Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB optimis target investasi Rp68 triliun di tahun 2026 dapat tercapai. Meski saat ini dunia, khususnya di kawasan Teluk masih memanas akibat perang antara Iran versus Amerika dan Israel, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) akan mengubah arah dengan cara gaet investor di luar daerah konflik.
Kepala DPMPTSP NTB NTB, Irnadi Kusuma mengatakan menargetkan promosi ke wilayah seperti Asia Timur, Asia Tenggara, Australia, Oceania, Eropa Barat, dan Amerika Utara. Langkah ini diambil karena aktivitas promosi dan forum investasi di kawasan Timur Tengah dinilai akan terdampak konflik yang sedang berlangsung.
Meski demikian, Irnadi menyebut minat investor yang telah menjajaki peluang investasi sebelumnya diyakini tetap berlanjut.
“Kalau dari sisi keluar promosi ada pengaruhnya gejolak di Timur Tengah. Tapi kalau yang masuk secara investasi mungkin tidak terlalu berpengaruh. Pengaruhnya di kita tidak maksimal melakukan promosi dan mengadakan forum investasi internasional di Timur Tengah,” ujarnya, Senin (6/4/2026).
Untuk menjaga daya tarik investasi, DPMPTSP NTB memperkuat komunikasi dengan investor yang telah beroperasi di daerah tersebut. Strategi ini diharapkan mampu menciptakan efek promosi dari mulut ke mulut mengenai kondisi investasi yang tetap aman dan kondusif.
Selain itu, pemerintah daerah juga berupaya menyeimbangkan kontribusi antara Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Tahun sebelumnya, realisasi PMA belum mencapai target akibat berbagai faktor eksternal, termasuk kendala infrastruktur.
Sepanjang 2025, realisasi investasi di NTB tercatat melampaui target nasional yang ditetapkan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), dengan capaian sebesar Rp61,1 triliun.
Investasi tersebut banyak terkonsentrasi di Kabupaten Sumbawa Barat, Kabupaten Lombok Tengah, dan Kota Mataram, dengan sektor unggulan meliputi energi dan sumber daya mineral, pariwisata, ekonomi kreatif, serta industri.
Namun, sejumlah tantangan masih dihadapi, seperti ketimpangan investasi antarwilayah, kendala teknis pada sistem Online Single Submission (OSS), serta perlunya pembaruan peta potensi investasi daerah. Ke depan, pemerintah akan memperkuat digitalisasi layanan, pengawasan perizinan berbasis risiko, serta mendorong investasi hijau dan berkelanjutan.
Untuk tahun 2026, NTB menargetkan sejumlah proyek strategis dapat terealisasi. Di antaranya pembangunan pembangkit listrik energi baru terbarukan (EBT) oleh PT Berkah Energi Lombok yang bekerja sama dengan PT Shine Green Energy Indonesia. Proyek senilai Rp3,1 triliun ini mencakup pembangunan PLTS dan PLTB dengan total kapasitas 130 MW yang tersebar di Lombok Utara, Dompu, Bima, dan Lombok Barat.
Selain sektor energi, pemerintah juga menawarkan berbagai proyek pembangunan hotel bintang lima di kawasan strategis seperti Mandalika, Pantai Kerakas, Kuta, dan Gili Gede. Proyek-proyek tersebut mencakup pembangunan hotel dan resort dengan berbagai kapasitas dan nilai investasi ratusan miliar rupiah.
Di sektor agribisnis, terdapat rencana investasi peternakan sapi pedaging di Kabupaten Sumbawa dengan nilai Rp556 miliar, serta proyek budidaya udang di Kabupaten Sumbawa Barat senilai Rp507 miliar. Kedua proyek ini ditargetkan mampu meningkatkan produksi pangan sekaligus membuka lapangan kerja baru. (era)

