SEJARAH negeri ini selalu menjadi topik yang menarik. Sebab, sejarah bukan hanya tentang pahlawan, budaya, atau monumen belaka, tapi juga tentang orang-orang tak berdosa yang dibunuh dan dihilangkan secara paksa.
Kisah itulah yang diangkat dalam novel “Menuai Badai” karya penulis asal Bali, Putu Juli Sastrawan yang terbit pada 2025 ini. Novel terbitan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) ini berlatar waktu pasca-tragedi 1965 di Bali.
Dalam novel setebal 158 halaman ini, pembaca akan diajak melihat kembali bagaimana kekejaman penguasa kala itu dalam upaya menindas mereka yang dituduh berhaluan “kiri”. Beberapa dari mereka yang diculik dan tak pernah kembali. Bahkan, tak sedikit yang dibunuh dengan begitu tragis.
Berdasarkan laporan BBC, pada 2024, pembunuhan orang-orang yang dituduh terlibat PKI (Partai Komunis Indonesia) di Bali diperkirakan merenggut 80.000 nyawa. Mayat-mayat korban pembantaian dikubur di sejumlah sumur dan kuburan massal, tanpa identitas yang jelas.
Tragedi yang memilukan itu dipaparkan Putu melalui tokoh utamanya Kandar, yang berdasarkan teks merupakan mantan penjagal mereka yang dituduh “kiri”. Akibat pekerjaannya itu, Kandar dihujani badai teror dari para arwah. Beberapa hantu menampakkan diri dengan wajah terkelupas, mata keluar, hingga kepala tanpa tubuh.
Teror demi teror yang dialami Kandar tidak lagi merupakan respons ketakutan sesaat tapi sudah berubah menjadi trauma yang membuatnya tersiksa. Untuk mengusir hantu-hantu itu, Kandar harus selalu mengenakan seragam loreng-loreng dan baret merah yang telah usang.
Merawat Ingatan
Pada titik ini, sebagai pembaca, kita segera mengetahui, penampakan hantu dengan tubuh yang cacat itu bisa dibaca sebagai metafora tentang bagaimana kejamnya negara terhadap rakyatnya. Sementara, seragam loreng-loreng dan baret merah yang dipakai Kandar untuk menghalau hantu-hantu itu bisa dilihat sebagai simbol tentang kekuasaan militeristik yang selalu menimbulkan ketakutan, bahkan bagi entitas metafisik.
Menariknya, novel ini tidak hanya dibangun oleh narasi pengarangnya. Akan tetapi, terselip juga kliping-kliping koran tentang kondisi setelah meletusnya tragedi 1965 di Bali. Tentara semakin aktif menyisir daerah setempat untuk menumpas sisa-sisa anggota atau simpatisan PKI.
Keputusan menyelipkan kliping koran yang notabenenya non-fiksi pada bangunan teks fiksi memang agak kurang familiar. Namun, jika kita membaca dengan seksama, keputusan tersebut justru terasa masuk akal. Keberadan informasi tambahan dari koran itu cukup membantu kita memahami bagaimana mencekamnya peristiwa pasca-peristiwa 1965.
Melalui Novel tipisnya, Putu seperti hendak mengingatkan kita, bahwa sejarah bukan tentang satu kelompok atau golongan, tapi tentang semua orang yang telah berkontribusi pada bangsa ini. Tak peduli yang menang atau yang kalah. Yang hidup dan yang tumbang, Yang manis dan yang tragis, semua harus mendapat tempat dalam memori setiap generasi bangsa. Seperti ungkapan Sukarno, “jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah”. Sebab, bangsa yang melupakan sejarahnya, akan dikutuk mengulangi sejarah yang sama.
Akhirnya, novel “Menuai Badai” ini tidak hanya hadir sebagai sekadar produk kesusastraan, tapi juga sebagai wadah bagi kesaksian sejarah rentan dilupakan. Putu, berhasil membawa pembacanya menyelami sisi kelam sejarah di Bali melalui alur dan plot yang sederhana dan metafora yang bersahaja.
Mengutip ungkapan Koh An, salah satu tokoh dalam novel ini: “Meskipun suatu saat nanti, satu persatu ingatan ini akan sia-sia, keropos, menyisakan hambur debu, dan kelak lenyap dimakan waktu. Dimakan rayap atau basah atau memang tintanya sudah kabur. Hanya mengingat yang bisa kita lakukan saat ini. Jika itu satu-satunya cara yang bisa kita lakukan untuk melawan, rawatlah ingatan!” (Sibawaeh)
Judul Buku: Menuai Badai
Penulis: Putu Juli Sastrawan
Penerbi: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Halaman: 158 halaman
Tahun Terbit: 2025

