BerandaNTBLOMBOK UTARAAdaptasi El Nino, DKPPP Lombok Utara Andalkan Distribusi Air Sistem Subak

Adaptasi El Nino, DKPPP Lombok Utara Andalkan Distribusi Air Sistem Subak

Tanjung (Suara NTB) – Memasuki musim kemarau dan el nino pada musim tanam kedua dan ketiga tahun ini, distribusi air irigasi pertanian melalui kearifan lokal menjadi andalan pemerintah daerah. Kelompok-kelompok Petani P3A yang menerapkan irigasi sistem subak, diharapkan menjembatani kepentingan seluruh petani agar budidaya terlaksana secara berkelanjutan.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKPPP) Kabupaten Lombok Utara (KLU), Tresnahadi, S.Pt., Jumat (15/5/2026) mengungkapkan, irigasi pertanian di tingkat petani umumnya menjadi masalah serius.

Hal ini disebabkan volume debit air dari sumber yang berkurang. Namun demikian, ia meyakini dengan pengalaman bertani selama puluhan tahun, petani melalui Kelompok P3A dapat menyikapi keterbatasan tersebut secara arif.

“Ketersediaan air pada musim kemarau tentu mengalami penurunan dibandingkan saat musim hujan. Tentang kita selalu menghimbau kepada kelompok petani agar betul-betul bijak mengatur air agar terbagi secara merata,” ungkap Tresnahadi.

Ia menjelaskan, kelompok tani di Kecamatan Gangga, baik di Desa Gondang dan Desa Genggelang, perlu mempertahankan pola pembagian secara adil dan merata. Distribusi air melalui Kelompok P3A menjadi sistem tradisional berbasis gotong royong yang memastikan air mengalir adil dan merata ke setiap petak sawah. Sistem yang sudah berjalan di tingkat petani selama puluhan tahun ini, menjadi penyelamat tanaman petani di saat musim kemarau.

“Karena sekarang sudah masuk musim kemarau, maka sistem pembagian distribusi sebatas bergiliran di setiap blok sawah menjadi kunci,” imbuhnya.

Ia melihat, praktik yang secara turun-temurun dilakukan oleh Kelompok Petani P3A Pelopor Desa Gondang. Distribusi air melalui Subak setempat berjalan puluhan tahun tanpa menimbulkan kerugian bagi petani.

Pihaknya mengapresiasi sekaligus mendorong agar sistem Subak dapat diterapkan secara berkomitmen khususnya di tingkat anggota. Pasalnya, kebutuhan irigasi berpotensi memicu perselisihan di tingkat petani jika diatur dengan baik.

Selain pengaturan kapasitas debit air, pihaknya juga sudah mengarahkan seluruh UPTD Kecamatan agar membina pola tanam di tingkat petani.

Sejumlah daerah di Lombok Utara diketahui masih mampu menerapkan pola tanam padi hingga tiga kali dalam setahun, termasuk di wilayah Kecamatan Tanjung. Tetapi, di beberapa wilayah lainnya, petani menerapkan pola tanam padi dan palawija secara bergantian menyesuaikan kondisi air dan lahan pertanian. (ari)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO