SEORANG anak memilih berhenti menyentuh masakan ibunya. Bukan karena ia tak lagi menyukai rasanya, melainkan karena percaya setiap suapan akan mengurangi sisa umur perempuan yang paling ia cintai. Premis yang terdengar ganjil itu menjadi titik berangkat Number One, film garapan sutradara Kim Tae-yong yang memadukan drama keluarga dengan sentuhan fantasi secara sederhana, tetapi mengena.
Tokoh Ha-min, yang diperankan Choi Woo-shik, mendadak mampu melihat angka setiap kali menyantap masakan ibunya. Angka itu terus berkurang. Meyakini angka tersebut sebagai sisa usia sang ibu, Ha-min mengambil keputusan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia berhenti menikmati masakan ibunya, menghindari makan bersama, hingga memilih tinggal jauh dari rumah. Bagi ibunya, yang diperankan Jang Hye-jin, perubahan itu sulit dimengerti. Ia hanya melihat anak yang perlahan menjauh, tanpa pernah mengetahui alasan sesungguhnya.
Di titik inilah Number One menemukan kekuatannya. Kim Tae-yong tidak menjadikan angka sebagai pusat cerita. Fantasi hanya menjadi pintu masuk untuk membicarakan sesuatu yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, cara orang tua mencintai anak-anaknya.
Pilihan menjadikan makanan sebagai simbol kasih sayang terasa sangat tepat. Tidak semua orang tua pandai mengungkapkan rasa sayang lewat kata-kata. Namun, banyak di antara mereka yang menyampaikannya melalui hal-hal sederhana, seperti memastikan perut anaknya keroncongan atau memasakkan makanan kesukaan anaknya. Karena itu, ketika Ha-min mulai menolak masakan ibunya, yang sesungguhnya ditolak bukanlah makanannya, melainkan bahasa kasih sayang yang selama ini dibangun sang ibu.
Film ini tidak menghadirkan konflik melalui pertengkaran besar ataupun tangisan yang berlebihan. Sebaliknya, emosinya tumbuh dari hal-hal kecil. Seorang ibu yang bertanya mengapa anaknya tak lagi mau makan di rumah. Seorang anak yang terus mencari alasan agar tidak menyentuh makanan yang sebenarnya paling ia rindukan. Penonton mengetahui alasan Ha-min, sedangkan sang ibu tidak. Jarak pengetahuan itulah yang perlahan berubah menjadi ruang paling emosional dalam film.
Choi Woo-shik memainkan Ha-min dengan pengendalian emosi yang baik. Ia tidak banyak berbicara, tetapi mampu memperlihatkan kecemasan dan rasa bersalah melalui ekspresi yang tertahan. Sementara Jang Hye-jin kembali menunjukkan kekuatannya memerankan sosok ibu yang terasa sangat akrab. Tanpa adegan yang dramatis, ia menghadirkan figur ibu yang mungkin pernah ditemui banyak orang dalam kehidupan sehari-hari.
Perjalanan Ha-min kemudian berubah ketika ia divonis mengidap penyakit dengan harapan hidup yang singkat. Kesadaran bahwa waktunya sendiri tak lagi panjang membuatnya berhenti melawan angka yang selama ini ditakutinya. Ia memilih pulang dan kembali menikmati masakan ibunya. Pilihan itu menjadi salah satu momen paling menyentuh dalam film karena menunjukkan bahwa ada saat ketika kebersamaan lebih berharga daripada ketakutan terhadap sesuatu yang belum tentu bisa dihindari.
Di penghujung cerita, Kim Tae-yong menghadirkan penyelesaian yang sederhana, tetapi bermakna. Bersama kekasihnya, Ryeo-eun, yang diperankan Gong Seung-yeon, Ha-min akhirnya memahami bahwa selama ini ia membaca tanda itu dengan cara yang keliru. Ketika ia memasakkan makanan untuk ibunya dan sang ibu menikmatinya, angka yang semula terus berkurang justru bertambah. Adegan tersebut bukan sekadar jawaban atas misteri film, melainkan penegasan bahwa kasih sayang dalam keluarga tidak pernah dimaksudkan berjalan satu arah. Ada waktunya anak berhenti hanya menerima, lalu mulai belajar memberi.
Ritme Number One memang berjalan tenang. Sebagian penonton mungkin menginginkan eksplorasi yang lebih jauh terhadap unsur fantasinya. Namun, pilihan Kim Tae-yong untuk tidak larut dalam misteri justru membuat perhatian penonton tetap tertuju pada relasi antarkarakternya. Pada akhirnya, angka hanyalah metafora. Yang benar-benar ingin dibicarakan film ini adalah waktu yang terus berjalan dan kesempatan yang tidak selalu datang dua kali.
Barangkali di menit-menit terakhir film, yang paling diingat bukanlah angka misterius itu. Melainkan kesadaran bahwa orang tua tidak pernah menghitung sudah berapa kali mereka memasakkan makanan untuk anak-anaknya. Kitalah yang sering lupa bahwa suatu hari nanti, mungkin giliran kita yang harus menyiapkan sepiring makanan untuk mereka. Dan ketika hari itu datang, kita akan benar-benar memahami bahwa masakan ibu memang tak pernah biasa. (Nur Wahirah Hijralia Azzahra)
Judul: Number One
Sutradara: Kim Tae-yong
Genre: Drama, Fantasi, Keluarga
Durasi: 110 menit
Tahun: 2026
—

