Mataram (Suara NTB) – Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) masuk dalam daftar daerah dengan kasus campak tertinggi selama triwulan pertama tahun 2026. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) NTB berada di urutan ke delapan dengan total kasus campak selama bulan Januari-Maret 2026 sekitar 1.243.
Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Provinsi NTB, Dr. dr. H. Lalu Hamzi Fikri mengatakan pada bulan April ini, suspek campak semakin bertambah di NTB. Hingga dengan 16 April 2026, terdata sekitar 1.786 kasus campak yang terjadi di tiga wilayah yaitu Kabupaten dan Kota Bima, serta Dompu.
“Peningkatan kasus dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain masih adanya kelompok anak yang belum mendapatkan imunisasi campak-rubela (MR) lengkap,” ujarnya, Rabu, 22 April 2026.
Menurutnya, imunisasi yang belum merata menjadi penyebab merebaknya kasus campak di NTB. Selain itu, tingginya mobilitas penduduk di awal tahun juga turut menyumbang perkembangan kasus campak di daerah. “Keterlambatan deteksi dan respons awal, serta faktor lingkungan dan perilaku menjadi penyebab peningkatan kasus,” sambungnya.
Campak rata-rata menyerang anak usia 5 tahun yang jarang bahkan belum pernah melakukan imunisasi. Adanya kondisi ini menunjukkan bahwa imunisasi menjadi salah satu faktor utama penyakit menular tersebut.
Pemerintah Provinsi NTB bersama pemerintah kabupaten/kota telah mengambil langkah dengan melakukan penguatan surveilans aktif dan pelacakan kontak di tingkat desa dan puskesmas, pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) pada seluruh Puksesmas di Kabupaten Bima, Kota Bima dan Kabupaten Dompu, dengan prioritas ORI diberikan bagi bayi dan balita berusia 9 sampai dengan 59 bulan.
“Langkah penanganan juga dilakukan dengan pemberian vitamin A pada kasus campak untuk mencegah komplikasi dan menurunkan risiko kematian, penguatan edukasi masyarakat mengenai gejala campak,” sambungnya.
Perlu juga imunisasi lengkap, dan segera berobat ke fasilitas kesehatan apabila muncul gejala demam disertai batuk/pilek dan ruam, menjamin ketersediaan logistik KLB, termasuk vaksin, vitamin A, serta dukungan tata laksana klinis di fasilitas pelayanan kesehatan.
Termasuk penguatan triase isolasi campak di fasyankes yang fokus pada pemisahan cepat suspek (demam, ruam, batuk/pilek) di IGD/rawat jalan, penyediaan area isolasi khusus (infeksius/pediatri), serta penanganan segera pasien dengan komplikasi (sesak/diare/sulit makan) untuk mencegah penularan intensif, terutama saat lonjakan kasus/KLB.
Pemerintah Provinsi NTB terus melakukan monitoring dan evaluasi berkala hingga situasi dinyatakan terkendali.
“Masyarakat diimbau tetap tenang namun waspada, serta berperan aktif dalam memastikan anak mendapatkan imunisasi lengkap sesuai jadwal guna memutus rantai penularan campak,” pungkasnya. (era)

