BerandaNTBKOTA MATARAMKemenag akan Perbaiki MTs Badrussalam

Kemenag akan Perbaiki MTs Badrussalam


Mataram (Suara NTB) – Kementerian Agama (Kemenag) Kota Mataram, memastikan akan mengupayakan perbaikan bangunan milik MTs Badrussalam NW Sekarbela yang ambruk pada Sabtu, (20/6) pekan kemarin. Perbaikan akan direncanakan melalui Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) darurat merupakan program kolaborasi antara Kementerian Agama dan Kementerian PU.


Kepala Kemenag Kota Mataram, H. Hamdun mengatakan, bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan instansi terkait di Kota Mataram, untuk mengambil tindakan cepat terhadap robohnya sekolah MTs Badrussalam di Sekarbela tersebut.
“Perbaikan lewat PHTC program Kementerian Agama dan Kementerian PU,” ujarnya kepada Suara NTB, Selasa (23/6).


Pihaknya tidak hanya mengandalkan program pusat, Kemenag juga berencana menggalang bantuan dari pihak lain, seperti Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan anggota DPR, untuk mempercepat pemulihan fasilitas madrasah.
“Sebenarnya kita sudah koordinasi dengan Baznas dengan teman-teman DPR. Mereka bisa bantu juga terutama dari Baznas,” terang Hamdun.


Pasca-kejadian, tim Kemenag Kota Mataram langsung turun ke lokasi untuk mengecek kondisi fisik bangunan. Hamdun memastikan penanganan awal telah dilakukan demi menjamin keamanan dan keselamatan warga sekolah serta masyarakat sekitar.

“Hari ini sudah diukur, sudah dikasih garis polisi dan nanti sore bangunan yang roboh akan dibuka. Khawatir nanti roboh lagi, karena berdekatan dengan rumah warga,” tambahnya.


Berdasarkan catatan Kemenag, madrasah yang berlokasi di Jalan Sultan Kaharuddin, Kelurahan Karang Pule, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram ini didirikan pada tahun 1985 dan baru sekali mendapatkan renovasi total di tahun 1995. Sebelumnya, Kemenag sudah beberapa kali mengimbau pihak madrasah untuk melakukan rehabilitasi. Namun, upaya perbaikan tersebut selalu tersendat karena kendala biaya.


Kepala MTs Badrussalam NW Sekarbela, Istiarah membenarkan bahwa fasilitas yang ambruk adalah ruang kelas VIII dan IX. Faktor usia bangunan yang sudah tua diduga kuat menjadi penyebab utama rapuhnya konstruksi atap. Istiarah menyebutkan sekolah ini dibangun pada 1984 dan terakhir direnovasi pada 1995, sehingga belum ada perbaikan besar lagi setelahnya.
“Material kayu pada bagian atap sudah lapuk karena usia,” ungkapnya saat ditemui di lokasi kejadian.

Sebelum insiden terjadi, tanda-tanda kerusakan pada struktur atap sebenarnya sudah terlihat melengkung dan menurun, sehingga sempat memicu kekhawatiran pihak sekolah.

Akibat peristiwa ini, pihak sekolah melakukan inventarisasi kerusakan dan memperkirakan total kerugian mencapai sekitar Rp250 juta. Kerugian tersebut mencakup kerusakan struktural bangunan, atap, plafon, hingga sarana dan prasarana penunjang pembelajaran di dalam kelas. (sib)



IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN






VIDEO