BerandaHEADLINEMasih Berutang Budi

Masih Berutang Budi

- Advertisement -


KETUA Tim Penggerak PKK Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Hj. Sinta M. Iqbal mengakui pemerintah masih memiliki utang budi kepada para kader Posyandu yang selama ini bekerja langsung melayani masyarakat hingga tingkat keluarga.


Menurut Sinta, kerja kader Posyandu kerap tidak terlihat dan belum selalu sebanding dengan dukungan yang mereka terima. Namun, para kader tetap menjalankan tugas karena kepedulian terhadap masyarakat serta kesehatan generasi yang akan datang.


Hal tersebut disampaikan Sinta saat menghadiri Malam Penghargaan Kader Posyandu Berprestasi Bidang Kesehatan sekaligus Penutupan Orientasi 25 Keterampilan Dasar Kader Posyandu, Kamis (20/8).


“Secara logika, sulit dipahami ada orang yang mau mengurus orang lain dengan apa yang didapat tidak seperti yang seharusnya. Kadang capek, kadang merasa berat, tetapi tetap dikerjakan. Kalau bukan karena cinta, kalau bukan karena sayangnya terhadap provinsi ini, saya yakin tidak ada kader-kader Posyandu yang akan bertahan sampai hari ini,” kata Sinta.


Menurutnya, pemerintah banyak memperoleh gambaran mengenai kondisi masyarakat melalui kader Posyandu. Informasi yang disampaikan kader membantu pemerintah melihat persoalan kesehatan dan sosial secara lebih nyata karena mereka berada langsung di tengah keluarga.


Peran tersebut kini semakin luas seiring penguatan kapasitas kader. Sebanyak 95 kader dari 40 Desa Berdaya se-NTB mengikuti Orientasi 25 Keterampilan Dasar Kader Posyandu selama dua hari.


Materi orientasi mencakup pengetahuan tentang Posyandu, ibu hamil dan menyusui, bayi dan balita, anak usia sekolah dan remaja, serta kelompok usia produktif dan lansia.


Orientasi tidak hanya diisi dengan teori, tetapi juga praktik dan uji kompetensi untuk menentukan tingkat keterampilan kader, mulai dari tingkat purna, madya, hingga utama.


Sinta mengatakan penghargaan kepada kader tidak semestinya hanya diukur dari hadiah yang diberikan. Menurutnya, hasil terbesar dari pengabdian kader justru terlihat dari perubahan yang terjadi pada keluarga yang mereka dampingi.


“Jangan-jangan yang disenangi teman-teman itu bukan hadiah seperti yang tadi diharapkan, bukan uang seperti yang tadi disebutkan, tetapi senyum dari bayi-bayi kecil kita, dari balita-balita kecil kita yang tadinya dalam kondisi kurang gizi tiba-tiba sudah sehat, bisa lari, bisa ngobrol, bisa ngomong, tumbuh besar menjadi anak yang kreatif, anak yang produktif, anak yang kritis,” ujarnya.


Ia menilai perubahan kondisi anak dan keluarga yang menjadi lebih sehat merupakan bentuk penghargaan yang jauh lebih bermakna bagi para kader.

Karena itu, pemerintah perlu terus memperkuat dukungan terhadap kader agar pelayanan berbasis masyarakat tersebut dapat berjalan semakin optimal.


Penghargaan kader Posyandu berprestasi diberikan setelah melalui proses penilaian secara berjenjang. Setiap kabupaten/kota mengirimkan satu kader terbaik untuk mengikuti seleksi yang dilanjutkan dengan wawancara, visitasi ke Posyandu masing-masing, hingga penilaian akhir oleh dewan juri.

Rina Hastuti dari Kabupaten Lombok Timur ditetapkan sebagai juara pertama dan akan mewakili NTB pada lomba kader Posyandu berprestasi tingkat nasional. Juara kedua diraih Ahmad Alrabani dari Kabupaten Bima, sedangkan juara ketiga diraih Salmiah dari Kota Mataram.


Tiga kader lainnya yang masuk enam besar adalah Andi Ida dari Kabupaten Sumbawa Barat, Karniwati dari Kabupaten Lombok Utara, dan Azmi Pratiwi dari Kabupaten Lombok Barat. (ham)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN











VIDEO