Mataram (Suara NTB) – Pendidikan vokasi tidak selamanya menjamin terserap di dunia kerja. Pasalnya, delapan persen pengangguran terbuka di Kota Mataram, disumbang oleh lulusan sekolah menengah kejurusan. Ketidakmampuan bersaing diindustri disinyalir menjadi pemicu.
Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Mataram, Ida Wayan Putra Ekantara menjelaskan, permasalahan pengangguran di kawasan perkotaan hampir sama seperti kota lainnya di Indonesia. Meskipun tantangan dan kondisinya berbeda-beda. Khusus Kota Mataram memiliki karakteristik urban atau penyangga dari Kabupaten Lombok Barat, Lombok Utara dan Lombok Tengah. Walaupun Mataram sebagai sebagai epicentrum dari pusat bisnis, jasa, pendidikan dan pemerintahan. “Pengangguran menjadi sebuah keniscayaan di daerah perkotaan,” terang Putra dikonfirmasi pekan kemarin.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kota Mataram, tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada 2024 tercatat sebanyak 11.400 jiwa atau 4,85 persen. Angka tersebut menurun menjadi 11.000 jiwa atau 4,80 persen pada 2025.
Putra menegaskan, beberapa faktor menyebabkan fluktuasi pengangguran terbuka muncul setiap tahunnya. Diantaranya, kesempatan usaha, angkatan kerja dan lain sebagainya.
Mantan Sekretaris Inspektorat Kota Mataram mengharapkan, bahwa lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) sebenarnya lebih mudah diserap di perusahaan atau industri, karena memiliki kemampuan atau keahlian. Faktanya, delapan persen angka pengangguran terbuka di Ibukota Provinsi NTB, disumbang oleh lulusan sekolah kejuruan. “Justru mereka yang banyak menyumbang angka pengangguran sekitar delapan persen,” sebutnya.
Justru, ia melihat bahwa lulusan SMK tidak siap bersaing di industri karena belum dilengkapi peralatan yang memadai. Pihaknya membangun strategi melalui pelatihan dan memberikan peralatan. Tujuannya adalah masyarakat jika tidak bekerja di perusahaan minimal membuka usaha sendiri. “Kita buka pelatihan perbaikan AC, pertukangan dan salon,” sebutnya.
Di satu sisi, faktor eksternal yang memicu pengangguran sangat lamban turun adalah persaingan. Kawasan perkotaan menjadi incaran bagi masyarakat dari luar untuk mencari pekerjaan. Terkadang mereka merasa nyaman saat kuliah, sehingga ingin menetap untuk mencari pekerjaan.
Selain itu, jumlah perusahaan atau industri tidak sebanding dengan angkatan kerja. (cem)





