BerandaNTBLOMBOK BARATKondisi Daerah Penyangga Bendungan Meninting, Warga Gegerung Butuh Penanganan Irigasi dan Jalan

Kondisi Daerah Penyangga Bendungan Meninting, Warga Gegerung Butuh Penanganan Irigasi dan Jalan

Giri Menang (Suara NTB) – Sebagai salah satu daerah penyangga, warga yang tinggal di Desa Gegerung Kecamatan Lingsar Lombok Barat (Lobar) belum sepenuhnya merasakan manfaat dari keberadaan proyek Bendungan Meninting yang menelan anggaran Rp1,4 triliun. Justru yang terjadi sebaliknya, sebagian warga di beberapa dusun setempat terdampak lahan pertaniannya tidak bisa ditanami.


Selain itu, dari sisi infrastruktur jalan juga banyak yang kurang baik. Tidak seperti desa tetangga, Bukit Tinggi jalan rayanya mulus dibangunkan pemerintah. Untuk itu, warga sangat berharap agar jaringan irigasi sebagai penunjang urat nadi sektor pertanian segera dibangun. Selain itu jalan juga dibangun agar akses perekonomian masyarakat bisa maksimal kedepan.


Kepala Dusun Orong Utara, Desa Gegerung, Mawardi mengatakan, sejak tahapan dibangun Bendungan Meninting tahun 2018 lalu hingga saat ini saluran irigasi yang ada di beberapa dusun setempat tidak berfungsi. “Kalau keluhan Petani kami selaku kepala dusun Orong Utara Desa Gegerung, sejak tahun 2018 sampai tahun ini, areal pertanian tidak produktif, tidak bisa ditanami,” kata dia sembari menunjukkan lahan warga yang ditumbuhi tanaman liar karena tidak produktif lagi.


Luas areal pertanian warga yang mati karena tidak dialiri irigasi mencapai di atas 10 hektare. Jumlah petani yang terdampak kurang lebih 20 subak. Dulunya, lahan pertanian warga ini, bisa ditanami tiga kali setahun. Petani bisa panen dua kali padi dan satu kali palawija. “Efektif (produktif) sekali dulu waktu sebelum Bendungan ini dibangun,” imbuhnya.


Pihaknya berharap irigasi segera dialiri air, karena lahan pertanian itu menjadi sumber kehidupan masyarakat setempat. “Mudah-mudahan secepatnya bisa difungsikan lagi,” harapnya.
Sebab jika dihitung lahan pertanian ini hampir 8 tahun tidak bisa dimanfaatkan warga, sehingga mata pencaharian warga pun hilang selama itu.


Hal senada dikatakan, Kadus Orong Puncak Desa Gegerung Sarjudin. Ia menuturkan warganya juga mengeluhkan kondisi jaringan irigasi yang mati akibat tidak lagi dialiri air dari Bendungan Meninting. “Sangat disayangkan sekali irigasi sudah ada dari dulu, tapi tidak terpakai lagi. Tinggal disambung saja sedikit dari sumber air yang mengalir di Bendungan Meninting,” kata dia.


Padahal jarak areal itu dengan bendungan sangat dekat sekali, diperkirakan sekitar ratusan meter.
Ia berharap jaringan irigasi itu disambungkan menggunakan pipa atau sejenisnya dengan rumah Katup jaringan pembuangan air bendungan ke sungai, agar irigasi pertanian warga bisa berfungsi kembali. Warga sangat berharap jaringan irigasi itu hidup kembali, karena menjadi sumber kehidupan petani setempat. “Mata pencaharian utama warga kami dari sawah ini,” katanya. Warga yang mengandalkan irigasi itu mencapai 20 Subak dengan jiwa ratusan orang.


Diakuinya selama Bendungan Meninting dibangun, belum ada manfaat yang signifikan dirasakan warga, justru warga kehilangan mata pencaharian akibat irigasi pertaniannya mati dampak pembebasannya lahan bendungan.


Sementara itu, Kepala Desa Gegerung Harun mengatakan, selain jaringan irigasi, warga juga membutuhkan penanganan jalan karena kondisinya hampir semua rusak. Ia berharap kondisi jalan di daerahnya yang berada di sisi bagian kiri objek strategis nasional Bendungan Meninting bisa diperhatikan. “Jangan sisi kanannya saja diperhatikan, sebab daerah kami ini juga jalur ke Bendungan Meninting,” keluhnya.


Panjang jalan yang butuh penanganan sekitar 3,5 kilometer, merupakan jalan kabupaten. Jalan ini vital bagi warga untuk akses perekonomian, pertanian, perkebunan, dan pariwisata. Pihaknya sudah mengusulkan penanganan jalan ini ke Dinas PUPRPKP pada awal tahun 2025. Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan pihak Bendungan untuk diperhatikan, tapi belum ditindaklanjuti sampai saat ini.


Diakuinya, kondisi jalan ini kontras (jomblang) dengan kondisi infrastruktur jalan di Desa Bukit Tinggi yang menjadi daerah tempat bendungan itu berada. “Sangat jauh beda kondisinya, kayaknya kami (Desa Gegerung dan Dasan Geria) dianaktirikan rasanya,” pungkasnya. (her)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO