Mataram (Suara NTB) – Pemerintah Provinsi NTB menyiapkan langkah antisipasi untuk menahan potensi lonjakan inflasi menjelang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Salah satunya dengan menggelar pasar murah secara serentak di 10 kabupaten/kota untuk menjaga harga dan memastikan kebutuhan pokok tetap terjangkau masyarakat.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi NTB, H. Lalu Wiranata, mengatakan pasar murah menjadi bagian dari intervensi pemerintah menghadapi pola kenaikan permintaan masyarakat menjelang Maulid.
Menurutnya, momentum keagamaan biasanya diikuti peningkatan konsumsi yang berpotensi mendorong kenaikan harga sejumlah komoditas. Karena itu, pemerintah tidak ingin menunggu hingga terjadi lonjakan harga.
“Menjelang Maulid Nabi ini harga-harga pasti naik karena permintaan meningkat. Karena itu, kita mengingatkan masyarakat tidak perlu terlalu panik. Kita lakukan intervensi melalui pasar murah,” kata Wiranata.
Pasar murah serentak dipusatkan di Desa Tambe, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, dibuka langsung oleh Wakil Gubernur NTB, Hj. Indah Damayanti Putri (IDP), bersamaan dengan pemantauan harga di Pasar Seketeng, Jumat, 21 Agustus 2026. Sementara pelaksanaan di kabupaten/kota lainnya, juga dipantau secara daring.
Wiranata mengatakan, kegiatan Pasar Murah melibatkan berbagai pihak, mulai dari Bulog, Pertamina Patra Niaga, hingga jaringan ritel modern. Kolaborasi ini diarahkan untuk memperkuat pasokan sekaligus memberikan pilihan harga yang lebih murah bagi masyarakat.
Bulog misalnya, menyediakan sejumlah kebutuhan pangan, termasuk beras dan minyak goreng. Dengan ketersediaan kebutuhan yang disiapkan Bulog sangat melimpah. Bahkan beras sendiri, tersedia hingga dua tahun ke depan.
Pertamina Patra Niaga juga turut mendukung melalui penyediaan LPG 3 kilogram. Dalam kegiatan pasar murah, LPG subsidi tersebut dijual sekitar Rp18 ribu, jauh lebih rendah dibanding harga yang biasa ditemukan masyarakat di lapangan.
“Biasanya di atas Rp50 ribu, pada saat pasar murah dijual Rp18 ribu. Jauh sekali. Alhamdulillah masyarakat senang. Itu bentuk kolaborasi yang kita laksanakan bersama,” ujarnya.
Wiranata menjelaskan, secara umum harga bahan pokok dan barang kebutuhan penting di NTB masih dalam batas terkendali. Namun, beberapa komoditas mulai mengalami kenaikan, terutama kelompok bumbu dapur seperti cabai.
Kenaikan tersebut lebih banyak dipicu meningkatnya permintaan yang belum sepenuhnya dapat diimbangi dengan penambahan pasokan dalam waktu cepat.
“Kalau bahan pokok dan barang kebutuhan penting masih terkendali. Yang mulai naik itu komoditas kecil-kecil, seperti cabai,” katanya.
Kondisi ini menjadi alasan pemerintah memperkuat intervensi melalui pasar murah. Dengan menyediakan barang kebutuhan dengan harga lebih terjangkau, pemerintah berharap tekanan harga menjelang Maulid dapat diredam sebelum berkembang menjadi lonjakan yang lebih besar.
Ia menegaskan pengendalian harga menjelang Maulid membutuhkan kolaborasi lintas pihak. Pemerintah tidak hanya mengandalkan operasi pasar, tetapi juga memastikan distributor dan pelaku usaha tetap menjaga kelancaran pasokan.
Wiranata mengimbau masyarakat tidak melakukan pembelian secara berlebihan karena pemerintah terus melakukan pemantauan dan intervensi.
“Tidak perlu terlalu panik. Kita terus memastikan ketersediaan dan melakukan intervensi agar harga tetap terkendali,” pungkasnya. (bul)


