BerandaEKONOMIJalankan Instruksi Gubernur, NTB Galakkan Gerakan Tanam Cabai dari Sekolah

Jalankan Instruksi Gubernur, NTB Galakkan Gerakan Tanam Cabai dari Sekolah

Mataram (Suara NTB) – Pemerintah Provinsi NTB mengintensifkan gerakan budidaya cabai di lingkungan sekolah sebagai strategi mengendalikan inflasi, sebagaimana diistruksikan Gubernur NTB, Dr. H. Lalu. Iqbal.

Gerakan ini diawali dengan pelatihan budidaya cabai bagi 61 guru SMA, SMK, dan SLB di Pulau Lombok, yang di pusatkan di SMK Pertanian Pembangunan Negeri Mataram pada, Senin 13 Juli 2026.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB, Lalu Mirza Amir Hamzah, mengatakan para guru yang mengikuti pelatihan akan menjadi pendamping di sekolah untuk membimbing siswa dalam membudidayakan cabai. “Hari ini ada 61 guru yang mengikuti pelatihan budidaya cabai. Mereka nantinya menjadi pendamping di sekolah untuk memberikan edukasi kepada para siswa mengenai teknik budidaya cabai,” ujar Mirza.

Ia menjelaskan, program ini lahir dari tingginya kontribusi komoditas cabai terhadap inflasi, baik di tingkat nasional maupun daerah. Melalui pendidikan sejak dini, pemerintah ingin membangun pemahaman siswa mengenai pentingnya sektor pertanian sekaligus membuka peluang usaha di bidang agribisnis.

“Ini merupakan langkah konkret dari Pak Gubernur Iqbal agar siswa memahami cara budidaya cabai sekaligus memiliki minat menjadi entrepreneur di bidang agribisnis,” katanya.

Setelah pelatihan, para guru akan menerima bantuan bibit cabai untuk dibagikan kepada siswa baru. Setiap siswa akan bertanggung jawab menanam, merawat hingga memanen tanaman cabai, baik menggunakan polybag maupun lahan yang tersedia di sekolah.

“Bibit diberikan dalam bentuk semaian, kemudian dipindahkan ke media tanam. Anak-anak akan belajar langsung mulai dari proses penanaman sampai panen,” ujarnya.

Selain menjadi media pembelajaran, budidaya cabai juga dinilai memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan. Mirza menyebut keuntungan budidaya cabai dapat mencapai ratusan juta rupiah apabila dikelola secara optimal.

“Kalau budidaya dilakukan dengan baik, keuntungan per hektare dalam satu siklus bisa mencapai sekitar Rp550 juta dengan asumsi harga acuan pemerintah sekitar Rp33 ribu per kilogram,” jelasnya.

Menurut Mirza, sektor pertanian perlu dikenalkan sejak usia sekolah agar lahir generasi muda yang tertarik mengembangkan agribisnis. Terlebih, NTB selama ini merupakan daerah surplus produksi cabai.

Pada 2025, produksi cabai NTB mencapai sekitar 74 ribu ton, sedangkan kebutuhan konsumsi daerah sekitar 36 ribu ton. Surplus tersebut menjadikan NTB sebagai salah satu daerah pemasok cabai bagi wilayah lain yang mengalami defisit.

“NTB merupakan salah satu daerah penyangga kebutuhan cabai nasional. Karena itu kami ingin melahirkan generasi muda yang memiliki jiwa agribisnis agar mampu mempertahankan bahkan meningkatkan produksi cabai di masa depan,” katanya.

Pelatihan tahap awal difokuskan bagi guru di Pulau Lombok dan selanjutnya akan diperluas ke sekolah-sekolah di Pulau Sumbawa. Pemerintah Provinsi NTB juga akan menyalurkan bibit cabai secara gratis sebagai bagian dari gerakan menanam cabai di lingkungan pendidikan.

Sementara itu, SMK Pertanian Pembangunan (SMKPP) Negeri Mataram ditunjuk menyiapkan ribuan bibit cabai untuk mendukung pelaksanaan program tersebut.

Kepala SMKPP Negeri Mataram, Sugiarta, M.Pd., mengatakan bibit disiapkan di tiga lokasi, yakni Kota Mataram, Kabupaten Lombok Barat, dan Kabupaten Lombok Timur. Adapun kebutuhan bibit untuk Pulau Sumbawa dipusatkan di SMKPP Bima.

“Bibit ini kami siapkan untuk dibagikan kepada seluruh sekolah, mulai dari SMP, SMA hingga SLB di Pulau Lombok. Jika ada sekolah dari Pulau Sumbawa yang membutuhkan, juga bisa mengambil sesuai lokasi yang telah ditentukan,” ujarnya.

Distribusi bibit dijadwalkan mulai pekan kedua pelaksanaan program. Guru peserta pelatihan akan membawa bibit ke sekolah untuk ditanam bersama siswa dalam rangkaian kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

Sugiarta menilai program tersebut bukan sekadar menghasilkan panen cabai, tetapi juga membangun karakter, kepedulian terhadap ketahanan pangan, serta kecintaan generasi muda terhadap sektor pertanian.
“Program ini sangat bagus karena menjadi media edukasi bagi siswa. Ketahanan pangan harus dibangun mulai dari sekolah. Anak-anak nantinya akan membawa pengetahuan itu ke rumah dan diharapkan mampu mengajak bahkan membimbing orang tua mereka untuk ikut menanam,” katanya.

Ia menambahkan, konsep “pertanian masuk sekolah” juga akan diterapkan di pondok pesantren dan berbagai satuan pendidikan lainnya. Sekolah di kawasan perkotaan diarahkan menerapkan urban farming menggunakan polybag, sedangkan sekolah yang memiliki lahan dapat memanfaatkan kebun sebagai lokasi budidaya.

Program ini juga dirancang berkelanjutan. Setelah panen, sekolah didorong kembali melakukan pembibitan dan penanaman sehingga kegiatan bercocok tanam terus berlangsung. Untuk memperkuat implementasinya, SMKPP Negeri Mataram berencana membentuk forum budidaya cabai sebagai wadah berbagi pengalaman, memantau perkembangan tanaman, serta memperkuat kolaborasi antarsekolah dalam mengembangkan pertanian berbasis pendidikan di NTB. (bul)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO