Mataram (Suara NTB) – Pemerintah Provinsi NTB mempercepat proyek hilirisasi nasional sektor peternakan senilai Rp1,7 triliun untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) .
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) NTB Muhamad Riadi mengatakan pembangunan parent stock menjadi proyek pertama yang diprioritaskan karena akan menjadi sumber produksi day old chick (DOC) atau bibit ayam untuk kebutuhan NTB.
“Yang mendapat penugasan dari Danantara untuk segera dibangun lebih dulu adalah parent stock di Serading. Parent stock itu nanti akan menghasilkan DOC,” kata Riadi di ruang kerjanya, Rabu, 1 April 2026.
Menurut Riadi, penugasan pembangunan parent stock dan rumah potong unggas (RPU) telah diberikan kepada PT Berdikari. Sementara untuk pembangunan pabrik pakan, pulet ayam petelur, dan industri olahan unggas, Danantara masih mengevaluasi sejumlah perusahaan yang berminat.
Salah satu investor yang telah menyatakan kesiapan secara resmi adalah PT Agriculture Global Khatulistiwa (AGK). Perusahaan tersebut telah mengirimkan surat kepada Pemprov NTB dan siap masuk ke seluruh rantai bisnis hilirisasi peternakan.
“AGK sudah bersurat ke kami dan siap berinvestasi untuk mendukung hilirisasi ini. Mau ditempatkan di parent stock atau kegiatan lain, mereka siap,” ujarnya.
Riadi menambahkan, lokasi parent stock direncanakan berdiri di atas lahan milik Pemprov NTB di Serading seluas 10 hektare. Lahan tersebut merupakan bagian dari aset seluas 42 hektare milik Pemprov NTB.
Meski begitu, proses pembangunan masih menunggu penyelesaian administrasi lahan. Pemprov telah mengajukan surat ke Badan Keuangan Daerah untuk proses appraisal, namun penilaian belum dapat dilakukan karena batas lahan yang akan digunakan masih harus ditetapkan Badan Pertanahan Nasional (BPN).
“Kita sudah minta PT Berdikari segera menentukan batas area yang dipakai. Setelah itu baru kita bersurat ke BPN dan lahan bisa dinilai,” kata Riadi.
Ia mengungkapkan Presiden meminta proyek tersebut mulai berjalan tahun 2026 ini. Karena itu, Kementerian Pertanian disebut melakukan evaluasi progres setiap pekan terhadap sejumlah daerah prioritas, yakni NTB, Gorontalo, Jawa Timur, Sulawesi, dan Sulawesi Selatan.
Selain parent stock di Sumbawa, proyek hilirisasi peternakan juga mencakup pembangunan rumah potong unggas di Lopok, Kabupaten Sumbawa, pabrik pakan di Dompu, serta pabrik pengolahan hasil unggas di Lombok Tengah.
Pabrik pakan sengaja diusulkan dibangun di Dompu karena wilayah tersebut menjadi sentra jagung terbesar di NTB.
“Kalau pabrik pakan dibangun di Dompu, otomatis bisa menyerap produksi jagung petani di sana,” ujar Riadi.
Riadi menyebut pembangunan parent stock di Sumbawa dinilai sangat layak karena selama ini fasilitas indukan ayam di NTB hanya berada di Pulau Lombok.
“Di Pulau Sumbawa belum ada parent stock. Karena itu dipilih di Serading. Kalau semuanya sudah terbangun, kita bukan lagi bicara mendatangkan bibit dari luar, tapi justru menjual keluar NTB,” demikian Riadi.(bul)

