Mataram (Suara NTB) – Di tengah anggapan sebagian masyarakat bahwa gelar pendidikan tinggi harus selalu berbanding lurus dengan pekerjaan bergengsi di sektor formal, kisah hidup Rusiandi, M.M., justru menghadirkan perspektif berbeda.
Pria kelahiran Benyer, 1 Januari 1985 ini membuktikan bahwa pendidikan tinggi tetap bisa berjalan beriringan dengan profesi berbasis keterampilan, bahkan memberi dampak sosial yang luas bagi masyarakat.
Rusiandi tinggal di Jalan Dr Soetomo, Gang Gili Anyar IV Blok I, Karang Baru Selatan, Kota Mataram, ia dikenal memiliki aktivitas yang beragam. Selain sebagai terapis spa, ia juga aktif sebagai tenaga pengajar homeschooling, serta fokus dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat dan pemuda, serta aktif di kegiatan keagamaan di sekitarnya.
Di balik kesibukannya saat ini, perjalanan Rusiandi menjadi terapis ternyata dimulai sejak lebih dari dua dekade lalu. Ia mulai menekuni dunia terapi pijat sejak akhir tahun 2004.
“Alhamdulillah terapi pijat ini dimulai sejak akhir tahun 2004 sampai hari ini. Awalnya pelan-pelan, dari tetangga yang kami kasih tester, lalu teman-teman dekat. Setelah mereka merasakan manfaatnya, baru kami tawarkan lebih luas,” ujarnya.
Rusiandi mengungkapkan, ketertarikannya di dunia terapi bukan datang begitu saja. Ia menyebut keterampilan tersebut memiliki akar kuat dari keluarganya.
Menurutnya, orang tuanya dikenal memiliki kemampuan pengobatan tradisional di kampung halamannya di Dusun Benyer, Desa Telaga Baru, Kecamatan Pringgabaya, Lombok Timur. Ia meyakini ada faktor keturunan yang membuat dirinya memiliki ketertarikan sekaligus kecocokan dalam dunia terapi.
“Ketika mencoba memijat orang, ternyata mereka merasa nyaman. Dari situ saya merasa ada kecocokan dan mulai mendalami kemampuan ini,” katanya.
Untuk memperkuat kemampuannya secara profesional, Rusiandi kemudian mengikuti berbagai pelatihan keterampilan, mulai dari pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK) Lombok Tengah, hingga sejumlah pelatihan yang digelar lembaga pelatihan kerja di Mataram.
Dari pelatihan tersebut, ia memperoleh sertifikasi yang membuatnya semakin percaya diri membuka layanan terapi untuk masyarakat umum.
Tak hanya aktif di dunia terapi, Rusiandi juga memiliki pengalaman panjang di bidang pendidikan. Ia pernah mengajar selama delapan tahun di sejumlah sekolah, mulai dari tingkat SMP hingga SMK. Salah satu tempat ia mengajar adalah SMKN 2 Mataram, saat sekolah tersebut masih dikenal dengan nama STM. Di sekolah itu, ia mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris.
Kini, meski tidak lagi aktif mengajar di sekolah formal, semangatnya di bidang pendidikan tetap hidup. Ia membuka kursus Bahasa Inggris gratis bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu di wilayah Karang Baru.
“Pesertanya sekitar 20 sampai 30 anak. Kami gratiskan karena melihat kondisi ekonomi masyarakat. Kalau harus bayar, tentu berat bagi mereka,” ungkapnya.
Dalam praktik terapinya, Rusiandi menyediakan tiga jenis layanan utama. Pertama adalah pijat relaksasi, yang bertujuan memberikan rasa nyaman, segar, dan rileks bagi pelanggan.
Kedua adalah refleksi, yang difokuskan pada bagian tubuh tertentu yang mengalami keluhan. Ketiga adalah pijat kebugaran, yang bertujuan membantu meningkatkan vitalitas tubuh melalui penguatan otot-otot tertentu.
Ia mengatakan, keluhan pelanggan yang paling sering ditangani antara lain badan pegal, kebas, kelelahan otot, nyeri pinggang, sakit kepala, hingga kondisi frozen shoulder.
“Banyak masyarakat sekarang aktivitasnya sangat tinggi, terutama pekerja kantoran, perbankan, birokrasi, hingga pengusaha. Mereka butuh relaksasi untuk memulihkan tubuh,” jelasnya.
Menariknya, Rusiandi juga melayani terapi panggilan. Tak hanya di Kota Mataram, ia juga menerima pelanggan dari Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur hingga Lombok Utara.
Saat ini, ia mengaku telah melayani hampir 200 pelanggan secara pribadi. Melihat semakin besarnya kebutuhan masyarakat terhadap jasa terapi, Rusiandi kemudian menggagas pembentukan komunitas bernama Komunitas Terapis Sehat Sejahtera (KTSS) Lombok.
Komunitas ini kini memiliki sekitar 78 anggota yang tersebar di lima kabupaten/kota di Pulau Lombok. Menurutnya, komunitas tersebut dibentuk agar para terapis memiliki wadah bersama untuk berkembang, bertukar pengalaman, memperkuat legalitas, serta saling membantu sesama anggota.
“Kalau kebaikan tidak terorganisir, bisa kalah dengan hal buruk yang terorganisir. Karena itu profesi terapis perlu punya wadah,” katanya.
Langkah Rusiandi tak berhenti pada pembentukan komunitas. Ia juga mendirikan Yayasan Terapis Sehat Sejahtera sebagai wadah pemberdayaan masyarakat. Melalui yayasan tersebut, ia merekrut anak-anak muda yang belum memiliki pekerjaan untuk dilatih menjadi terapis profesional.
Mereka diberikan pelatihan berbasis vokasi seperti pijat dan bekam agar memiliki keterampilan yang dapat langsung digunakan untuk bekerja.
“Anak-anak yang belum punya pekerjaan kami latih agar punya skill. Harapannya mereka bisa mandiri dan membantu mengurangi pengangguran di NTB,” ujarnya.
Hasilnya mulai terlihat. Sejumlah peserta pelatihan kini telah bekerja di hotel-hotel, terutama di kawasan pariwisata seperti Kuta Mandalika yang membutuhkan tenaga terapis.
Di luar aktivitas profesinya, Rusiandi juga aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan di lingkungan tempat tinggalnya. Ia terlibat sebagai pengurus masjid dan mushala, mengajar mengaji, hingga aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan.
Komunitas yang dipimpinnya juga rutin menggelar kegiatan sosial berupa terapi gratis bagi masyarakat. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah bakti sosial terapis gratis di Mataram.
“Kami ingin profesi ini juga bisa hadir membantu masyarakat,” katanya.
Di balik semua aktivitas sosialnya, Rusiandi ternyata juga merupakan salah satu penerima beasiswa S2 Pemerintah Provinsi NTB. Ia menyelesaikan pendidikan Magister Manajemen Sumber Daya Manusia di Universitas Mataram. Meski bergelar magister, ia mengaku tidak pernah malu berprofesi sebagai terapis.
Baginya, nilai seseorang tidak diukur dari gelar pendidikan semata, melainkan dari manfaat yang diberikan kepada orang lain.
“Tidak ada yang perlu malu. Gelar tinggi itu bukan ukuran utama. Yang paling penting adalah seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan kepada masyarakat,” tegasnya.
Di tengah tantangan lapangan kerja yang semakin sempit, kisah Rusiandi menjadi contoh bahwa kreativitas, keterampilan, dan kepedulian sosial bisa membuka jalan kesuksesan sekaligus memberi manfaat bagi banyak orang. (bul)

