BUKU himpunan puisi atau antologi puisi bersama beberapa penulis diterbitkan bukan sekadar untuk mencatat atau mengarsipkan karya sejumlah orang. Dengan berbagai pertimbangan melalui kurasi yang ketat, sebuah antologi juga bisa menjadi “sikap” atau “pernyataan”.
Buku Memasuki Ladang: Himpunan Puisi Penyair Perempuan Nusa Tenggara Barat, yang diterbitkan oleh Akarpohon pada tahun 2025 tampak ingin menunjukkan hal tersebut. Buku ini merupakan antologi bersama 13 penyair perempuan.
Para penyair perempuan itu yakni Julia F. Gerhani Arungan, Ilda Karwayu, Irma Agryanti, Bulan Nurguna, Iin Farliani, Nurrahmi Puteri, Baiq Dewi Zakia Wardini, Yana Suryantari, Laelatul Eli Erma, Annisa Hidayat, Eny Sukreni, Ruham Ruksalana, H., dan Lailatul Kiptiyah. Buku ini disunting oleh Ilda Karwayu.
Buku Memasuki Ladang bisa dibaca sebagai sebuah arsip karya para penyair perempuan di NTB. Buku ini merupakan kelanjutan dari buku Taman Pitanggang, yang juga menghimpun puisi penyair perempuan NTB dan diterbitkan Akarpohon pada 2015.
Sebagai sebuah arsip, tentu saja buku ini sangat berguna bagi pembaca yang ingin mengetahui karya para penyair perempuan di NTB. Meskipun, Ilda Karwayu dalam pengantarnya menyebut buku ini belum tentu bisa merekam semua karya para penyair perempuan di NTB.
“Kami sadar bahwa keterbatasan pembacaan serta jejaringlah yang menjadikan proses pengumpulan ini, pada akhirnya, selesai pada 13 nama penyair,” tulis Ilda di pengantar buku Memasuki Ladang.
Buku ini memuat berbagai puisi dengan bentuk puisi yang beragam, ada yang bentuknya mendekati prosa, ada juga berbentuk larik-larik pendek dengan tawaran-tawaran imaji yang memantik pembaca untuk merenung sejenak.
Seperti estetika puisi yang ditawarkan oleh puisi Iin Farliani berjudul “Aku Mendengar Dua Jantungmu” (halaman 56). Pembaca diberikan diksi penuh imaji.
usai disalibkan/pada lilin kue tart/mengheningkan tepuk tangan/dalam album/pesta terbelah/sebagai ganti nyala api/kau meminta satu seruan lagi/di tepi, suntuk menabur/doa-doa karam
Salah satu yang menarik, sebagai sebuah himpunan, buku Memasuki Ladang memiliki semacam benang merah antar-puisi. Para penyair perempuan di buku ini menampilkan ketegaran menghadapi berbagai keadaan yang digambarkan dalam puisi-puisi mereka. Meskipun banyak puisi menampilkan atau menyiratkan kedukaan dan ketertindasan, tetapi sosok dalam puisi itu enggan berpasrah diri, bahkan muncul sebuah bentuk perlawanan. Hal itu tergambar di puisi berjudul “Episode” (halaman 18) karya Julia F. Gerhani Arungan.
Datanglah Ramadhan,/dan mereka tetap berpuasa./Jawab mereka ketika ditanya kenapa. ‘Ada banyak orang yang/lebih susah hidupnya, dari kami di Palestina’.
Puisi “Episode” berbentuk menyerupai prosa dengan menampilkan sebuah kisah penderitaan yang tersirat dari sejumlah diksi: rumahnya lebur oleh misil, martir, gema jerit bayi-bayi yang putus tangan dan kakinya, dan seterusnya. Namun, sosok(-sosok) di puisi itu enggan berpasrah dan jatuh ke dalam melankoli, dan terus berupaya tegar dan melawan. Bait penutup puisi “Episode” mempertegas perlawanan itu:
Yang kau rubuhkan hanya sarang, semata cangkang. Sementara/benteng kami—pemilik angkasa, pemilik semesta. Dan dia/sebaik-baik perencana.
Sebagai sebuah arsip dan kelanjutan dari buku Taman Pitanggang, pembaca akan melihat perkembangan proses kreatif para penyair perempuan di himpunan ini. Pembaca bakal melihat jejak para penyair yang baru muncul. Beberapa nama penyair di Memasuki Ladang telah menelurkan buku puisi tunggal dan tetap muncul di media massa selama rentang 10 tahun sejak Taman Pitanggang.
Ada juga nama penyair baru dengan usia yang relatif lebih muda dibandingkan para penyair lainnya di buku ini. Baiq Dewi Zakia Wardini dan Yana Suryantari baru muncul di buku Memasuki Ladang. Baiq Dewi kelahiran 2024 dan Yana menjalani kuliah semester akhir ketika buku ini terbit. Artinya, buku ini bukan semata arsip, tapi juga jejak regenerasi penyair perempuan di NTB.
Puisi dua penyair perempuan muda itu juga turut mencerminkan benang merah dari himpunan ini, yaitu keberanian untuk menghadapi berbagai rintangan dalam rimba puisi—atau lebih luas—dan kepenyairan. Juga semacam mencerminkan pintu masuk mereka ke dalam dunia puisi. Dua potongan bait puisi kedua penyair muda ini bisa mencerminkan hal itu.
sementara aku menapak jalan kota, membawa janji dalam dada//Hari-hariku adalah tangga bambu,/rapuh tapi harus kujalani hingga puncak, (“Sebelum Waktu Merenggut Kesempatan Itu” karya Baiq Dewi Zakia Wardini, halaman 71)
demi sayap-sayap pencipta, keagungan tak mampu tertelan/masa, sampai pagi mana pun. (“Pemberani Tak Bertuan” karya Yana Suryantari, halaman 83)
Buku ini juga berisi puisi para penyair yang jarang terdengar muncul di media, tetapi diam-diam tetap berkarya. Titimangsa setiap puisi yang tahunnya relatif baru, menunjukkan para penyair perempuan ini tetap berupaya berkarya.
Akhirnya, sebagai sebuah himpunan puisi penyair perempuan NTB, Memasuki Ladang adalah bukan sekadar arsip tapi juga “suara” para penyair perempuan NTB. Melalui puisi, mereka ingin—mengutip pengantar Ilda Karwayu—memberontak pada derita keadaan.
Lebih dari itu, pembaca bisa melihat upaya para penyair perempuan ini untuk tetap menulis puisi. Larik puisi Eny Sukreni berjudul “Puisi Enggan Pergi” (halaman 114) bisa menjadi penegas keteguhan untuk tetap menulis puisi itu: aku tengah merencanakan perpisahan/namun, puisi enggan pergi. (Rony Fernandez)
Judul Buku: Memasuki Ladang
Penyunting: Ilda Karwayu
Penulis: Julia F. Gerhani Arungan, Ilda Karwayu, Irma Agryanti, Bulan Nurguna, Iin Farliani, Nurrahmi Puteri, Baiq Dewi Zakia Wardini, Yana Suryantari, Laelatul Eli Erma, Annisa Hidayat, Eny Sukreni, Ruham Ruksalana, H., dan Lailatul Kiptiyah.
Penerbit: Akarpohon
Tahun terbit: Desember, 2025


