BerandaHEADLINETak Lagi Ajukan Bunker Radioterapi

Tak Lagi Ajukan Bunker Radioterapi

 

RUMAH Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi NTB tidak lagi mengajukan pembangunan bunker radioterapi setelah gagal tender di tahun 2025 lalu. Bunker radioterapi ini awalnya akan dibangun dengan menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) senilai Rp10 miliar.


Wakil Direktur Perencanaan dan Keuangan RSUD NTB, Baiq Nelly Kusumawati mengatakan pihaknya tidak mengajukan proyek tersebut karena rumah sakit masih kekurangan sumber daya manusia (SDM). “Karena gagal tender jadi sudah menjadi konstruksi dalam pengerjaan. Jadi bukan kesalahan dari rumah sakit,” ujarnya di Kantor Gubernur NTB, pekan kemarin.


Meski tidak mengajukan tahun ini, mantan Inspektur Kota Mataram ini mengaku RSUD NTB berencana akan mengajukan bunker terapi kanker itu ke Kementerian Kesehatan (Kemenkes) di tahun depan saat SDM di rumah sakit sudah terpenuhi.


“Sambil kami menunggu juga SDM yang masih sekolah. Jadi kami lagi mengkaji ulang untuk bisa kita anggarkan di tahun depan. Sepertinya memang di tahun depan,” jelasnya.


Pengajuan kembali bunker kedokteran nuklir ke Kemenkes dinilai tidak mudah, apalagi setelah mengalami gagal tender. Harus memperoleh izin dari sejumlah lembaga seperti Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten). Karena proyek ini sempat gagal tender, seharusnya Kemenkes tidak lagi menganggarkan karena sudah melewati batas tahun.


Di awal tahun lalu, RSUD NTB melalui Pelaksana Tugas (PLT) Direktur RSUD NTB, Lalu Hamzi Fikri sempat mengaku akan mengajukan kembali proyek bunker ini ke pusat. Semua persyaratan dokumen dikatakan sudah terpenuhi. Hanya ada beberapa syarat teknis yang belum terpenuhi. Namun, dalam perjalanannya, ternyata proyek ini tidak lagi diusulkan. Dan berencana akan diajukan di tahun berikutnya.


Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes), Lalu Hamzi Fikri menyatakan, penyakit kanker masuk daftar 10 penyakit tertinggi di NTB. Temuan terbanyak yaitu kanker leher rahim dan kanker payudara. Faktor tingginya penyakit kanker di NTB selain karena genetik juga karena perubahan gaya hidup. Selain itu, radikal-radikal bebas gampang menjangkit manusia.


“Baik makanan, gaya hidup kita yang juga sudah berbeda. Sebelum-sebelumnya kita banyak bergerak, sekarang kita kurang gerak,” terangnya. (era)

 

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO