Mataram (Suara NTB) – Perum Bulog NTB mulai menyalurkan bantuan pangan beras tahap kedua untuk alokasi Juli, Agustus, dan September 2026. Bantuan disalurkan sekaligus tiga bulan untuk memperkuat daya beli masyarakat di tengah momentum jelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN)/Maulid Nabi Muhammad SAW, peringatan HUT Kemerdekaan RI dan masuknya musim kemarau ekstrem.
Wakil Pimpinan Bulog NTB, Rizal P. Sukmaadijaya, mengatakan penyaluran tahap kedua secara serentak mulai dilakukan di seluruh NTB. Khusus Kota Mataram, terdapat sekitar 44 ribu penerima bantuan pangan (PBP) dengan total beras yang disalurkan mencapai sekitar 1.300 ton.
“Alhamdulillah kita mulai menyalurkan program bantuan pangan untuk tahap dua, alokasi Juli, Agustus, September. Untuk wilayah Kota Mataram hari ini kita launching dan salurkan,” kata Rizal, Selasa, 11 Agustus 2026, usai pelepasan bantuan pangan bersama Wali Kota Mataram, H. Mohan Roliskana di Kantor Wali Kota Mataram.
Secara keseluruhan di NTB, jumlah penerima bantuan pangan mencapai sekitar 861.180 PBP. Total beras yang disiapkan untuk tiga alokasi tersebut mendekati 25 ribu ton.
Penyaluran dilakukan secara bertahap karena mencakup tiga alokasi penyaluran sekaligus. Untuk Kota Mataram, Bulog menargetkan distribusi selesai pada awal September. Sementara penyaluran di seluruh NTB diproyeksikan tuntas hingga akhir September.
“Insyaallah kami selesaikan penyaluran se NTB sampai Bulan September,” ujarnya.
Jumlah penerima bantuan pangan di Kota Mataram kali ini mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya. Dari sebelumnya sekitar 46 ribu penerima, kini menjadi sekitar 44 ribu penerima atau berkurang sekitar 2.700 orang.
Rizal mengatakan perubahan tersebut bukan karena pengurangan jatah bantuan, melainkan mengikuti pemutakhiran Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) yang ditetapkan pemerintah pusat.
Menurut Rizal, perubahan jumlah penerima tersebut juga dapat menjadi salah satu indikator perbaikan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Penurunan jumlah penerima bantuan, kata dia, berkorelasi dengan upaya pemerintah daerah menekan angka kemiskinan.
“Berarti keberhasilan pemerintah Kota Mataram dalam menekan angka kemiskinan itu berhasil ditunjukkan salah satu parameternya, yaitu penurunan jumlah penerima bantuan pangan,” katanya.
Setiap penerima memperoleh 10 kilogram beras per alokasi, sehingga total yang diterima mencapai 30 kilogram beras.
Untuk tahap kedua ini, bantuan yang diberikan hanya berupa beras. Tidak ada minyak goreng sebagaimana beberapa skema bantuan pangan sebelumnya.
Bulog NTB memastikan penyaluran bantuan pangan tidak mengganggu ketersediaan beras untuk kebutuhan masyarakat. Rizal menyebut stok beras yang tersimpan di Bulog NTB saat ini mencapai sekitar 267 ribu ton.
Dengan kondisi stok sebesar ini, Bulog menurutnya sangat siap apabila pemerintah kembali memberikan penugasan penyaluran bantuan pangan setelah program tahap kedua selesai. (bul)

