BerandaNTBLOMBOK TIMURWujud Kepedulian TNI, Rumah Tak Layak Huni Warga Paok Dibangun Menjadi Lebih...

Wujud Kepedulian TNI, Rumah Tak Layak Huni Warga Paok Dibangun Menjadi Lebih Layak

Selong (Suara NTB) – Suara adukan semen dan cangkul terdengar riuh di tengah hangatnya sinar matahari Jumat pagi (8/5/2026). Di sebuah sudut kecil Desa Sasaran II, Kecamatan yang menjadi lokasi sasaran TMMD Ke-128 di Desa Paok Lombok Kecamatan Suralaga, puluhan anggota Satgas Kodim 1615/Lombok Timur tampak bahu-membahu dengan warga setempat. Bukan untuk persiapan upacara atau latihan, melainkan untuk sebuah misi kemanusiaan: membangun kembali rumah-rumah yang nyaris tak layak huni.

Progres pembangunan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) Sasaran II dalam program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128 kali ini menunjukkan lompatan signifikan. Setelah melewati tahap pemasangan bata dan struktur utama, kini dinding-dinding rumah mulai diperkuat dengan plesteran. Bubungan semen basah mulai merata di setiap sisi, menyembunyikan pori-pori bata merah yang sebelumnya tampak rapuh.

“Hari ini kita mulai plester tembok. Alhamdulillah, semua berjalan mulus. Masyarakat sangat antusias membantu. Targetnya, dalam waktu dekat kita bisa masuk ke tahap finishing,” ujar Komandan Satgas TMMD Ke-128 Kodim 1615/Lotim, Letkol Eky Anderson di sela-sela memeriksa adukan semen.

Plesteran menjadi fase penting. Bukan sekadar mempercantik tampilan, tetapi juga memastikan dinding kokoh, tidak lembab, dan tahan lama. Bagi pemilik rumah yang puluhan tahun tinggal di bangunan berdinding bambu atau bata tanpa perekat yang layak, plesteran adalah simbol perubahan: dari rumah yang ‘malu-malu’ berdiri menjadi hunian yang benar-benar melindungi.

Di lokasi yang sama, seorang ibu paruh baya, penerima manfaat RTLH, tak bisa menyembunyikan rasa harunya. Dari balik jendela yang masih setengah jadi, ia memperhatikan para prajurit dan tetangganya bekerja. “Dulu kalau malam, angin masuk dari celah-celah bata. Sekarang tembok mulai halus. Saya tidak menyangka akan secepat ini,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Kebersamaan menjadi energi utama di proyek ini. Anak-anak muda desa bergotong royong mengangkat pasir, ibu-ibu menyiapkan air minum, sementara anggota Satgas memegang kendali teknis. Suasana akrab itu seperti pesta kecil yang mengerjakan kebaikan bersama.

Program TMMD ke-128 memang dirancang bukan hanya untuk menuntaskan sasaran fisik. Lebih dari itu, hadirnya TNI di tengah warga menjadi ruang dialog, penguatan kepercayaan, dan bukti nyata bahwa bahu membahu tidak pernah lekang oleh zaman.

“Ke depannya, rumah ini akan kami cat dan kami lengkapi dengan instalasi listrik sederhana. Kami pastikan sebelum TMMD usai, penerima manfaat sudah bisa menginap di rumah baru,” tambah Komandan Satgas optimis.

Hingga sore menjelang, plesteran terus berjalan. Debu dan serbuk semen beterbangan, tapi tak ada wajah lelah. Yang ada hanyalah keyakinan bahwa setiap goresan semen yang diratakan adalah satu langkah lagi mendekati senyum para penerima manfaat.

Dan ketika TMMD Ke-128 nanti resmi ditutup, bukan mustahil rumah-rumah sederhana itu akan menjadi saksi bisu bahwa peduli tidak harus dalam kata-kata besar, tapi dalam genggaman tangan dan tumpukan bata yang disusun bersama. (rus/*)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO