Tanjung (Suara NTB) – Desa Sukadana, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, menyimpan potensi ekonomi luar biasa yang saling terintegrasi melalui budi daya kelengkeng jenis diamond dan peternakan lebah madu trigona. Komoditas madu lokal ini bahkan tengah bersiap menembus pasar internasional, meskipun saat ini masih menghadapi sejumlah tantangan global dan infrastruktur domestik.

Integrasi Kelengkeng dan Madu Trigona
Awal mula berkembangnya perkebunan kelengkeng di Desa Sukadana berakar dari pembentukan sekitar 12 kelompok peternak lebah madu trigona pada tahun 2021. Saat itu, para peternak mengalami kendala kekurangan nektar sebagai pakan lebah.
Untuk mengatasi masalah tersebut, Solidaritas Masyarakat untuk Transparansi Nusa Tenggara Barat (SOMASI NTB) memfasilitasi bantuan sebanyak 2.000 pohon kelengkeng. Saat ini, sekitar 1.400 pohon kelengkeng tumbuh subur dan telah berbuah lebat di lahan pekarangan rumah tangga serta kawasan perkebunan warga.
Ketua Kelompok Tani Lintang Utara, Sapta Handi, bersama anggota kelompoknya yang juga Sekretaris Desa Sukadana, Karman, pada Sabtu, 30 Mei 2026 menjelaskan bahwa varietas kelengkeng yang didominasi jenis diamond ini memiliki karakteristik buah yang tebal, manis, dan cenderung berair saat matang.
Dengan asumsi produktivitas mencapai 30 kilogram per pohon, potensi panen kelengkeng di desa ini diperkirakan mencapai 30 ton. Ke depan, Kelompok Tani Lintang Utara berencana mengembangkan kawasan agrowisata seluas 2 hektare di pinggir jalan desa untuk menangkap peluang kunjungan wisatawan.
Dampak Ekonomi bagi Warga
Kehadiran pohon kelengkeng ini membawa dampak ekonomi langsung yang signifikan bagi masyarakat. Karman mengungkapkan, sejumlah warga kini mampu meraup pendapatan dari penjualan kelengkeng berkisar antara Rp600.000 hingga Rp3.000.000 per pohon melalui sistem penjualan langsung maupun online. Selain dijual, buah tersebut juga dimanfaatkan untuk konsumsi rumah tangga.
Secara bisnis, budi daya kelengkeng ini dinilai lebih menjanjikan karena memiliki masa panen yang relatif cepat, yaitu setiap empat bulan sekali. Hal ini berbanding terbalik dengan madu trigona yang membutuhkan waktu hingga enam sampai delapan bulan untuk masa panen.

Madu Trigona Sukadana Siap Tembus Pasar Global
Di sektor peternakan lebah, madu trigona dari Desa Sukadana memiliki kualitas premium yang diminati pasar internasional. Salah satu peternak lokal, Pak Sahlan, membeberkan bahwa pihaknya telah menjajaki kontrak ekspor sebesar 20 hingga 50 ton per tahun untuk pasar Timur Tengah, khususnya Dubai.
Madu seukuran 500 ml dihargai Rp150.000 di tingkat pengepul (bos) untuk kuota ekspor tersebut. Secara akumulatif, potensi produksi madu trigona siap panen di Lombok Utara diproyeksikan mampu mencapai 15 ton per tiga bulan.
“Madu kita sebenarnya sangat diminati di luar negeri, dan proses perizinan ke Dubai dari pihak Indonesia pun sudah selesai dan clear. Saat ini kami memiliki ribuan botol madu yang tersimpan rapi di gudang dan siap dikirim,” ujar Sahlan.
Kendala Geopolitik dan Keterbatasan Air
Meski potensinya besar, realisasi ekspor madu trigona ke Dubai saat ini mengalami penundaan akibat pecahnya konflik bersenjata atau perang di wilayah Timur Tengah. Guna menyiasati kebuntuan tersebut, pihak manajemen kini tengah mengalihkan jalur pasar ke Singapura, dengan progres negosiasi yang telah mencapai 80 persen.
Di sisi lain, pasar madu domestik di Lombok Utara saat ini sedang lesu akibat maraknya serbuan madu dari luar daerah (seperti pulau Jawa) yang menggunakan label palsu “Madu Lombok Utara”. Dampaknya, harga madu lokal di tingkat pedagang anjlok dari yang semula Rp150.000 per botol isi 500 ml, kini merosot hingga Rp80.000 – Rp100.000 saja.
Selain masalah pasar global, para petani di Desa Sukadana juga mengeluhkan kendala klasik di lapangan, yakni keterbatasan akses air bersih untuk penyiraman tanaman kelengkeng. Warga berharap adanya bantuan pembangunan sumur bor dari pemerintah agar integrasi perkebunan kelengkeng dan peternakan lebah trigona ini bisa berjalan lebih maksimal demi kesejahteraan masyarakat desa. (fan)


