Mataram (Suara NTB) – Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, dan Kawasan Permukiman (PUPRKP) NTB menyegel enam ruangan di SMAN 1 Gunungsari. Penyegelan ini dilakukan, karena ruangan di sekolah tersebut dinilai tidak layak, sehingga berpotensi membahayakan siswa dan guru apabila tetap dijadikan ruangan kelas.
Kepala Dinas PUPRKP NTB, Lalu Kusuma Wijaya, mengatakan kondisi sejumlah sekolah di NTB, termasuk SMAN 1 Gunungsari mirip dengan SMAN 7 Mataram yang sempat roboh beberapa waktu lalu. Untuk itu, guna menghindari adanya kejadian yang membahayakan siswa, pihaknya memilih untuk menutup ruangan kelas tersebut.
“Tapi kita protect untuk mengantisipasi, jangan sampai digunakan dan tiba-tiba ambruk. Habis itu mencederai dan membuat ada korban,” ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (27/7).
Meski Dinas PUPRKP merekomendasikan untuk menyegel ruangan sekolah tersebut, pihaknya memastikan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tetap berjalan. Siswa dan guru kini dibangunkan tenda agar penyegelan tidak mengganggu proses belajar.
“Ya, bisa pakai tenda, bisa pakai ruang apa gitu lah sementara. Memang prihatin sih maksudnya,” lanjutnya.
Sementara, untuk sekolah-sekolah yang perlu perbaikan, Kadis PUPRKP itu mengaku masih melakukan assesmen. Sekolah yang merasa bangunannya sudah cukup tua diminta untuk melakukan asesmen secara mandiri, jika ditemukan ada situasi yang berpotensi membahayakan siswa, sekolah wajib melaporkan.
Diakuinya, rata-rata bangunan sekolah SMA di NTB berusia 20 tahun, memiliki kondisi yang hampir sama. Bangunannya sudah memberikan tanda-tanda yang harus diwaspadai. Terakhir saat pengecekan di SMAN 1 Gunung Sari terdapat enam kelas yang tidak direkomendasikan untuk digunakan.
“Saya tidak merekomendasikan untuk digunakan, nanti ambruk. Tidak ada korban saja kita kaget, apalagi ada korban,” katanya.
Diakuinya, dinasnya mengalami keterbatasan untuk melakukan asesmen langsung, sehingga meminta sekolah secara mandiri melakukannya untuk mengamati visual dari bangunan tersebut. Barulah nanti setalah mendapatkan gambaran dari sekolah, tim penilai dari Dinas PUPRPKP untuk turun menilai langsung agar bisa memastikan kondisi sekolah tersebut.
“Jadi kita coba untuk asesmen dulu. Jadi sekolah-sekolahnya kita minta meng-asesmen sendiri. Melihat secara visual sendiri. Kalau ada kejadian-kejadian. Mungkin itu perlu diwaspadai,” ujarnya mengingatkan. (era)

