimeter, meningkat dari ukuran 40×40 sentimeter pada 2025.
Menurut Rudy, perubahan ukuran tersebut menyesuaikan dengan konsep dan kreativitas yang ditampilkan, termasuk hasil penilaian keunikan pada pawai takbiran sebelumnya.
Di sisi lain, perayaan Lebaran Ketupat di Ampenan juga mencerminkan keberagaman budaya dan toleransi antarumat beragama. Hal ini terlihat dari keterlibatan masyarakat lintas etnis, termasuk warga Tionghoa yang turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
“Partisipasi mereka tidak hanya meramaikan, tetapi juga memberikan sumbangan, meskipun tidak besar secara materi. Kontribusi ini sangat berarti dan sudah menjadi tradisi setiap tahun,” ungkapnya.
Melalui perayaan ini, Pemerintah Kelurahan Bintaro berharap Lebaran Ketupat tidak hanya menjadi ajang pelestarian tradisi, tetapi juga memperkuat kebersamaan, toleransi, dan keharmonisan antarwarga di Kota Mataram. (pan)

