Selasa, April 14, 2026

BerandaBREAKING NEWSKurang Kapal Pengangkut Sapi, Peternak NTB Minta Perhatian Presiden  

Kurang Kapal Pengangkut Sapi, Peternak NTB Minta Perhatian Presiden  

Mataram (Suara NTB) – Para peternak dari Bima dan Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB) meminta diperhatikan Presiden Prabowo Subianto. Saat ini pengiriman ternak dari Pelabuhan Gili Mas, Lembar, Lombok Barat kekurangan kapal. Hal ini mengakibatkan padatnya antrean kapal ternak untuk diseberangkan ke wilayah Jabodetabek untuk kebutuhan kurban.

Diketahui, penumpukan truk pengangkut sapi kembali terjadi di Pelabuhan Gili Mas. Kondisi ini dikhawatirkan akan terus berlanjut, dan akan berpotensi merugikan para peternak.

Ketua Asosiasi Peternak dan Pedagang Sapi Bima Dompu Indonesia (APPSBDI), Dr. Furkan Sangiang, menjelaskan bahwa pengiriman ternak sebenarnya sudah dimulai sejak pasca Idulfitri.

“Ini sudah mulai pengiriman ternak ke Jabodetabek. Sudah-udah dari tanggal 25 Maret, setelah Idulfitri itu sudah mulai, cuman memang puncaknya itu di tanggal 5 sampai tanggal 30 April ini,” katanya, Selasa, 14 April 2026.

Menurutnya, lonjakan pengiriman inilah yang menyebabkan antrean panjang truk di pelabuhan. Dalam kondisi normal, jumlah truk yang masuk relatif sedikit, namun sejak awal April terjadi peningkatan signifikan. Jika sebelumnya, hanya 5 sampai 10 truk ternak yang berangkat dalam sehari, namun sejak 5 April 2026, jumlahnya meledak sampai 40 truk sehari.

Meski ada imbauan pembatasan pengiriman, namun menurutnya, kondisi di lapangan sulit dikendalikan.

Furkan menjelaskan bahwa kuota pengiriman sapi dari Kabupaten Bima telah disepakati sebanyak 17.500 ekor per tahun. Namun, sebagian besar kuota tersebut terserap untuk kebutuhan Iduladha.

“Di Kabupaten Bima itu sudah disepakati 17.500 per tahun. Itu tidak semua ke Jabodetabek, ada yang ke Sulawesi. Tetapi Bima itu kayaknya hampir habis kuota 17.500 itu untuk Idul Kurban saja,” ujarnya.

Ia mengakui, secara umum proses pengiriman tahun ini sebenarnya berjalan cukup baik. Namun persoalan muncul ketika terjadi perubahan mendadak terkait operasional kapal.

Menurutnya, dalam rapat seluruh stakeholder sudah disepakati ada empat kapal pengakut yang akan melayani peternak di Pelabuhan Gili Mas. “Tapi yang membuat kami agak kecewa, ketika di tanggal 10 April, tiba-tiba ada 2 kapal yang diinformasikan docking (pemeliharaan) mendadak. Padahal saat ini sedang puncak-puncak pengiriman,” tegasnya.

Terjadi Penumpukan

Akibat kebijakan tersebut, terjadi penumpukan tidak hanya sapi, tetapi juga komoditas lain seperti jagung di sekitar pelabuhan.

“Selain sapi, ternyata juga banyak muatan jagung sehingga itu numpuk. Bahkan jarak 1 kilometer dari Gili Mas itu penuh semua jagung sama truk pemuat,” katanya.

Kondisi ini memaksa asosiasi dan pemerintah daerah mengeluarkan imbauan penghentian sementara pengiriman. Namun kebijakan tersebut justru memicu persoalan baru di lapangan.

“Ada yang sudah naik, sapi sudah naik di atas tronton, karena imbauan kami mereka turun lagi. Ini risiko. Ada beberapa kasus karena turun naik, ada sapi yang patah,” ungkapnya.

Tak hanya itu, beban ekonomi juga meningkat akibat lamanya antrean truk di pelabuhan. Mobil-mobil itu karena lama parkir di sana, ada yang 5 hari sampai 10 hari, mereka minta tambahan biaya per hari dan menjadi dilema.

Ribuan Sapi Belum Terkirim

Furkan menegaskan bahwa momentum pengiriman menjelang Iduladha sangat krusial bagi peternak. Keterlambatan distribusi berpotensi membuat sapi tidak laku di pasaran.

“Kami harus sampai di Jakarta itu paling lama 40 hari sebelum Idul Kurban atau 30 hari sebelum Idul Kurban. Kalau kami sampai kurang dari itu, dikhawatirkan sapi tidak laku. Itu pernah terjadi beberapa tahun lalu,” katanya.

Ia menyebutkan, saat ini masih terdapat ribuan sapi dari Bima dan Dompu yang belum terkirim. Melihat kondisi penumpukan truk pengakut di Pelabuhan yang terus berulang setiap tahun, APPSBDI meminta perhatian serius dari pemerintah pusat, termasuk Presiden Prabowo Subianto.

“Kami berharap kepada Presiden kami Pak Prabowo, kepada Kementerian Perhubungan, Kementerian Pertanian, tolonglah bantu kami. Kasus seperti ini hampir setiap tahun terjadi,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa sektor peternakan sapi di Bima dan Dompu memiliki kontribusi ekonomi yang sangat besar. Menurut hitungannya, ada potensi sekitar Rp500 miliar per tahun yang dibawa pulang oleh petani di Bima Dompu dari hasil penjualan sapi kurban. Belum lagi PAD yang di sumbangkan, itu hampir puluhan miliar menurutnya.

Di tengah kondisi tersebut, ia juga mengungkapkan adanya korban jiwa akibat aktivitas distribusi sapi. “Kemarin ada yang meninggal dua orang akibat kecelakaan di Bima Dompu. Bahkan anak dari almarhum sekarang dirujuk ke RSUP karena kakinya patah. Ini perjuangan-perjuangan peternak agar bisa menjual ternaknya pada momentum seperti ini,” tuturnya.

Karena itu, Furkan berharap adanya perbaikan sistem distribusi ternak yang lebih baik agar persoalan serupa tidak terus berulang.

Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB Muhamad Riadi, menjelaskan, truk yang ada di Pelabuhan Gilimas hingga Selasa (14/4/2026) pagi sebanyak 51 unit. Kapal ini pada pukul  17.00 sore sudah naik kapal Mutiara Sentosa 3. ‘’Jadi tidak terjadi penumpukan truk ternak sapi di Gilimas. Yang banyak itu trukk pengangkut jagung,’’ terangnya. (bul)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN




VIDEO