Mataram (Suara NTB) – Gubernur NTB, Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal, mendorong pelaku UMKM dan pengrajin lokal di daerah ini untuk naik kelas, pembinaannya dilakukan tiga tahun dan harus mandiri. Hal itu disampaikan Iqbal saat membuka Karya Kreatif NTB (KK-NTB) 2026 yang digelar Bank Indonesia di Lombok Epicentrum Mall (LEM), Jumat sore, 15 Mei 2026.
Iqbal terlebih dahulu menyampaikan apresiasi kepada Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB yang dinilai konsisten menggelar ajang KK-NTB setiap tahun sebagai ruang promosi dan pembinaan bagi pelaku UMKM lokal.
“Saya mengikuti kegiatan ini untuk kedua kalinya dan saya melihat ada evolusi, ada perbaikan, ada progres. Kegiatan ini semakin bermakna dari tahun ke tahun,” ujarnya.
Iqbal mengungkapkan, tahun lalu dirinya sempat menyoroti minimnya wajah-wajah baru dalam pameran UMKM di NTB. Menurutnya, banyak pelaku usaha potensial di pelosok daerah yang belum tersentuh pembinaan.
Ia mengaku senang karena pada penyelenggaraan tahun ini terdapat 15 UMKM baru yang ikut ambil bagian.
“Di seluruh NTB ini banyak sekali hidden gems. Banyak mutiara terpendam yang kalau dibina dengan baik akan menjadi produk unggulan,” katanya.
Ia menekankan program inkubasi UMKM harus memiliki target jelas. Menurutnya, masa pembinaan idealnya maksimal tiga tahun, dimulai dari tahap startup, pengembangan produk, hingga komersialisasi penuh agar pelaku usaha mampu mandiri.
“Kalau inkubasi tidak berujung pada kemandirian, berarti inkubasi itu gagal,” tegasnya.
Dalam kesempatan ini, Iqbal juga membagikan pengalamannya membeli produk tenun Munafa dari Kabupaten Dompu yang ia kenakan saat acara tersebut. Ia mengaku sengaja memesan motif khusus dan terkesan dengan kualitas hasil karya pengrajin lokal.
Karena puas dengan hasilnya, ia bahkan membayar tiga kali lipat dari harga yang ditawarkan pengrajin.
“Saya ingin menunjukkan bahwa karya mereka layak dihargai tinggi,” ujarnya.
Menurut mantan diplomat ini, selama ini produk pengrajin di negara berkembang sering kali hanya dihargai berdasarkan tenaga kerja manual semata. Berbeda dengan negara maju yang mampu membangun narasi kuat sehingga produknya dipandang sebagai karya seni bernilai tinggi.
“Mindset kita harus berubah. Jangan lagi melihat produk pengrajin hanya sebagai kerajinan tangan, tetapi sebagai karya seni,” katanya.
Selain kriya, Iqbal juga menyoroti potensi besar kopi NTB yang dinilai memiliki cita rasa khas dan berpeluang menjadi produk unggulan daerah.
Ia menyebut kopi arabika dari Sembalun dan Sajang di kaki Gunung Rinjani memiliki karakter rasa yang kuat. Sementara di Pulau Sumbawa terdapat kopi robusta unggulan seperti Kopi Tepal dan Kopi Tambora.
Iqbal bahkan mendorong pelaku industri kopi untuk mulai mengembangkan konsep blended coffee dengan menggabungkan karakter kopi Lombok dan Sumbawa agar tercipta identitas baru kopi khas NTB.
“Kalau budaya Lombok dan Sumbawa bisa menyatu, kenapa kopinya tidak?” ujarnya.
Ia menambahkan, setelah fondasi UMKM lokal semakin kuat melalui proses inkubasi, pemerintah daerah akan mulai lebih agresif membawa produk NTB ke pasar yang lebih luas, termasuk ajang internasional.
Iqbal mengungkapkan NTB telah menerima sejumlah undangan pameran luar negeri. Salah satunya adalah undangan dari Menteri Perdagangan untuk menjadi tamu kehormatan dalam pameran ASEAN-China di Tiongkok pada September mendatang.
“Kita siapkan dulu fondasinya kuat, setelah itu kita dorong mereka keluar ke pasar global,” tandasnya. (bul)

