Praya (Suara NTB) – Tahun ini menjadi tahun kedua Pertamina Mandalika International Circuit atau Sirkuit Mandalika sebagai host ajang GT World Challenge Asia. Selaku penyelenggara, Mandalika Grand Prix Assocation (MGPA) siap menyuguhkan sambutan yang berbeda kepada para pembalap, tim, dan penonton yang hadir nantinya.
MGPA akan menggelar petunjukan megah dengan mengangkat kekayaan alam dan budaya kawasan Sunda Kecil (Bali, NTB, dan NTT) pada Opening Ceremony GT World Challenge Asia 2026, Minggu (3/5/2026) mendatang.
“Seremoni pembukaan ini menjadi momen penting, bukan sekadar pembuka rangkaian balap saja. Tapi juga sarana memperkenalkan budaya lokal NTB dan nusantara secara luas kepada para pembalap dan tim mancanegara yang mendominasi sebagai peserta GT World Challenge Asia tahun ini,” ungkap Direktur Utama MGPA, Priandhi Satria, dalam keterangnya, Senin (13/4/2026).
Sirkuit Mandalika tidak hanya menjadi tuan rumah ajang balap internasional seperti GT World Challenge Asia saja. Namun, juga panggung strategis untuk menampilkan identitas Indonesia kepada dunia, sehingga di setiap momen akan dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk terus mengenalkan Indonesia kepada Dunia
Pelaksaan opening ceremony GT World Asia itu nantinya akan dikemas secara profesional. Dalam hal ini MGPA berkolaborsi dengan pihak ketiga yang profesional dan berpengalaman di bidang kreatif dan produksi pertunjukan. Dengan kolaborasi tersebut diharapkan bisa menghadirkan sajian berstandar internasional. Namun tetap mengedepankan kekuatan budaya lokal.
“Dalam visual yang kuat dan mudah dikenali, deretan simbol seperti Gunung Rinjani, Gunung Tambora, kuda, kerbau, hiu paus, komodo hingga elemen khas seperti Uma Lengge dan ogoh-ogoh Bali akan ditampilkan dalam desain artistik yang terintegrasi,” jelasnya.
Seluruh elemen tersebut, lanjut Priandhi, akan dirangkai menjadi narasi visual tentang Indonesia dengan atraksi budaya menjadi kekuatan utamanya. Kesenian seperti peresean, gendang beleg serta tari kecak dikolaborasikan dengan musik tradisional lintas daerah yang dinamis dan energik. Perpaduan unsur tradisional dan sentuhan modern tersebut diharapkan bisa menghadirkan pertunjukan yang tidak hanya atraktif, tetapi juga komunikatif bagi audiens internasional.
Kemegahan opening ceremony menjadi langkah penting dalam menyambut dominasi peserta asing di ajang GT World Challenge Asia kali ini. Yang berarti pula peluang besar bagi Indonesia untuk memperkenalkan kekayaan budaya nusantara. Sekaligus menunjukkan keramahan masyarakat Indonesia sebagai tuan rumah.
“Jadi opening ceremony GT World Challenge Asia 2026 nantinya tidak hanya sekadar pembuka balapan saja. Tetapi juga instrumen diplomasi budaya. Bahwa di tengah kompetisi global, Indonesia hadir tidak hanya dengan performa, tetapi juga dengan identitas yang kuat dan berkarakter,” tegasnya kembali. (kir)

