Kota Bima (Suara NTB) – Koleksi buku yang dimiliki Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) Kota Bima, baru mencapai sekitar 43 ribu eksemplar. Jumlah tersebut dinilai masih jauh dari kebutuhan ideal untuk melayani masyarakat yang berjumlah sekitar 160 ribu jiwa.
Kepala Bidang Pembinaan dan Pembudayaan Kegemaran Membaca DPAD Kota Bima, Edi Sutrisno, S.E., mengatakan ketersediaan buku harus bertambah seiring pertumbuhan jumlah penduduk. Menurutnya, akses masyarakat terhadap bahan bacaan menjadi salah satu faktor penting dalam memperkuat budaya literasi.
“Idealnya satu orang itu punya akses minimal dua buku. Kalau semakin banyak semakin bagus. Paling buruk satu orang satu buku. Itu yang harus kita siapkan,” ujarnya, Jumat (7/8)
Edi menjelaskan, jika mengacu pada jumlah penduduk Kota Bima, koleksi yang tersedia saat ini masih belum memadai. Bahkan, apabila menggunakan standar minimal satu buku untuk setiap orang, jumlah koleksi yang dimiliki perpustakaan daerah masih terpaut jauh dari kebutuhan.
“Kondisi sekarang perpustakaan ini baru punya 43 ribu eksemplar buku. Bandingkan dengan jumlah penduduk yang sekitar 160 ribu. Jadi jauh dari kata cukup,” katanya.
Menurutnya, pengembangan koleksi buku tidak bisa dipandang sebagai kebutuhan sesaat. Penambahan bahan bacaan harus mengikuti pertumbuhan jumlah penduduk, agar akses masyarakat terhadap informasi dan pengetahuan tetap terjaga.
“Buku itu harus mengikuti, harus berbanding lurus dengan pertumbuhan penduduk,” tegasnya.
Ia menilai, ketersediaan buku menjadi salah satu fondasi dalam membangun budaya membaca. Tanpa koleksi yang memadai, masyarakat akan semakin terbatas dalam memperoleh referensi dan memperluas wawasan.
Selain kuantitas, Edi mengatakan akses terhadap buku juga harus terus diperluas agar mampu menjangkau lebih banyak masyarakat. Perpustakaan menurutnya, harus menjadi ruang yang mudah diakses dan mampu memenuhi kebutuhan informasi berbagai kalangan.
Rendahnya akses terhadap bahan bacaan lanjutnya, berpotensi memengaruhi kemampuan masyarakat dalam menyaring informasi. Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan literasi menjadi semakin penting untuk membedakan informasi yang benar dan keliru.
“Kalau kita tidak bisa pacu itu, akhirnya karena angka literasinya rendah, kemampuan berpikir juga menjadi terbatas. Orang lebih mudah ter-framing dan termakan hoaks. Tapi kalau tingkat literasinya tinggi, hasilnya akan berbeda,” jelasnya.
Edi berharap penguatan koleksi buku menjadi perhatian dalam pengembangan perpustakaan daerah. Menurutnya, peningkatan jumlah buku perlu berjalan seiring dengan pertumbuhan penduduk agar masyarakat memiliki akses bacaan yang lebih luas dan kualitas literasi dapat terus meningkat. (hir)

