PEMERINTAH Kelurahan Cakranegara Selatan Baru, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram, telah menuntaskan pembangunan Tempah Dedoro di enam lingkungan dengan total 60 titik. Setiap lingkungan mendapat alokasi anggaran Rp5 juta untuk membangun 10 titik Tempah Dedoro.
Program tersebut menjadi salah satu upaya memaksimalkan pengelolaan sampah organik rumah tangga sekaligus menekan volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan sementara (TPS).
Lurah Cakranegara Selatan Baru, Saptono Slamet, mengatakan seluruh lingkungan di wilayahnya telah menyelesaikan pembangunan Tempah Dedoro. Tempat pengolahan sampah organik tersebut dibuat menggunakan gumbleng.
“Di wilayah kami ada enam lingkungan dan semuanya sudah 100 persen membangun Tempah Dedoro,” ujarnya, Selasa (11/8).
Ia menjelaskan, masing-masing lingkungan membangun 10 titik sehingga total terdapat 60 titik Tempah Dedoro. Dengan alokasi anggaran Rp5 juta per lingkungan, total anggaran yang disiapkan mencapai Rp30 juta.
Dalam proses pembangunan, pihak kelurahan menghadapi sejumlah kendala, terutama keterbatasan lahan. Kondisi tersebut antara lain terjadi di Lingkungan Seganteng Karang Monjok yang memiliki banyak kawasan perumahan. Tiga lingkungan lainnya juga memiliki tingkat kepadatan penduduk yang cukup tinggi.
Meski demikian, pihak kelurahan berupaya mencari lokasi yang memungkinkan untuk pembangunan Tempah Dedoro. Wadah yang digunakan berupa buis beton berdiameter sekitar 80 sentimeter.
“Kami maksimalkan mencari lahan yang cukup, termasuk di rumah RT maupun kader,” jelasnya.
Program Tempah Dedoro merupakan inisiatif Pemerintah Kota Mataram untuk mengurangi volume sampah yang masuk ke TPS, khususnya sampah organik. Sampah rumah tangga yang mudah terurai tersebut diharapkan dapat dikelola masyarakat menjadi pupuk organik sehingga tidak seluruhnya berakhir di TPS.
Saptono berharap masyarakat turut berpartisipasi dengan membangun Tempah Dedoro secara swadaya di lingkungan tempat tinggal masing-masing, terutama bagi warga yang memiliki lahan yang memungkinkan.
Menurutnya, partisipasi masyarakat menjadi bagian penting agar pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada pemerintah. Semakin banyak sampah organik yang dapat dikelola dari rumah, semakin besar pula peluang mengurangi volume sampah yang berakhir di TPS.
“Kalau memungkinkan, kami berharap masyarakat juga bisa membuat Tempah Dedoro secara swadaya di halaman rumah masing-masing,” pungkasnya. (pan)

