Mataram (Suara NTB) – Sejumlah siswa luar biasa mengeluhkan Tes Kemampuan Akademik (TKA) sulit. Kesulitan itu mengakibatkan durasi pelaksanaan TKA “ngaret” serta pengerjaannya menjadi kurang optimal.
Hal itu disampaikan Kepala SLB Negeri (SLBN) 2 Mataram Winarna, saat dikonfirmasi, Selasa (21/4). Winarna yang juga Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SLB Se-Pulau Lombok itu mengatakan, secara teknis pelaksanaan TKA berjalan lancar.
Namun, kendala justru terjadi pada kualitas naskah soal di dalam TKA, khususnya pada Mapel Bahasa Indonesia yang dinilai terlalu panjang.
“Saya pikir secara teknis enggak ada. Cuma lagi-lagi masalah kualitas naskah soalnya itu memang kadang-kadang terlalu panjang,” ujarnya.
Berbeda dengan Ujian Sekolah (US) yang naskah soalnya dibuat langsung oleh guru di sekolah. Sementara,soal TKA berasal dari pusat. Oleh karena itu, soal-soal yang tersedia kurang sesuai dengan kondisi siswa.
“Biasa, kalimat-kalimatnya kadang terlalu panjang. Untuk anak-anak tunarungu kan tidak suka yang panjang-panjang,” tuturnya.
Kalimat yang panjang dalam soal lanjutnya, membuat siswa kesulitan. Pasalnya, siswa dengan hambatan khusus memiliki keterbatasan dalam penguasaan kosakata.
Akibatnya, sejumlah siswa di SLBN 2 Mataram yang mengikuti tes tersebut, mengalami kendala. Terutama pada durasi pengerjaan yang ngaret hingga kurang optimal.
“Ada sedikit keterlambatan juga ada, tapi kalau kita mau cepat sesuai dengan waktu kan kadang-kadang ada hal yang keliru kan. Yang belum paham betul sudah diklik. Nah, itu karena dikejar waktu. Itu yang kurang bagus,” jelas Winarna.
Ia menyarankan, agar penyusunan naskah soal perlu disiapkan secara matang. Pelaksanaan bimbingan teknis (Bimtek) untuk penyusunan naskah soal mesti dilakukan, agar soal yang keluar sesuai dengan kemampuan dan kapasitas peserta didik.
“Jadi semuanya itu supaya balance-lah. Kalau dulu ada Ujian Nasional itu kita juga diminta untuk menyusun naskah soal. Nah, sekarang kenapa harus orang-orang yang dari pusat? Maksud saya, beberapa orang daerah pun harus dilibatkan supaya tahu kondisi masing-masing daerah kita,” tegasnya.
Adapun jumlah siswa SLBN 2 Mataram yang mengikuti TKA hanya tiga orang siswa. Ketiga siswa tersebut adalah anak dengan hambatan pendengaran (tunarungu) dan hambatan komunikasi (tunawicara).
Meski menghadapi sejumlah kendala dalam naskah soal, Winarna memastikan pelaksanaan TKA di sekolahnya berlangsung lancar.
Petugas hingga pengawas sudah disiapkan untuk memastikan kelancaran pelaksanaan tes tersebut. (sib)

