Mataram (Suara NTB) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi (Staklim) NTB meminta masyarakat waspada terhadap potensi kekeringan di NTB. Peringatan itu disampaikan seturut dengan potensi hujan yang kian berkurang, khususnya pada dasarian III Juni 2026.
Curah hujan di wilayah NTB pada dasarian III Juni 2026 didominasi kategori Rendah (0 – 50 mm/dasarian). Sementara sifat hujan pada dasarian III Juni 2026 di wilayah NTB didominasi kategori Bawah Normal (BN). Beberapa wilayah dengan kategori hujan Normal (N) dan Atas Normal (AN).
BMKG Staklim NTB mencatat, curah hujan tertinggi tercatat di Pos Hujan Narmada sebesar 71 mm/dasarian. Monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) berturut-turut provinsi NTB secara umum bervariasi. Dari kategori Pendek (1-5 hari) hingga sangat panjang (31 – 60 hari).
“HTH terpanjang tercatat di Pos Hujan Bolo, Kabupaten Bima. Sepanjang 43 hari termasuk dalam kategori Sangat Panjang (31-60 hari),” ujar Forecaster, Nindya Kirana, dikutip dari keterangan tertulis, Kamis (2/7).
Sementara itu, monitoring Indian Ocean Dipole (Dipol Samudra Hindia) atau IOD pada dasarian terakhir menunjukkan IOD berada pada kategori IOD Netral dengan indeks –0.298 dan berpeluang beralih menuju IOD positif mulai bulan Juli hingga Desember tahun 2026.
Anomali Suhu Permukaan Laut (SST) di wilayah Nino 3.4 menunjukkan ENSO berada pada kategori El Niño Moderat dengan indeks +1.61. El Niño diprediksi bertahan pada kategori Moderat dan berpotensi meningkat menjadi El Niño Kuat dengan peluang 98 persen hingga akhir tahun 2026.
Potensi Hujan Relatif Kecil di NTB
Aliran massa udara di sebagian besar Indonesia didominasi angin timuran. Belokan angin terlihat di wilayah sekitar ekuator. Anomali suhu muka laut di sebagian besar perairan Indonesia dalam kondisi normal hingga lebih dingin. Osilasi Madden-Julian (MJO) aktif di fase 8 hingga fase 1 (Western Hemisphere dan Africa). MJO diprediksi masih aktif hingga akhir dasarian III Juni 2026 dan bergerak menuju fase 2 dan 3 (Indian Ocean).
“Secara spasial, beberapa gelombang atmosfer diprediksi mulai tidak aktif di wilayah Indonesia selama dasarian III Juni 2026,” jelasnya.
Dengan fenomena tersebut, potensi hujan relatif kecil dengan peluang kurang dari 10 persen di seluruh wilayah NTB pada dasarian I Juli 2026.
Berdasarkan kondisi itu, BMKG Staklim memberikan peringatan dini kekeringan meteorologis di beberapa wilayah NTB. Di Kabupaten Lombok Tengah (Kecamatan Praya Barat), Kabupaten Lombok Timur di Kecamatan Jerowaru, Pringgabaya, dan Sambelia, kemudian Kabupaten Sumbawa (Kecamatan Moyo Utara dan Utan), Kabupaten Bima di Kecamatan Palibelo dan Tambora dengan level waspada.
BMKG Staklim menegaskan, berdasarkan informasi iklim dasarian III Juni 2026, seluruh wilayah di NTB saat ini telah resmi berada pada periode musim kemarau yang diperkuat oleh fenomena El Nino. Karena itu, BMKG mengimbau agar masyarakat memanfaatkan air dengan bijak guna mengantisipasi krisis air bersih.
“Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk sangat waspada terhadap potensi kebakaran hutan, lahan, maupun pemukiman dengan tidak melakukan pembakaran sampah sembarangan atau meninggalkan sumber api tanpa pengawasan,” pungkas Nindya. (sib)

