BerandaNTBLOMBOK TIMUREl Nino 2026, Lotim Waspada Terjadi Kerawanan Pangan

El Nino 2026, Lotim Waspada Terjadi Kerawanan Pangan

Selong (Suara NTB) – Memasuki puncak musim kemarau Juli 2026, Kabupaten Lombok Timur (Lotim), Nusa Tenggara Barat (NTB) tengah menghadapi ancaman serius kerawanan pangan. Fenomena iklim El Nino yang diprediksi berkekuatan kuat menjadi pemicu utama, mengancam sentra produksi jagung dan padi di daerah yang sebagian besar lahannya tadah hujan ini.


Kepala Dinas Ketahanan Pangan Lombok Timur, Slamet Alimin, menjelaskan, Lotim sangat sensitif terhadap El Nino. Dampaknya langsung terasa pada sektor pertanian. “El Nino memperpanjang musim kemarau, mengurangi debit air irigasi, dan berpotensi memicu gagal panen,” ujarnya, menjawab Suara NTB, Selasa (14/7/2026).


Data menunjukkan bahwa setiap kejadian El Nino, produksi pangan nasional rata-rata turun 3,06%. Komoditas jagung, yang menjadi andalan Lotim dan NTB, adalah yang paling terdampak dengan penurunan produksi mencapai 11,93%. Padi juga ikut tertekan dengan penurunan 2,6%, begitu pula kedelai (6,3%) dan ubi kayu (5,1%).


“Kekeringan membuat pasokan berkurang, yang berujung pada kenaikan harga pangan dan peningkatan ketergantungan pada impor,” tambah Slamet. Kondisi ini diperparah dengan meningkatnya serangan hama seperti wereng dan ulat grayak yang berkembang pesat di cuaca panas dan kering.

Selatan Lotim Paling Rawan


Wilayah yang paling diwaspadai adalah Kecamatan Keruak, Jerowaru, Sakra, dan daerah selatan Lotim lainnya. Daerah-daerah ini sangat bergantung pada tadah hujan, sehingga sumber air seperti sumur dan embung cepat kering. Petani terpaksa menunda masa tanam atau bahkan mengalami gagal panen. Badan Pangan Nasional (Bapanas) pun telah memasukkan NTB, Bali, dan Lombok sebagai zona yang harus diantisipasi dampak El Nino.


Pemerintah pusat dan daerah telah melakukan berbagai langkah mitigasi sejak awal tahun 2026. Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) diperkuat hingga 4,4 juta ton pada Maret 2026, dengan target 5 juta ton, meningkat 300% dibandingkan tahun 2024. Data per Juli 2026 menunjukkan stok beras Bulog mencapai 5,2 juta ton. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, bahkan menyatakan stok ini cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga 10-11 bulan ke depan.


Untuk menghadapi musim kering, pemerintah menggencarkan program pompanisasi di 2 juta hektare lahan serta menyiapkan irigasi dan embung. NTB sendiri telah ditunjuk sebagai salah satu dari enam provinsi penyangga lumbung pangan nasional untuk kawasan Timur.


Para petani diimbau untuk mengadopsi strategi adaptif guna meminimalisir risiko. Pertama, petani disarankan memilih Varietas Tahan Kering. Kedua, menggunakan bibit yang tahan kekeringan untuk musim kemarau. Ketigaz, membangun embung, long storage, dan parit untuk menyimpan air.


Petani juga disarankan melakukan pemupukan berimbang: melakukan konservasi tanah dan air secara berkelanjutan. Petani juga hadua cerdas, dengan memantau Informasi BMKG:

memanfaatkan aplikasi seperti Katam dan Siscrop untuk informasi cuaca terkini.
Pada Juli 2026 telah berada di puncak musim kemarau yang diperparah oleh pengaruh Monsun Australia. Jika El Nino terus berlanjut, kewaspadaan terhadap kerawanan air dan pangan di wilayah timur dan selatan Lombok Timur harus terus ditingkatkan.


“Jagung adalah komoditas paling sensitif. Ketahanan pangan Lotim sangat bergantung pada bagaimana jagung bisa bertahan di tengah ancaman ini,” ungkap Slamet Alimin. (rus)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO