BerandaEKONOMIHarga HP Meroket

Harga HP Meroket

Mataram (Suara NTB) – Harga telepon genggam (HP) Android dalam dua bulan terakhir mengalami kenaikan signifikan, mencapai 40 hingga 50 persen. Hal ini membuat penjualan di sejumlah toko ponsel menurun drastic. Kondisi ini bahkan disebut kenaikan tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.


Salah satu pemilik toko handphone besar di Mataram, Ricky Hartono Putra, mengatakan kenaikan harga terjadi secara bertahap sejak pertengahan April 2026. Akibatnya, banyak calon pembeli yang sebelumnya memiliki anggaran terbatas kini terpaksa menunda pembelian atau beralih ke sistem kredit.


“Dari sisi jumlah penjualan pasti berkurang. Orang yang dulu cari HP di bawah Rp1,5 juta sekarang harus nabung lagi karena harga paling murah sudah Rp1,7 juta sampai Rp1,8 juta,” ujarnya, pekan kemarin.


Menurut Ricky, lonjakan harga dipicu oleh dua faktor utama, yakni kenaikan harga komponen elektronik, terutama RAM, serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
“Awal Mei kemarin harga naik karena komponen HP, terutama RAM. Kenaikannya sekitar 20 sampai 30 persen. Lalu akhir Mei ada kenaikan lagi karena pengaruh dolar dan melemahnya rupiah, sekitar 10 sampai 20 persen. Kalau dihitung rata-rata, HP Android sekarang naik 40 sampai 50 persen dibanding harga sebelumnya,” jelasnya.


Ia mengungkapkan, sebelum kenaikan terjadi, konsumen masih bisa memperoleh ponsel baru dengan harga Rp1,1 juta hingga Rp1,2 juta. Namun kini, harga perangkat paling murah di pasaran sudah berada di kisaran Rp1,7 juta hingga Rp1,8 juta.


“Kalau dirupiahkan, kenaikannya sekitar Rp500 ribu sampai Rp600 ribu per unit. Bahkan Senin kemarin ada penyesuaian harga lagi,” katanya.


Ricky menuturkan harga perangkat Android telah mengalami tiga kali penyesuaian sejak April lalu, yakni pada pertengahan April, awal Mei, dan akhir Mei. Salah satu merek yang mengalami kenaikan cukup tinggi adalah Oppo. Produk yang sebelumnya dijual sekitar Rp1,5 juta kini telah mencapai Rp2,3 juta untuk varian termurah.


Menurutnya, kondisi saat ini merupakan yang terburuk sejak dirinya menjalankan usaha penjualan ponsel.


“Ini mungkin rekor sepanjang sejarah saya buka toko HP. Belum pernah ada kenaikan sampai 40 sampai 50 persen seperti sekarang,” ujarnya.


Kenaikan harga tersebut berdampak langsung terhadap volume penjualan yang disebut turun antara 30 hingga 40 persen.


Tidak hanya ponsel, sejumlah produk elektronik pendukung juga mengalami kenaikan harga. Memori, flashdisk, hingga berbagai aksesori ikut terdampak oleh kenaikan biaya impor dan komponen.


“Semua yang berhubungan dengan elektronik naik. Bahkan beberapa barang penunjang seperti tas HP yang biasanya Rp1.300 sampai Rp1.400 per unit sekarang hampir Rp2.000,” ungkap Ricky.


Menghadapi situasi tersebut, para pelaku usaha mulai menerapkan berbagai strategi untuk mempertahankan penjualan. Program bundling aksesori, promosi, hingga penawaran kredit menjadi alternatif agar konsumen tetap dapat membeli perangkat yang dibutuhkan.


“Sekarang banyak konsumen yang dialihkan ke kredit karena uang tunainya tidak cukup. Jadi kami harus mencari strategi baru agar tetap bisa bertahan,” katanya.


Ia berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas ekonomi nasional, khususnya nilai tukar rupiah, agar tekanan terhadap sektor usaha tidak semakin berat. (bul)

Sejumlah sales di sebuah toko HP di Mataram sedang menunggu pembeli. (Suara NTB/ist)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO