Jumat, Mei 15, 2026

Beranda EKONOMI BI: Pariwisata Jadi Mesin Utama Ekonomi Bali-Nusra

BI: Pariwisata Jadi Mesin Utama Ekonomi Bali-Nusra

BI: Pariwisata Jadi Mesin Utama Ekonomi Bali-Nusra
Achris Sarwani

Mataram (Suara NTB) – Bank Indonesia menegaskan sektor pariwisata masih menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi kawasan Bali-Nusa Tenggara (Balinusra), termasuk Nusa Tenggara Barat (NTB). Karena itu, penguatan ekonomi kreatif dan UMKM dinilai menjadi strategi penting untuk menjaga momentum pertumbuhan daerah di tengah ketidakpastian global.

Hal ini disampaikan Koordinator Wilayah Bank Indonesia Bali Nusra, Achris Sarwani, saat pembukaan ajang Karya Kreatif NTB (KK-NTB) 2026 di Lombok Epicentrum Mall (LEM), Jumat, 15 Mei 2026 sore.

Achris mengatakan, salah satu mandat Bank Indonesia sebagai bank sentral di daerah adalah menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Peran tersebut dijalankan melalui fungsi advisory kepada kepala daerah, termasuk mencari sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru di luar sektor tradisional.

“Bank Indonesia memang punya tugas untuk mendukung pertumbuhan ekonomi daerah. Kami bertugas menjadi advisor bagi kepala daerah dan salah satu fokusnya adalah mendorong sumber pertumbuhan ekonomi baru,” ujarnya.

Menurutnya, sektor ekonomi kreatif menjadi salah satu sektor potensial yang harus terus dikembangkan melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, instansi vertikal, serta pelaku usaha.
Ia memaparkan, pertumbuhan ekonomi kawasan Balinusra saat ini tercatat mencapai sekitar 7,93 persen, lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,61 persen. Tingginya pertumbuhan ini salah satunya ditopang oleh sektor pariwisata.

Berdasarkan struktur ekonomi kawasan Balinusra, sektor pariwisata disebut menyumbang hampir 30 persen atau sekitar 29,79 persen, lebih tinggi dibanding sektor pertanian yang berada di kisaran 20 persen.

“Ini menunjukkan bahwa pariwisata adalah mesin utama ekonomi kawasan Bali Nusra. Kalau pariwisata di wilayah ini turun, dampaknya juga bisa terasa terhadap ekonomi nasional,” tegas Mantan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB ini.

Meski demikian, Achris mengakui sektor pariwisata saat ini menghadapi tantangan akibat gejolak global, termasuk konflik di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi mobilitas wisatawan internasional. Namun, BI tetap optimistis karena pasar wisatawan dari Australia, Tiongkok, Jepang, dan Korea masih sangat potensial bagi wilayah Bali Nusra.

Apalagi, kawasan ini akan segera memasuki periode high season pariwisata bersamaan dengan momentum libur sekolah.

“Kami masih optimistis pertumbuhan ekonomi tetap terjaga jika peluang ini bisa dimanfaatkan dengan baik,” katanya.

Achris juga menyoroti pentingnya memperkuat promosi pariwisata internasional melalui ajang Bali and Beyond Travel Fair (BBTF) yang akan digelar pada 27–29 Mei mendatang di Bali. Event tersebut dinilai menjadi peluang besar bagi NTB untuk memasarkan destinasi wisata dan desa wisata kepada buyer internasional dari berbagai negara.

Ia menyebut, hingga saat ini lebih dari 40 negara telah mendaftar sebagai buyer dalam ajang tersebut.

“NTB harus memanfaatkan momentum ini. Desa wisata di NTB perlu ikut tampil agar bisa masuk dalam paket wisata internasional, bukan hanya Bali, tetapi satu kawasan Bali Nusra,” ujarnya.
Selain promosi destinasi, BI juga terus memperkuat kemudahan transaksi wisatawan mancanegara melalui pengembangan sistem pembayaran digital lintas negara berbasis QRIS cross border.

Saat ini, wisatawan asal Tiongkok yang menggunakan Alipay dan WeChat Pay disebut sudah dapat bertransaksi melalui QRIS di Indonesia. Fasilitas serupa juga mulai tersedia bagi wisatawan dari Jepang, Korea Selatan, serta sejumlah negara ASEAN.

“Bank Indonesia ingin memastikan wisatawan yang datang ke Indonesia, termasuk NTB, mendapatkan kemudahan transaksi. Ini bagian dari upaya memperkuat daya saing pariwisata daerah,” katanya.

Achris menambahkan, sinergi antara Pemerintah Provinsi NTB dan Bank Indonesia diharapkan terus diperkuat agar sektor pariwisata, ekonomi kreatif, dan UMKM lokal semakin berkembang dan menjadi penopang pertumbuhan ekonomi daerah ke depan. (bul)