BerandaBUDAYA DAN HIBURANBuku Tersungkur dan Tetap Melawan: Merekam Perlawanan dari Akar Rumput

Buku Tersungkur dan Tetap Melawan: Merekam Perlawanan dari Akar Rumput

NEGARA sejatinya dapat memberikan keadilan dan kesejahteraan bagi warganya. Namun, lewat 14 reportase Project Multatuli yang dibukukan oleh Penerbit Marjin Kiri ini, kita justru melihat begitu banyak kesengsaraan. Kata “adil” sungguh jauh untuk bisa digapai “masyarakat biasa” yang menjadi tokoh sentral dalam belasan reportase ini.

Tersungkur dan Tetap Melawan merupakan buku yang menghimpun 14 reportase karya para jurnalis Project Multatuli yang sebelumnya tayang dalam rentang 2021-2026. Diterbitkan oleh Marjin Kiri pada 2026, buku setebal 222 ini membawa pembaca menyimak kisah di berbagai wilayah Indonesia, seperti Desa Gane, Wadas, Ternate, Papua, Konawe Kepulauan, Padarincang, Mandalika, Mentawai, Malang, Jawa Barat, hingga Jakarta.

Melalui 14 reportase itu, kita dapat menyimak kisah warga yang berhadapan langsung dengan korporasi, proyek pembangunan, kebijakan negara, dan kekerasan aparat. Berhadapan, dalam artian bagaimana penderitaan dan perlawanan warga sebagai lapisan yang paling terdampak. Banyak penderitaan terjadi dibalik nama kemajuan dan pertumbuhan ekonomi—tanah, kebun, hutan, serta ruang hidup masyarakat perlahan berubah fungsi.

Kisah perlawanan warga itu dibagi dalam empat bagian buku ini: Tanah, Raksasa, Cinta, dan Api. Bagian “Tanah” memperlihatkan konflik antara masyarakat dan pihak-pihak yang hendak menguasai ruang hidup mereka. Tanah dalam hal ini bukan dipandang sebagai benda mati, tetapi sebagai sumber penghidupan, identitas, ingatan, dan warisan yang dipertahankan turun-temurun.

Bagian “Raksasa” membawa pembaca berhadapan dengan kekuasaan yang lebih besar seperti korporasi dan proyek pembangunan yang hanya menguntungkan para elite. Kemudian “Cinta” memperlihatkan bagaimana kasih sayang, solidaritas, dan ingatan menjadi kekuatan untuk menghadapi kehilangan. Sementara, “Api” menjadi bagian penutup yang merekam kekerasan negara, kriminalisasi, kematian, dan luka sejarah yang terus hidup dalam diri para korban.

Meskipun terkesan mengotak-ngotakan, empat bagian itu punya benang merah yang sama. Yakni perlawanan manusia biasa terhadap kekuasaan yang mengancam tubuh, keluarga, ruang hidup, dan masa depan mereka.

Perlawanan itu tidak melulu hadir dalam bentuk reaktif macam demonstrasi atau dengan lantang dan terbuka menantang penguasa. Ada perlawanan yang bekerja dalam senyap seperti tetap menanam di tanah yang terus menyempit, mempertahankan ingatan, atau sekadar berusaha menjalani hari setelah kehilangan hampir segala-galanya.

Dalam reportase Adi Renaldi berjudul “Saya Tak Mau Mati di Sini: Perampasan Lahan di Sirkuit Mandalika”—Di balik kemegahan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, pembangunan sirkuit, hotel, dan berbagai fasilitas pariwisata, terdapat warga yang kehilangan tanah dan ruang hidupnya.

Orang-orang seperti Amak Saleh, Amak Sai, Lukman, dan Fadilah harus bertahan di tengah perubahan besar yang tidak sepenuhnya mereka kehendaki. Sebagian tinggal di lahan yang semakin terhimpit proyek, sementara yang lain dipindahkan ke permukiman yang jauh dari sumber penghidupan mereka.

Perlawanan warga Mandalika tidak selalu berbentuk konfrontasi langsung. Bertahan di tanah sendiri, menolak pergi, tetap membuka warung, berkebun, atau kembali mendatangi lahan yang pernah mereka kelola juga merupakan tindakan politis. Sikap diam mereka bukan berarti menerima ketidakadilan. Diam dapat menjadi cara untuk mempertahankan keberadaan di tengah kekuasaan yang berusaha menyingkirkan mereka.

Kisah Amak Saleh mungkin akan terkesan biasa saja jika hanya ditulis sebagai potret seorang warga yang bertahan di tengah pembangunan kawasan wisata. Namun, melalui reportase yang mendalam, kisah tersebut berkembang menjadi gambaran tentang bagaimana proyek besar dapat mengubah kehidupan orang-orang kecil secara perlahan dan nyaris tak terlihat.

Para penulis dalam reportase ini menyediakan waktu untuk mengikuti kehidupan narasumber, mendatangi ruang tempat konflik berlangsung, mengumpulkan dokumen, mencatat perubahan, serta menelusuri hubungan antara keputusan politik dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari. Hasilnya, pembaca tidak hanya mengetahui bahwa perampasan tanah atau kekerasan telah terjadi. Pembaca diajak memahami bagaimana peristiwa tersebut mengubah cara seseorang bekerja, tinggal, tidur, berhubungan dengan keluarga, dan memandang masa depan.

Di tengah pemberitaan media daring yang bergerak cepat, sebuah peristiwa seringkali dianggap selesai setelah beberapa kutipan, angka, dan pernyataan pejabat. Cerita di balik sebuah peristiwa dapat tersisihkan. Melalui kumpulan reportase ini, kita melihat bahwa sebuah pemberitaan tidak cukup hanya memberitahu apa yang terjadi, tetapi juga perlu menjelaskan bagaimana dan mengapa peristiwa itu terjadi, dan siapa yang paling terdampak. Posisi Project Multatuli sebagai media independen memang membuatnya dapat mewujudkan karya seperti itu.

Pada akhirnya, Tersungkur dan Tetap Melawan bukan hanya kumpulan kisah tentang orang-orang yang menjadi korban kekuasaan. Buku ini merupakan catatan tentang berbagai cara manusia mempertahankan martabat ketika ruang untuk melawan semakin sempit. Kumpulan reportase dari Project Multatuli ini kembali menjadi pengingat tentang betapa pentingnya menceritakan sebuah kisah dari bawah (masyarakat). Tentang pentingnya peliputan yang mendalam. (Mita)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO