No Other Land merupakan film dokumenter hasil kolaborasi aktivis dan jurnalis Palestina serta Israel yang tinggal di Yerusalem dan sejumlah wilayah di Tepi Barat. Film dokumenter berdurasi 96 menit (1 jam 35 menit) ini, hadir sebagai kesaksian visual tentang kehidupan warga Palestina di Masafer Yatta, Tepi Barat, yang hidup di bawah ancaman penggusuran dan konflik berkepanjangan.
Film ini disutradarai oleh Basel Adra, Hamdan Ballal, Yuval Abraham, dan Rachel Szor. Lebih dari sekadar dokumenter politik, No Other Land menjadi arsip kemanusiaan yang merekam ketakutan, harapan, serta daya tahan masyarakat yang berjuang mempertahankan tanah mereka.
Film tersebut pertama kali tayang pada ajang Festival Film Internasional Berlin 2024 dan berhasil merebut Film Dokumenter Terbaik berdasarkan penilaian juri dan penonton.
Pada 24 Maret 2025, No Other Land kembali meraih penghargaan Oscar 2025 untuk kategori Best Documentary Feature Film dalam ajang Academy Awards ke-97. Di Indonesia, film tersebut dirilis pada 1 April 2025 dan dapat disaksikan melalui platform KlikFilm dan lainnya.
Masafer Yatta merupakan wilayah yang oleh otoritas Israel ditetapkan sebagai zona latihan militer. Kebijakan tersebut berdampak pada penggusuran rumah-rumah warga Palestina yang telah lama menetap di kawasan itu. Dokumenter yang direkam sejak 2019-2023 ini menangkap berbagai momen penghancuran rumah, perlawanan warga, hingga upaya hukum untuk mempertahankan hak tinggal mereka.
Basel Adra, salah satu sutradara yang juga merupakan warga Palestina mendokumentasikan peristiwa-peristiwa tersebut sebagai bentuk perlawanan non-kekerasan. Bersama Yuval Abraham, jurnalis asal Israel, kolaborasi lintas identitas ini menghadirkan sudut pandang yang kompleks sekaligus menunjukkan adanya ruang solidaritas di tengah konflik yang tajam.
Secara teknis, No Other Land menggunakan pendekatan dokumenter observasional dengan gaya kamera genggam. Gambar yang terkadang goyah dan minim tata cahaya artistik justru memperkuat kesan autentik. Penonton seolah berada langsung di lokasi ketika buldoser merobohkan bangunan atau saat keluarga-keluarga berusaha menyelamatkan barang-barang mereka.
Film ini tidak menghadirkan narasi berlebihan maupun musik dramatis yang memanipulasi emosi penonton. Kekuatan utamanya terletak pada realitas yang dibiarkan berbicara apa adanya. Tangisan anak-anak, perdebatan warga dengan aparat, hingga percakapan reflektif antar pembuat film menjadi elemen penting yang membangun kedalaman cerita.
Salah satu aspek paling menarik dalam dokumenter ini adalah relasi antara Basel Adra dan Yuval Abraham. Keduanya berasal dari latar belakang politik yang berbeda, tetapi dipertemukan oleh komitmen yang sama untuk mendokumentasikan kenyataan di lapangan. Interaksi mereka menghadirkan lapisan narasi mengenai ketimpangan, privilese, dan empati.
Judul No Other Land yang berarti “Tak Ada Tanah Lain” menegaskan pesan utama film ini. Bagi warga yang terdampak, tanah tersebut bukan sekadar properti, melainkan identitas, sejarah, dan masa depan. Dokumenter ini tidak hanya berbicara tentang konflik teritorial, tetapi juga hak dasar manusia untuk tinggal dan hidup dengan aman.
Sejak ditayangkan di berbagai festival film internasional, No Other Land mendapat perhatian luas dan apresiasi kritis. Pengakuan tersebut menunjukkan bahwa isu yang diangkat memiliki spektrum yang sangat luas. Dokumenter ini membuka ruang diskusi mengenai hak asasi manusia, kebijakan militer, serta dampak konflik terhadap warga sipil.
Di tengah derasnya arus informasi dan narasi yang kerap terpolarisasi, No Other Land menawarkan pendekatan sederhana namun kuat, yakni memperlihatkan realitas melalui pengalaman langsung para penyintasnya.
Sebagai karya dokumenter, No Other Land berhasil menjalankan fungsi jurnalistik sekaligus artistik: merekam fakta, membangun empati, dan mengajak penonton melihat lebih dekat realitas yang sering kali terabaikan.
Film ini memang tidak menawarkan solusi instan atas konflik panjang yang kompleks, tetapi menghadirkan kesaksian yang jujur, intim, dan menyentuh tentang manusia-manusia yang berjuang mempertahankan hidup di tengah ketidakpastian. (Pandi Apriadi)
Judul: No Other Land
Tahun Rilis: 2024
Sutradara: Basel Adra, Hamdan Ballal, Yuval Abraham, dan Rachel Szor.
Produser: Fabien Greenberg, Bard Kjoge Ronning, Basel Adra, Rachel Szor, Hamdan Ballal, Yuval Abraham.
Produksi: Yabayay Media, Antipode Films.
Sinematografi/Penata Kamera: Rachel Szor.
Genre: Documentary

